Selasa, 12 Oktober 2010

Konsep Novel SETAN SUMIATI

SETANG
SUMIATI
(HANTU OKKOTS DARI ANCOL)
VERSI KOMEDI

Karya:
La Dawan Piazza



DAFTAR ISI
BAB I                  Kampung Sumiati
BAB II                Merantau ke Kota Makassar
BAB III               Diperkosa oleh Preman
BAB IV               Gentayangan jadi Setan Sumiati
BAB V                  
BAB VI    
BAB VII
BAB VIII
BAB IX
BAB X
BAB XI
BAB XII
BAB XII






Tokoh dalam Cerita
Sumiati                       = Tokoh Utama
La Beddu                    = Bapak Sumiati
Indo Sitti                     = Ibu Sumiati
La Bolong                   = Tetangga Sumiati yang lagi naksir
La Madong                = Teman La Bolong
La Bora cs                  = Musuh La Bolong
La Wandi                   = Teman La Bora
La Takko                   = Teman La Bora
La Culli                      = Teman La Bora
Pelaku pemerkosaan di Terminal
La Baco                      = Sopir angkutan antar kota Makassar-Pinrang
Daeng Sangkala         = Tukang Ojek Terminal Daya
Parroda                      = Tukang Becak Daya
Andi Mude                 = Tukang parkir terminal Daya
Daeng Gassing           = Preman terminal Daya
Ambo Sakka              = Preman terminal Daya
La Sinaga                   = Preman terminal Daya
BAB I
Kampung Sumiati
Di suatu desa didaerah pinggiran kota Pinrang, atau lebih dikenal dengan sebutan ANCOL (Alle Calimpo) yang mirip dengan nama suatu tempat di Jakarta Utara, hidup seorang gadis yang berparas ayu, bertubuh sintal dan molek bernama Sumiati. Ia tinggal bersama kedua orang tuanya di rumah panggung sederhana yang kayunya sudah mulai lapuk karena dimakan usia, Sumiati anak dari pasangan buruh tani yang sangat miskin, sebut saja La Beddu (Bapak) dan Indo Sitti (Ibu).
Konon saking cantiknya Sumiati sering jadi incaran dan rebutan pemuda-pemuda desa demi untuk mendapatkan cinta sejatinya, karena di desa memang dialah satunya-satunya gadis cantik (kembang desa) di Alle Calimpo sehingga sering menimbulkan persaingan yang tidak sehat diantara para pemuda desa tsb, termasuk La Bolong teman sekolah Sumiati (Dipanggil La Bolong karena warna kulitnya yang hitam keling (Mabolong) yang sudah lama naksir Sumiati sejak SD. La Bolong sering berantem dengan pemuda desa yg lain demi mendapatkan cinta Sumiati tapi Sumi tidak pernah menanggapi secara serius keinginan para pemuda desa tersebut karena fokus dengan pekerjaan membantu ibunya berjualan kue.
La Bolong juga mempunyai sahabat baik yang selalu jalan bareng ditempat tongkrongannya di Pos Ronda yaitu La Madong, Ia juga yang selalu memberi semangat kepada La Bolong untuk mendapatkan cinta Sumiati karena La Bolong itu terkenal sebagai cowok yang sangat pemalu kepada lawan jenisnya. Tapi selain punya teman ternyata La Bolong juga punya saingan (musuh) yang sering menganggu (jahil) kepada La bolong dan teman-temanya disaat mereka mendekati Sumiati, mereka adalah La Bora dengan 3 orang temannya (La Wandi, La Takko, La Culli) termasuk remaja yang nakal dikampungnya yang berlagak seperti preman kampong.
Di Pos Ronda La Madong duduk termenung memikirkan Sumiati
“Bolong, kenapako malamung pada to belengnge” (“Bolong, ngapain kamu bengong aja kayak orang bloon!!”) kata La Madong kepada La Bolong yang lagi nongkrong di Pos Ronda.
“Tidak malamunji Madong, madaccingji “, canda La Bolong berusaha menghibur diri
(Ket: Malamung dan maddaccing artinya sama yaitu dangkal untuk ukuran ketinggian air sungai/laut)
“Tapi aku lagi mikirin si Sumi, Madong! Apakah dia mau terima aku ya, jadi pacarnya?”, lanjut La Bolong pesimis.
“Kamu harus berusaha, dong mendapatkan cintanya si Sumi! Langsung aja kamu bilangin perasaanmu!”, kata La Madong memberi semangat.
“Aku malu Madong! Aku takut si Sumi menolak cintaku karena kulitku ini mabolong sekali (Hitam Sekali) sedangkan si Sumi kulitnya mapute (Putih), aku juga malu diledekin teman-teman kalau nanti aku jalan bareng si Sumi, mereka pasti bilang Bolong dan Sumiati bagaikan kue Katirisala (Kue Tradisional Bugis yg mirip kue lapis, bagian bawahnya terbuat dari beras ketan putih dan diatasnya terbuat dari gula merah/aren campur telur yg sudah mengental)
******
Tapi suatu malam La Bolong lagi nongkrong bareng teman-temanya di Pos Ronda termasuk La Madong sambil bermain domino (gaple) dan tiba-tiba Sumiati bareng teman-teman ceweknya baru pulang dari pengajian disalah satu mesjid dan melintas didepan tempat tongkrongan La Bolong.
“Waww, ada bidadari-bidadari cantik nih baru turun dari kayangan! Mau kemana cewek?”, teriak salah satu teman La Bolong
“Mau pulang kerumah, daeng?”, jawab salah satu teman cewek Sumiati
“Memangnya kalian darimana?”, sambar La Madong
“Apa kamu tidak lihat apa? Kami ini darimana bawa-bawa Quran, pasti baru pulang dari pengajian lah?’, jawab Sumiati
“Gadis-gadis yang solihin! Eh.. Okkotsmi sedeng Soleha! Itu termasuk salah satu type cewek yang disukai La Bolong, loh?”, kata La Madong.
“Ah, sembarang tong kauwwe!” (“Ah, sembarang juga kau!”), sambar La Bolong sambil tersipu-sipu malu
“Memangnya siapa diantara kami yang disukai La Bolong?”, tanya salah satu teman Sumiati.
“Siapa lagi kalau bukan Sumiati!”, kata La Madong
“Apa aku tidak salah dengar?”, jawab Sumiati malu-malu
“Tidak!”, kata La madong.
“Ah, bohongji itu nabilang La Madong!” (“Ah, tidak benar apa yg dikatakan La Madong !”), sambar La Bolong sambil menginjak kaki La Madong karena merasa malu dengan teman-teman Sumiati
“Aauww!”, teriak La Madong karena kakinya keinjak
“Ada Apa Madong?”, Tanya Sumiati
“Ah, tidak apa-apaji! Biasa La Madong kalau lihat cewek cantik suka teriak sendiri!”, jawab La Bolong langsung menjawab pertanyaan sumiati
“Kirain ada apa! Kalau begitu kami pulang dulu ya, nanti aku dicari oleh orang tuaku!”, jawab Sumiati.
“Da..da Bolong, Da..da Madong, Da..da semuanya!”, kata Sumiati melambaikan tangan sembari pergi meninggalkan La Bolong cs, di Pos Ronda.
****
Tapi tampak dari kejauhan La Bora bareng tiga orang temannya lagi ngumpet diantara pepohonan sedang melihat La Bolong dan temannya berbincang-bincang dengan Sumiati, (La Bora merupakan musuh bebuyutan dalam memperebutkan Sumiati)
“Brengsek, kenapa Sumiati itu mau saja diajak ngobrol sama La Bolong cs!”, kata La Bora
“Bagaimana kalau kita hajar saja La Bolong?”, jawab teman La Bora
“Jangan dulu! Kita tunggu Sumiati dan teman-temannya pergi dulu, aku tidak enak sama dia!’, kata La Bora
“Baiklah kalau begitu!”, jawab teman La Bora
Setelah melihat Sumiati dan teman-temanya pergi meninggalkan La Bolong cs di Pos Ronnda La Bora dan teman-temannya datang menghampiri La Bolong cs.
“Wha…wah…wah sudah berani-beraninya kau dekatin Sumiati Bolong?”, jawab La Bora sambil berkacak pinggang.
“Mau kalian apa sih!”, tantang La Bolong.
“Dia sudah berani bilang kita mau apa!’”, kata La Bora sambil menoleh keteman-temanya seolah-olah meremehkan La Bolong, cs
“Saya harap kamu jangan dekati Sumiati lagi! Sumiati itu milik saya tidak ada yang boleh mendekatinya selain aku?”, bentak La Bora
“Memangnya kamu apannya Sumiati, dibilang pacar bukan, dibilang suami juga bukan! Itu hak kami dong mau dekat dengan siapa saja!”, tantang La Madong yang tidak senang temannya dibentak
“Apaaa! Kalian sudah berani menantang kami ya!”, jawab La Bora berlagak sok jagoan
“Hajar teman-teman!!’, kata La Bora pada teman-temanya
“Hajaaaaaarr”, teriak salah satu teman La Bora
Maka perkelahian pun tak terelakkan dan kedua belah pihak mukanya pada benjol-benjol dan memar, ditengah keributan diantara dua kelompok pemuda tiba-tiba berdatanganlah warga yang mendengar adanya keributan.
“Ada apa ini, ribut-ribut!”, kata salah satu warga
“Ini Pak! La Bora yang memulai keributan duluan!”, kata La Bolong meringis kesakitan
“Bukan aku , Pak!”, kata La Bora berusaha mengelak
“Ah, bohong kamu yang memulai memukul kami duluan, kok!”, kata salah satu teman La Bolong
“Apa masalah kalian sebenarnya!”, tanya warga
“Hanya ada kesalahpahaman sedikit, Pak! Ini menyangkut masalah perempuan, Pak!”, kata La Madong
“Alaah… kalian itu hanya gara-gara perempuan saja kalian mesti berantem, kalian itu sudah dewasa! Hayo, Hayo kalian bubar saja dan jangan pernah berantem lagi dikampung ini!”, kata salah satu tokoh masyarakat
Akhirnya keributan pun berhasil dilerai oleh warga dan kedua kelompok pemuda tersebut bergegas pulang kerumahnya masing-masing.
**********
Sumiati sehari-harinya membantu ibunya membuat kue khas Bugis (Putu Bugis=Terbuat dari beras ketan hitam, dicampur parutan kelapa kemudian dicocol dengan sambal dari campuran cabe dan ampas minyak kelapa yg ditumis (Sambala Tai Boka)) dan Roti Bugis =Terbuat dari tepung beras pulut dicampur pisang yg dihaluskan jadi satu kemudian digoreng diatas wajan dengan sedikit minyak lalu ditutup agar adonan mengembang) untuk dijajakan dibawah kolong rumah panggungnya yg sudah reyot, yang sekali injak bisa jebol papannya. Kue Putu buatan Sumiati sangat digemari warga desa dan sekitarnya sehingga pembelinya kadang-kadang antri mulai pukul 06.00 sampai jam 08.00 pagi, pelanggannya kebanyakan pedagang yg berjualan dipasar tradisional di Pasar Sentral Pinrang dan Pedagang yang berjualan diluar kota Pinrang sebagai bekal sarapan pagi, terkadang pelanggan memesan duluan mulai pukul 5.30 untuk menghindari antrian panjang pembeli. Pembeli yang berjubel ini menambah pundi-pundi ekonomi keluarga Sumiati yang hanya berprofesi sebagai petani penggarap sawah orang lain dengan upah 30 % dari hasil tiap petak sawah yang digarap.
Di tengah antrian pembeli putu, akhirnya tibalah giliran La Bolong membeli putu yang sejak hari kemarin kepengen beli tapi selalu kehabisan putu.
“Beli Berapa, Bolong?”, Tanya Sumiati
“Beli empat bungkus saja!”, jawab La Bolong
Sumiati pun melayani pesanan La Bolong sebanyak empat bungkus, sambil di bungkus La Bolong pun mencicipi kue Putu buatan Sumiati seraya berkata:
“Sumi, lunranna putummu iye riyanre agaro rahasiana andi?!” (Sumi, enak sekali kue putu kamu dimakan apa rahasiannya, dik!” tanya La Bolong yg sudah lama naksir dengan Sumiati.
”Degaga rahasiana daeng tapi naulle iye putue malunra tanre nasabak macanti pabballunna!” Tidak ada rahasiannya bang, tapi mungkin kue putu ini enak abang makan karena penjualnya cantik kali” Kata Sumiati.
Naulle makkoniro kapang andi?” (Mungkin begitulah, dik?)” Jawab La Bolong sambil tesipu-sipu malu.
“Bolong, sebenarnya kamu mau beli putu atau mau ngegodain saya, sih?” Tanya Sumiati.
“Aaaah…dua-duanya, ndik! Karena sebenarnya aku…aku sudah lama………..!” Jawab La Bolong yang terbatah-batah karena malu dan grogi.
“Sudah lama gimana?” tanya Sumiati penasaran.
“Anu…Anu…!Aku sudah lama….!! Sudah lama mau makan putu buatan kamu tapi selalu kehabisan! Baru kali ini saya dapatt makan putu kamu!”, Jawab La Bolong sambil garuk-garuk kepala
Ah, Bolong kirain mau bilang apa!”, Bikin penasaran Sumi aja?”,
Waktu itu sudah menunjukkan pukul 08.00 dan sudah saatnya Sumiati menutup dagangannya untuk membantu ayahnya merawat tanaman singkong, jagung dan pisang dikebun belakang rumah. Hanpir tiap hari Sumiati menyiram dan merawat tanamannya pagi dan sore hari demi untuk kebutuhan ekonomi keluarganya, kalau tiba saatnya panen hasil kebun tadi biasanya dijual ke Pasar Traditional di Pasar Sentral Pinrang (Buka setiap hari) dan Pasar Marawi setiap hari Senin. Karena kemiskinan yang dialami keluarganya mengakibatkan Sumiati tidak mampu melanjutkan pendidikannya ke tingkat SMU, setamat SMP dia bekerja keras pantang menyerah (Resopa Temmangingngi) untuk mebantu perekonomian keluarganya dengan membuat kemudian menjajakan kue Putu dan Roti Bugis.
Tapi setelah sekian lama berjualan kue Sumiati merasa jenuh dan bosan juga dengan pekerjaannya dan perlu untuk memiliki usaha yang lebih baik dari berjualan kue, akhirnya ia meminta restu dari kedua orang tuanya untuk membuka usaha lain yaitu berdagang sebagaimana jiwa orang bugis yang sudah mendarahdaging sejak kecil secara turun temurun.
“Ambo! Indo! Meloka dangkang lipa sabbe sibawa baju anana mangkunrai nappa kubaluki malleleang riwanua laingnge!!” (Bapak! Ibu! Saya mau dagang sarung sutra dan baju anak-anak perempuan kemudian aku jual keliling di daerah/kota lain!!”) kata Sumiati kepada kedua orang tuanya mengungkapkan keinginannya berdagang ke luar kota.
“Yako meloki dangkang ana, engka moga modala mupasora pole wassele balu-baluken putue?” (“Kalau kamu berdagang nak, apakah kamu masih menyimpan modal dari hasil berjualan putu?”), jawab Ibunda Sumiati.
“Engkamo utaro Indo, tapi detto namega paling engkana kapan tellu juta upasoro sipungenna lima taun mabbalu putu!” (“Masih ada yg aku tabung bu, tapi tidak terlalu banyak paling sudah ada tiga juta aku tabung selama lima tahun jualan putu!”), kata Sumiati.
“Yako murasa genneni duimu mupake dangkang pigaunni iyae akkattamu!” (“Kalau kamu yakin uangmu suduh cukup kamu gunakan berdagang, lakukan apa yang kamu cita-citakan!”, kata Bapak Sumiati.
“Iye, Ambo jadi mappamula baja sangadie meloka lao ri kota Sengkang melli lipa sabbe nappa lao balu ri Juppandang!” (Iya, Pak jadi mulai besok lusa saya mau pergi ke kota Sengkang beli sarung Sutra kemudian aku jual ke kota Ujung Pandang (Makassar).
Desas-desus bahwa Sumiati akan pergi dari desanya akhirnya terdengar juga oleh La Bolong sehingga membuat dirinya merasa sedih dan kepengen utuk mengungkapkan isi hatinya kepada Sumiati yang telah lama dia pendam. Kemudian La Bolong memberanikan diri ke rumah Sumiati sore harinya untuk memastikan berita tsb.
Tok…Tok…Tok terdengar ketukan pintu di rumah Sumiati!! “Assalamu Alaikum!!!” teriak La Bolong minta dibukain pintu.
“Waalaikumusallam!!” jawab seseorang dari dalam rumah.
Pintu rumah pun terrbuka “Oh, kamu Bolong ada keperluan apa!” tanya Indo Sitti yang membukakan pintu.
“Sumiati, ada bu!!”, jawab La Bolong.
”Ada! Suminya ada dikebun belakang, lagi bantuin bapaknya menyiram tanaman”, jawab Ibunya Sumi.
“Memang ada keperluan apa kamu mencari Sumi?”, lanjutnya penasaran.
“Ah, nggak ada keperluan apa-apa cuma kepengen berpamitan karena denger-denger dia mau keluar kota berdagang dan meninggalkan desa Alle Calimpo ini!”, kata La Bolong.
“Oya, bener kamu denger informasi darimana?”, Tanya Indo Sitti.
“Tahu dari warga desa yang biasa beli putu disini, katanya Sumiati sendiri yg bilang sama teman-temannya!”, jawab La Bolong.
“Ah, dasar I Sumi belum mau berangkat juga udah digembar-gemborkan ke warga desa!”, kata Indo Sitti yg menyesali bocornya informasi tentang keberangkatan Sumiati ke Kota Makassar.
“Baiklah kalau begitu kamu temuin sendiri Suminya di kebun belakang rumah?” kata Indo Sitti mengizinkan La Bolong bertemu dengan anak gadis satu-satunya.
“Makasih Bu, telah mengizinkan saya bertemu Sumi!”, jawab La Bolong senang. “sama-sama!”, jawabnya singkat.
Kemudian La Bolong menuju ke kebun belakang rumah untuk bertemu Sumiati. “Eh, Bolong!!”, kata Sumiati yang kaget saat melihat La Bolong.
“Ada angin apa kamu datang kesini?”, Tanya Sumiati terheren-heran.
“Anu, enggak ada apa-apa!”, jawab La Bolong gugup.
“Saya datang kesini karena denger-denger kamu mau merantau ke Kota Makassar dan meninggalkan desa ini?”, kata La Bolong.
“Iya bener tapi ngomong-ngomong kamu tahu darimana informasi ini?”, Tanya Sumiati lagi.
“Dari anak-anak di Pos Ronda!!”, dibilangin oleh Susi temen kamu!”, jawab La Bolong. “Oya bener, tapi apa hubungannya dengan kamu?”, kata Sumiati.
“Begini, kalau kamu pergi dari desa ini berarti aku bakal kehilangan teman baik seperti kamu yang enak diajak ngobrol sambil makan putu dan aku bakal kesepian deh nantinya?”, kata La Bolong sudah mulai berani curhat.
“Tapi kan kamu masih punya teman dan sahabat-sahabat yang lain yg bisa kamu ajak ngobrol dan curhat!”, jawab Sumiati.
“Tapi kamu beda Sumi, sebenarnya perasaan saya ini sudah saya pendam bertahun-tahun sejak kita sekolah di SD?”, kata La Bolong.
“Perasaan apa Bolong aku mau tahu juga dong?”, Tanya Sumiati penasaran.
“Perasaan bahwa aku..aku…aku sangat mencintai kamu dan apakah kamu masih kembali ke desa ini untuk menemui aku serta bersedia menjadi pacarku?”, kata La Bolong mengungkapkan perasaannya.
“Ya, Iyyyalah masa iyya-iyya dong?”, kata Sumiati bercanda.
“Kamu lama nggak di Makassar?”, kata La Bolong lagi.
“Ya, lamalaaah… masa lamaa- Lamadong!”, canda Sumiati.
“La Madong khan sahabat aku kok namanya disebut-sebut sih! Yang serius, dongI jawabnya!”, kata La Bolong.
“Emang kamu serius sama aku?”, jawab Sumiati mulai serius.
“Iya, sudah sekian lama kupendam perasaanku ini dan kuharap kamu mengerti perasaanku, aku juga besedia nungguin kamu pulang dari kota!”, kata La Bolong.
“Aku menerima kamu kok jadi pacarku karena perasaan ini juga sudah lama kupendam, aku sudah lama menunggu pernyataan cinta kamu tapi kamu tidak pernah berani serius mengungkapkannya padaku!”, jawab Sumiati yang menerima cinta La Bolong.
“Aku malu, aku juga takut kamu menolak cintaku karena kulitku yang berwarna hitam ini (Mabolong)!”, jawab La Bolong sambil memeluk erat-erat Sumiati.
“Aku tidak menilai laki-laki dari warna kulitnya tapi aku nilai dari kesetiaannya kepada wanita!, Apakah kamu setia sama aku, Bolong?” kata Sumiati memeluk erat La Bolong sambil menangis tersedu-sedu.
“Aku berjanji aku akan setia menemani kamu sehidup semati!”, janji La Bolong sama Sumiati sambil mengecup keningnya.
Dan inilah perpisahan yang terasa berat dirasakan oleh La Bolong dan Sumiati karena baru saja jadian, besoknya sudah akan berpisah lagi karena mulai besok Sumiati sudah mulai berbisnis ke kota Makassar.
BAB II
Merantau ke Kota Makassar
Dan keesokan harinya berangkatlah Sumiati ditemani oleh kedua orang tuanya dan La Bolong yg datang untuk mengantar kepergian Sumiati ke kota Sengkang sambil menunggu angkot di Jl. Poros Pinrang – Rappang menuju kota Pangkajene, Sidrap, untuk menuju kota Sengkang, Wajo harus naik angkot (pete-pete) 2 kali nyambung dari Pinrang ke Pangkajene kemudian pindah angkot(pete-pete) menuju kota Sengkang, Kab. Wajo.
Setelah Sumiati sudah naik angkot menuju Sidrap tak lupa dia berpamitan kepada kedua orang tuannya kemudian berpamitan sama La Bolong sambil berpelukan seakan-akan dia akan pergi merantau ke daerah lain diluar Sulawesi. Satu jam kemudian sampailah angkot yang ditumpangi Sumiati ke Terminal kota Pangkajene, Kab, Sidrap.
Sumiati pun turun dari angkot dan terrdengar teriakan “Sengkaaang!! Sengkaaang!!”, teriak kenek angkot arah kota Sengkang.
Sumiati pun bergegas menuju ke angkot yang mau berangkat cepat tanpa kelamaan ngetem di terminal cari penumpang. Maka berangkatlah angkot yg ditumpangi Sumiati menuju kota Sengkang, Kab. Wajo , sesampainya disana dia pun langsung menuju toko yang bermerek “TOKO LSS singkatan dari (LIPA SABBE SENGKANG)” yang khusus menjual Sarung Sutra khas kota Sengkang dan membeli 2 lusin Sarung dengan harga perbuahnya Rp. 130.000 setelah puas membeli Sumiati pun langsung menuju Terminal kota Sengkang mencari mobil Panther Angkutan antar kota jurusan Sengkang – Makassar untuk menjual sarung yg sdh dibeli tadi.
Sesampainya di kota Makassar Sumiati pun langsung mencari tempat kos-kosan murah di belakang Terminal Daya, setelah ketemu tempat kos-kosan keesokan harinya Sumiati pergi berbelanja beberapa Stell baju anak-anak sebagai pelengkap dagangannya.
Dan setelah Sumiati terjun ke bisnis ini dia pun layak disebut Padangkang “Pedagang” yang hidupnya nomaden, Pedagang yang hidupnya berpindah-pindah dari kompleks Perumahaan ke Kompleks Perumahaan lain, dari Kota ke Kota yang lain demi untuk menjual dagangannya door to door ke rumah warga. Profesi ini dijalani Sumiati selama lima tahun lamanya
Tapi terkadang juga ada warga ada yang tidak senang jikalau kedatangan sales promo ke rumahnya terurtama yang dialami Sumiati kletika berkunjung ke rumah Pengusaha kaya yg terkenal pelit Naudzubillahi min zalik di Perumahan elit Makassar, bernama H. Toni, dia pun tidak segan-segan mengusir dan membentak dengan kasar kalau ada yg datang meminta sumbangan atau sales ke rumahnya.
Tok…Tok…Tok!! “Assalamu Alaikum!!!”, teriak Sumiati sambil gedor-gedor pintu rumah H.Toni.
”Walaikuimmussalam!!”, jawab seorang pria dari balik pintu.
Sambil membukakan pintu pria yg bernama H. Toni keluar.
“Ada keperluan apa datang kesini!!”, kata H.Toni sambil memandang tamu yang belum dikenalnya.
“Begini pak Haji, saya mau nawarin dagangan saya berupa Sarung Sutra sama pakaian anak kecil, siapa tahu Pak Haji mau beliin buat anaknya!!”, kata Sumiati nawarin dagangannya.
“Saya nggak mau beli barang murahan dan jadul seperti itu, pergi kau dari sini aku nggak punya uang untuk beli barang seperti itu.!!”, bentak H.Toni.
”Tapi sarung ini pas loh buat Pak Haji dipakai buat pesta kawinan!!”, goda Sumiati lagi.
“Apalagi harganya murah-murah loh satu buahnya cuma seratus empat puluh lima ribu perak,Pak!!”,lanjut Sumiati.
“Sudah kubilang aku nggak mau pakai barang murahan seperti itu, biasanya kalau ke kawinan saya pakainya Jas dan Kemeja mahal buatan Italia yang harganya sekitar tiga jutaan gitu loh!”, jawab H.Toni menyombongkan diri.
“Bukankah kalau ada kawinan biasanya orang pakai sarung ini untuk melestarikan budaya Bugis Makassar?”, kata Sumiati.
“Alamak….itu mah kuno jaman sekarang kita cari acara yang nggak bikin ribet aja urusannya, biasanya aku juga baru mau datang ke pesta kawinan kalau diadakan di Hotel berbintang Lima, nggak mau datang kalau cuma pakai Sarapo (Tenda besi yg dipasang didepan rumah pengantin)!!”, kata H. Toni.
Tapi karena Sumiati belum mau pergi-pergi juga maka H. Toni naik pitam dan meyeret secara paksa Sumiati keluar dari rumahnya.
“Saya sudah bilang dari tadi aku nggak mau beli, lebih baik kau pergi dari sini!!”, bentak H.Toni.
“Ampun…Ampun..Pak Haji aku akan pergi tapi lepasin dulu dong pegangannya!”, pinta Sumiati sambil meringis kesakitan karena dipegang kuat-kuat oleh H. Toni
Sesampainya digerbang depan rumah lalu H. Toni membentak “Jangan sekali-kali kamu dating lagi kerumahku dengan barang murahan kamu itu!!”.
Setelah memperingatkan Sumiati agar nggak balik lagi H.Toni pun masuk kembali ke rumahnya kemudian Sumiati menggerutu sambil berlalu
” Uhhh….dasar orang kaya pelit tak’ sumpahin miskin luh!!
Setelah seharian berkeliling cari pembeli Sumiati pun merasa lelah dan kecapaian serta belum dapat seorang pembeli, ia pun memutuskan untuk melepas penat dibawah pohon beringin di Taman yg ada di kompleks perumahan tersebut. Belum sampai ke Taman tiba-tiba ada suara yang memanggilnya,
“Haii adik, jual apaan tuh!!”, teriak suara ibu-ibu dari sebuah rumah.
“Jual sarung dan pakaian anak-anak”, jawab Sumiati.
“Coba saya lihat!:, kata ibu tadi sambil memilah-milih barang.
“Yang ini harganya berapa?”, lanjut ibu tadi sambil memilih sebuah sarung dan baju anak yg dia sukai.
“Kalau sarung ini harganya hanya seratus empat puluh lima ribu perak satu buah tapi kalau baju anak-anak ini harganya empat puluh lima ribu perak!’, kata Sumiati.
“Mahal amat, harganya bisa kurang nggak?”, tawar ibu itu.
“Bisa bu yang penting belinya banyak soalnya modalnya beda tipis dengan harganya loh, bu!!’, katanya.
“Gimana kalau sarung ini harganya satu seratus empat puluh tiga ribu karena aku mau ambil dua”, kata ibu.
“Boleh!!”, jawab Sumiati.
“Sedangkan baju anak-anak ini harganya delapan puluh ribu perak ya dua buah”, lanjut ibu tadi.
“Boleh!! Apalagi ibu pembeli pertama saya jadi kasih buat ibu saja walaupun untungnya nggak seberapa!”, jawab Sumiati senang karena dagangannya laku.
Sambil memberi uang pas ibu tadi mengucapkan “Terima Kasih ya, Nak!”.
“Sama-sama”, jawab Sumiati sambil menciumi uang ibu tadi sebagai tanda pembeli pertama.
Setelah hari mulai gelap Sumiati pun berniat pulang ke tempat kost-kost-annya di Daya setelah seharian berkeliling di pusat kota Makassar, ia memutuskan berjalan kaki dari pusat kota ketempat kosnya yg jaraknya 10 km untuk menghemat biaya hidup di Makassar dan menempuh waktu 2 jam untuk sampai ke Daya
BAB III
Di Perkosa Preman
Ketika malam harinya Sumiati sudah sampai ke Daya dan waktu menunjukkan pukul sebelas malam, ia pun memutuskan utuk pulang ke tempat kosnya melintasi Terminal Daya sebab untuk mempersingkat perjalanan ke tempa kostnya, ia melewati bagian dalam terminal karena kost-kost-annya pas di samping belakang terminal Daya yang dihuni banyak pekerja buruh pabrik, tukang jamu dan warga dari kalangan bawah karena bnioaya kostnya terkenal murah hanya sekitar tiga ratus ribu perak setahun.
Karena suasana terminal yang sepi dan gelap dimalam hari, serta sebagai tempat menginap bagi beberapa Sopir Panther angkutan antar kota yg berangkat malam dan nggak punya rumah di Makassar, mereka tinggal sementara sampai menunggu pagi untuk mencari penumpang ke daerah. Terminal dimalam hari juga sebagai tempat nongkrong segerombolan preman yg sering malakin orang lewat. Kebetulan malam itu lagi ada pesta miras yg dilakukan oleh tujuh pemuda yaitu, La Baco (Sopir angkutan antar kota Jurusan Makassar-Pinrang), Daeng Sangkala (Tukang Ojek Terminal Daya), Parroda (Tukang Becak Daya), Andi Mude (Tukang parkir terminal Daya), Daeng Gassing, Ambo Sakka, La Sinaga (Preman terminal Daya), mereka berpesta sambil main gaple dan terkejut ketika tiba-tiba melintas cewek cantik bertubuh sintal dan bahenol melintas sendiri dalam terminal yakni Sumiati.
“Ini kesempatan emas buat ngelengkapi pesta miras dengan pesta seks”, begitulah pikiran ke tujuh pemuda saat itu yg sudah terpengaruh alkohol. Ke tujuh pemuda itu pun beranjak dari duduknya saling memandangi satu sama lain kemudian mengepung Sumiati.
“Apa-apaan ini!”, terriak Sumiati.
“Waww…ada gadis bahenol, montok dan seksi!”, ucap La Sinaga.
“Kita bakalan pesta besar nih!’, kata La Baco meneteskan air liur.
“Enaknya kita apaain cewek ini!’, kata Ambo Sakka,
“Kita telanjangi aja!”, teriak Daeng Gassing.
Mendengar ucapan pemuda tadi Sumiati pun berusaha melarikan diri “Jangan…jangan perkosa saya daeng…Toloooongg….Tolooooonng!!” teriak Sumiati minta tolong.
Jeritan minta tolong Sumiati membuat ke tujuh pemuda tersebut langsung membekap mulut dan mengikat kedua tangannya, pesta pun dimulai satu persatu busana Sumiati ditanggalkan dalam sekejap satu persatu pemuda tersebut meniduri tubuh Sumiati yang nyaris tanpa busana.
“Ampun…..daeng….ampun daeng jangan perkosa saya!!”, teriak Sumiati sambil meronta-ronta ketika pemuda pertama mulai meniduri.
“Jangan berisik atau kubunuh kau!!”, ancam pemuda tadi. Sumiati pun terdiam dan terkulai mendengar ancaman pemuda tsb.
Tapi Sumiati tidak mengenali wajah setiap pemuda yang memperkosanya karena suasananya malam itu gelap tapi Sumiati hanya mengenali warna kaos oblong yang berwarna kuning dipakai Daeng Gassing salah satu pelaku pemerkosaan. Setelah menikmati tubuh Sumiati ke tujuh pemuda tersebut bingung mau dibawa kemana Sumiati karena khawatir kalau ditinggalkan begitu saja di Terminal gadis itu bakalan lari dan melaporkan ke Polisi karena jarak kantor Polisi hanya beberapa meter saja dari Terminal.
“Kenapa kalian memperkosa aku, kalian tidak tahu bahwa aku tinggal disamping Terminal ini dan aku akan laporkan kalian semua ke Kantor polisi!!”, ancam Sumiati kepada pemuda yg memperkosanya.
Mendengar pengakuan Sumiati bahwa mereka tinggal dekat sini, pemuda-pemuda tersebut panik karena takut dikeroyok warga kalau perbuatannya ketahuan.
La Baco yg berprofesi sebagai sopir mengusulkan “Gimana kalau kita bawa saja keluar kota dan kita buang dijalan”.
“Baik kita bawa saja, lalu kita beresenang-senang lagi dengan kemolekan tubuh gadis ini!”, kata Ambo Sakka.
“Tapi kalian ikut aku semua, karena kita semua ikut bertanggung jawab” kata La Baco,
“Tapi bagaimana dengan sepeda motorku, saya nitip dimana kalau saya ikutan!” kata Daeng Sangkala sang tukang ojek.
“Becakku juga saya taruh dimana!” sambung Parroda.
“Titip dirumahku saja kebetulan rumahku juga dekat sini, kok!” usul Andi Mude tukang parkir terminal.
Setelah motor dan becak dititipkan dirumah A. Mude mereka pun berangkat ke luar kota untuk membuang Sumiati
“Kalian mau bawa kemana aku, aku tidak mau ikut..lepakan aku…lepaskan aku!!”, teriak Sumiati yg diseret paksa masuk mobil dengan tangan terikat dean mata tertutup.
“Kamu masuk mobil saja nggak usah banyak bacok kau!”, ancam La baco.
Ketujuh pemuda tersebut lalu menaiki mobil La Baco dan menaruh Sumiati di job tengah mobildengan dikawal tiga pemuda sedangkan dua pemuda lain duduk di job belakang dan dua orang didepan termasuk sopir.
“Kita mau kemana ini?”, Tanya La Sinaga bingung.
“Kita bawa ke Pinrang saja kebetulan aku mau pulang kerumah, dan kita masih bisa bersenang-senang lagi!”, kata La Baco yg merasa belum puas menikmati tubuh Sumiati. “Oke lah kalau begitu!”, jawab Andi Mude senang.
Tapi dalam hati Sumiati justru merasa senang mau dibawa ke Pinrang berarti dia bakalan pulang kampung karena sudah lima tahun belum pernah pulang ke desanya di ANCOL (Alle Calimpo), sesampainya di Pinrang nanti dia bakal minta tolong agar ditolong oleh warga yang melintas begitulah harapan Sumiati saat itu.
Waktu sudah menunjukkan pukul dua dini hari dan mobil yang dikendarai pemuda-pemuda bejat tadi sudah memasuki gerbang kota Pinrang. “Kita sudah masuk kota Pinrang nih!”, kata La Baco kepada teman-temannya yg lagi ketiduran.
“Ah, kita sudah sampai”, kata Daeng Gassing terbangun dari tidurnya.
“Iya sudah sampai kota Pinrang!”, lanjut La Baco.
Sumiati pun ikut terbangun karena mendengar bahwa mereka sudah sampai di kota kelahirannya tapi tiba-tiba Sumiati berteriak “TOLOOONG…..TOOLOOOONG AKU!!….AKU LAGI DICULIIIK!!”.
Mendengar teriakan Sumiati, akhirnya semua pemuda yg dari tadi tertidur, terbangun dan langsung membekap mulut Sumiati agar tidak berteriak-teriak lagi.
”Kita bawa kesemak-semak aja lalu kita perkosa lagi!” kata La Baco. “Jang..Jangguuuaaan perkooodzaaaa akcccuuu laargiii!”, kata Sumiati dalam kondisi mulut tertutup tangan Daeng Gassing.,
Mereka pun tidak memperdulikan penderitaan Sumiati dan membawanya kearah persawahan yg dipenuhi dengan semak-semak dijalan menuju rumah La Baco di desa Wakka untuk diperkosa lagi secara bergiliran. Sesampainya di tikungan L jalan menuju desa Wakka yg sepi karena tidak rumah penduduk disekitar situ, mereka menurunkan Sumiati dan membawanya kedalam semak-semak lalu perbuatan bejat mereka kembali terulang, satu persatu pemuda tersebut melampiaskan nafsu syahwatnya terhadap tubuh Sumiati yang sudah tidak berdaya. Sambil diperkosa Sumiati tak pantang menyerah untuk meminta pertolongan dengan tenaga yang terkuras habis
“Toolooong..Tolooong!” teriak Sumiati pelan karena sudah kehabisan tenaga berteriak.
Tapi pas giliran pemuda yang ketujuh menyetubuhi Sumiati tiba-tiba ada seorang pengendara motor melintas dari arah kejauhan tnampoak terlihat cahaya lampu motor, Sumiati terus berteriak agar pengendara motor tersebut datang menolongnya.
“TOOLOOONG…TOLOOONG….TOLOOOONG AKU!!”, teriak Sumiati dengan suara agak keras.
Karena panik dengan teriakan Sumiati pemuda ketujuh tadi langsung menyumpal mulut Sumiati dengan kuat dan erat-erat agar teriakannya tidak terdengar oleh pengendara motor tadi. Saat sampai di tikungan L pengendara motor tadi memperlambat laju motornya karena melihat ada mobil parkir ditempat yang sunyi tetapi pengendara motor tersebut tidak melihat dan mendengar sesuatu dari arah mobil, karena pengendara motor tersebut cuma sendiri dan mnerasa takut terjadi perampokan terhadap dirinya ditempat sesunyi ini, maka ia pun mempercepat laju motornya menghindar dari mobil tersebut takut tiba-tiba ada orang keluar dari mobil dan langsung membegal motornya.
Dan setelah pengendara motor tersebut sudah agak kejauhan pemuda tadi melepas tangannya dari muluit Sumiati tapi tampaknya Sumiati terdiam aja dan tidak merontah-rontah lagi, setelah diperiksa ternyata Sumiati sudah meninggal akibat kehabisan napas waktu mulutnya di sumpal oleh pemuda yang ketujuh itu lalu ia berteriak.
“Gadis ini sudah mati… Gadis ini sudah mati...!!”, katanya panik.
“Kenapa bisa mati Sakka!! Kita bisa dipenjara karena membunuh dan memperkosanya hukuman kita bakal berlipat ganda!”, kata La Sinaga mempersalahkan Sakka karena membunuh Sumiati.
“Aku tidak sengaja membunuhnya!Tadi aku cuma menyumpal mulutnya pakai tangan”, bela Sakka.
“Mungkin kau terlalu keras memegangnya sehingga dia mati lemas!Gimana ini kita taruh dimana mayat ini!”, kata La Baco mulai panik.
“Mayatnya kita kubur saja disini lalu kita tutupi semak-semak!”, kata Andi Mude.
“Baiklah kalau begitu kamu cari kayu yang kuat untuk menggali tanah!’, kata Parroda kepada Andi Mude.
Andi Mude berkeliling mencari kayu tapi tak ketemu-ketemu juga. “Nggak ketemu kayunya adanya cuma yang kecil!:”, kata Andi Mude.
“Mana kuat buat menggali tanah!”, kata Daeng Gassing.
Tapi La Baco teringat dengat kotak perkakas dimobilnya. “Mude, tolong ambil kotak perkakas yang ada dimobil kayalnya ada kunci-kunci yg bias dipakai menggali!”, perintah La Baco.
Andi Mude pun pergi mengambil kotak perkakas yang dimaksud La Baco dan ketemu. “Ini kotaknya”, kata Andi Mude.
“Tolong cari kunci empat enam dikotak itu lalu guanakan buat menggali tanah!”, perintah La Baco.
Mereka pun bergiliran menggali tanah tapi karena tanahnya agak keras dan susah digali menggunakan kunci-kunci, mereka hanya mampu menggali dengan kedalaman lima puluh centimeter.
“Aku rasa ini sudah cukup dalam, kita masukkan aja mayatnya kelubang ini!”, kata Parroda.
Mayat Sumiati pun dimasukkan karena lubangnya kurang dalam tangan dan kaki Sumiati masih nongol ke Perrmukaan tanah. “Sangkala, buka baju kamu buat nutupin tangan dan kaki mayat gadis ini!”, kata La Baco.
“Apa!! Bajuku dibuka, nanti aku pakai baju apa saat pulang ke Makassar!”, kata Sangkala yang kebetulan memakai baju kuning.
“Tenang, nanti dirumah aku beri baju buat kamu pakai pulang!”, kata La Baco.
Akhirnya Daeng sangkala membuka bajunya dan segera menutupi kaki dan tangan Sumiati kemudian menutupnya dengan semak-semak agar tidak terlihat oleh warga yang akan melintas di jalanan keesokan harinya
Para pelaku pun segera bergegas pulang kerumah La Baco didesa Wakka dan berharap mayat gadis itu tidak ada yang menemukan tapi konon setelah kematian Sumiati arwahnya selalu gentayangan mencari para pelaku pemerkosaan itu terutama yang dialami para sopir angkutan antar kota, tukang ojek, daeng becak dan pemuda-pemud yang melintas ditikungan L tersebut.
*******
Di kediaman Indo Sitti (Ibu Sumiati) saat terjadi penculikan dan pembunuhan merasakan firasat buruk yang menimpa anak gadis satu-satunya Sumiati. Tiba-tiba saja foto Sumiati yang tergantung di ruang tamu terjatuh dan pecah berantakan tanpa ada yang menyenggolnya
“Aneh, kok foto Sumiati tiba-tiba terjatuh ya, Pak?”, kata Indo Sitti kepada Suaminya cemas.
“Mungkin saja bu, ada hembusan angin yang menjatuhkan foto anakmu Sumiati!”, kata suaminya berusaha menenangkan istrinya.
“Tidak ada angin, pintu dan jendela sudah saya tutup rapat-rapat tapi kok masih bisa jatuh!”, kata Indo Sitti.
“Coba ibu periksa pakunya, siapa tahu masang pakunya kendor?”, kata Suaminya.
Indo Sitti pun memerikasa paku tempat foto itu tergantung tapi pakunya masih kelihatan kuat. “Pakunya masih kuat dan pengait dibingkai foto ini juga tidak ada yg putus, Pak!”, kata Indo Sitti.
“Jangan-jangan ada sesuatu yang buruk yang menimpa anak kita Sumiati, Pak!”, lanjutnya.
“Ibu. Jangan berpikiran yang nggak-nggak, mari kita serahkan aja kepada Tuhan Yang Maha Kuasa semoga kita dapat diberi petunjuk agar anak kita Sumiati diselamatkan dari marabahaya!”, kata La Beddu berusaha menghibur istrinya
BAB IV
Gentayangan jadi Setan Sumiati
Sehari setelah kematian Sumiati arwahnya sudah mulai gentayangan dan menganggu warga desa dari kota ke kota dan konon arwah Sumiati terus bergentayangan selama 25 tahun untuk mencari para pelaku pembunuhan dirinya yang waktu itu ia tidak mengenali wajah para pelaku tapi ia hanya mengenali warna baju salah satu pelaku pembunuhan. Jadi kalau da orang yang memakai baju kuning sedang melintas di dekat tempat Sumiati dikuburkan di Tikungan L, maka mereka akan mendapatkan celaka atau ganngguan dari arwah Sumiati
;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;
Konon Kabarnya Setan Sumiati pernah menampakkan diri pada siang hari dengan menyamar menjadi penumpang mobil Panther Angkutan antar kota Jurusan Pinrang – Makassar dengan wujud manusia biasa. Tapi orang-orang yang satu mobil dengannya tidak merasa curiga dengan adanya arwah Sumiati didalam mobil, tetapi hanya ada seorang penumpang yang duduk bersebelahan dengan Sumiati yang merasakan ada hembusan angin yang sangat dingin disaat Sumiati duduk berdampingan dengannya.
“Aneh, kok tiba-tiba perasaannku terasa dingin banget padahal cuacanya sangat panas sebab penumpang yang lain merasa gerah karena udara panas disiang hari!”, kata penumpang samping Sumiati dalam hati.
Di dalam mobil sopir yang dari tadi memperhatikan kecantikan Sumiati membukapembicaraan dan mengajak berkenalan.
“Andi, mau turun dimana?, Tanya sopir
“Saya mau turun Di Daya?”, kata Sumiati
Di Makassar adik tinggal dimana dan sama siapa?, lanjut sopir.
“Saya tinggal disamping terminal Daya dan aku lagi kost-kost-an sendiri?”, jawab Sumniati
“Adik kuliah dimana?”,Tanya sopir lagi
“Saya nggak kuliah, saya cuma jualan sarung disana!”, jawab Sumiati
“Boleh, kenalan nggak?’, Tanya sopir
“Boleh aja, nama saya Sumiati? Kalau nama daeng?, jawab Sumiati mulai memperkenalkan diri
“Nama saya Lamusu!”, jawab sopir. “Bisa minta nomor teleponnya nggak?”, Tanya sopir
“Aku nggak punya HP daeng! Tapi biar aku aja yang menghubungi daeng, aku pasti datang kok!”, kata Sumiati member harapan
“Ini nomor HP saya! Tolong catat ya! 085214952527!’, jawab sopir
Saat mobil tersebut sudah mermasuki daerah desa Segeri, Kab. Pangkep, mobil pun berjalan pelan dan berbelok menuju rumah makan yang banyak terdapat didaerah ini sepanjang jalan Trans Sulawesi, akhirnya mobil pun berhenti dan para penumpang turun untuk melepaskan penat akibat perjalanan jauh dari Pinrang ke Makassar dengan jarak 180 Km, dan jarak tempuh ke Makassar masih jauh masih tersisa jarak 80 Km lagi.
Sopir pun bergegas turun setelah semua penumpangnya turun tapi hanya Sumiati yang tetap tinggal didalam mobil dan tidak berniat untuk makan di Rumah makan Segeri, maka sopir pun mengajak Sumiati masuk ke warung untuk makan apalagi kebetulan jatah makan sopir dari pemilik warung yaitu dua orang, jikalau dia bawa teman semuanya gratis dan hanya penumpanngnya saja yang bayar.
Makanan pun dipesan dua porsi untuk Sumiati
“Porsi dua bang?, Tanya sopir kepada pelayan warung
“Lamusu itu cewek pacarnya ya, cantik amat ya!,” ledek pelayan tadi
“Nggak teman, tadi juga baru kenal kok!”, kata sopir
Makanan yang dipesan pun sudah diantarkan kemeja.
“Ayo, makan ndik!”, kata sopir
Iye, daeng!”, jawab Sumiati
Pada saat Sumiati memakan makanan yang disediakan, ia begitu lahap memakan makanan yg disediakan secara terburu-buru, dengan dua tangan dia memasukkan ayam dan iga sapi secara bergantian kemulutnya seperti orang yang kelaparan. Sehingga membuat orang-orang yg ada diwarung melihat tingkah laku Sumaiti sehingga membuat sopir yg tadi mengjaknya makan jadi malu.
“Astaga, rakus amat tuh cewek, cantik-cantik kok makannya kayak buaya ya!’, bisik seorang pelanggan diwarung kepada temannya
“Iya, ya!”, jawab temannya tadi
Tetapi anehnya disaat ia makan, makanan yg dimakan Sumiati jatuh berserakan dilantai sehingga kondisinya berantakan seperti kapal pecah, membuat orang-orang bertambah heran.
“Kok, nasinya pada tumpah ya, pikir sang sopir dalam hati sambil menengok seluruh tubuh Sumiati hingga kepunggungya. Alangkah tekejutnya sang sopir dan para pelanggan warung setelah melihat banyak belatung dipunggung Sumiati yang bolong.
“Ssseee…..setaaaaaan!! Teriak orang-orang di warung membuat suasananya panik dan kacau dan tiba-tiba Sumiati pun menghilang dari tempat duduknya membuat orang-orang lari ketakutan dari rumah makan tersebut.
Penampakan di Pinrang
Waktu itu ada anggota TNI sedang melewati daerah pekuburan Lasinrang di Ammasangan Pinrang bermaksud menuju ke asramanya di Kodim Pinrang tapi dalam perjalanan ada perempuan cantik yang minta tumpangan karena nggak ada lagi kendaraan lain yang lewat.
“Daeng, minta tolong tumpangannya!”, kata Sumiati
“Mau kemana ndik?”, Tanya TNI
“Mau pulang kerumah daeng tetapi aku nggak punya ongkos bisa antar aku nggak kerumahku?”, Tanya Sumiati
“Boleh saja tapi rumah adik dimana?”, Tanya TNI
“Disana daeng, dibelakang Mesjid !”, jawab Sumiati
“Ayo naik ke motor daeng, biar saya antar!”, ajak TNI
Maka naiklah setan Sumiati kemotor anggota TNI tadi tanpa kecurigaan sedikit pun. Tapi dalam berjalan anggota TNI itu pun merinnding dan merasakan kedinginan disekujur tubuh padahal dia memakai jaket tebal malam itu.
“Kok, perasaan saya merinding dan dingin ya’. pikirnya
Maka Sumiati pun memeluk erat pinggan TNI itu dn bertamnbahlah persaan dingin ituy.
“tangan andik kok dingin sekali kayak ortang yg sudah mati?”, kata TNI kpd Sumiati
“Ah, mungkin perasaan daeng kali lagian malam ini perasaan saya cuacanya sangat dingin!”, kata Sumiati
“Oh, mungkin perasaan saya aja kali!”, kata TNI
Tetapi karena tidak berbuat macam-macam sama Sumiati malam itu maka anggota TNI itu pun tidak diganggu malam itu, malah diajak ke rumahnya ama Sumiati.
“Daeng, disini aja rumahku dibelakang Mesjid itu”, kata Sumiati sambil menunjuk kearah mesjid yang bertuliskan “Mesjid Babul Jannah”.
“Besok, Besok mampir kerumah aku ya!”, kata Setan Sumiati
“Insya Allah besok aku akan mampir”, kata anggota TNI
“Janji yah, kamu akan dating besok andik tunggu loh!”, kata Setan Sumiati. Kemudian Sumiati pun memasuiki rumahnya yang tampak seperti Istana mewah dengan halaman rumah yg luas dengan pintu gerbang yang besar serta namapak terlihat oleh anggota TNI malam itu
Keesokan harinya pada siang hari, datanglah anggota TNI itu ke rumah Sumiati sesuai dengan janjinya semalam tapi anehnya saat mencari rumah tersebut tidak tampak rumah mewah seperti yang terlihat semalam tapi yang dia kenali cuma Mesjid Babul Jannah masih terlihat siang itu tapi dibelakangnya hanya berupa tanah kosong ditumbuhi alang-alang dengan pagar kawat berduri dan hanya tampak papan nama yg terpancang dipintu gerbang rumah Sumiati semalam dengan tulisan “PEKUBURAN ISLAM LASINRANG”.
Maka terkejutlah anggota TNI itu, “Jangan -jangan cewek yang saya bonceng semalam adalah setan”, pikirnya dalam hati. Kemudian dia menanyakan kebenaran rumah mewah tersebut kepada warga disekitar pekuburan itu.
“Bu, saya mau Tanya nih! Apa disekitar daerah ini ada rumah mewah yang mirip Istana yang ditinggali seorang perempuan cantik?, tanyanya pada ibu-ibu yg sedang lewat
“Nggak ada pak! Disini nggak ada rumah mewah yang kayak istana, kebanyakan warga disini rumahnya berupa rumah panggung. Mungkin adik salah alamat kali!”, jawab Ibu tadi
“Tidak mungkin aku salah alamat bu, soalnya aku turunin perempuan itu pas didepan Mesjid Babul Jannah!”, kata TNI sambil menunjuk Mesjid. “,Kata perempuan itu rumahnya disini dan dia tinggal sendiri!”, lanjutnya mulai merinding.
Mendengar perkataan pemuda tadi, ibu itu mulai ketakutan. “Begini dek, daerah ini terkenal angker dan sering muncul penampakan Setan Sumiati, yg konon waktu kematiannya ia diperkosa dulu baru dibunuh!”, kata ibu tadi buru-buru pergi
“Mau kemana bu!”, teriak anggota TNI
“Sebaiknya adik cepat-cepat pergi dari daerah sini,” nasehat ibu tadi
Penampakan di Daya
Sekitar pukul 11 malam Setan Sumiati pernah dikabarkan menampakkan diri di Daya dengan menumpangi ojek DMB (Ojek Daya Motor), dia naik ojek dari Pangkalan Ojek DMB diperempatan Lampu Merah Daya. Setan Sumiati minta diantarin ke Perumnas Sudiang Daya melewati jalan Pajjaiang melewati GOR Sudiang dengan ongkos 5000 perak yang terkenal sepi dimalam hari.
“Daeng, berapa ongkosnya ke Perumnas Sudiang?”, Tanya Setan Sumiati
“Ongkosnya cuma 5000 perak aja!”, jawab tukang ojek
“Turunnya di Blok mana?”, lanjut Tukang ojek
“Di Blok J aja!, jawab Setan Sumiati sambil naik di ojek.
Saat di Perjalanan Setan Sumiati hanya terdiam saja tanpa banyak bicara, maka tukang ojek pun memulai pembicaraan karena bĂȘte didiamin aja sama penumpangnya!.
“Adik darimana?”, Tanya tukang ojek
“Saya dari kampung, daeng!”, jawab Setan Sumiati
“Kampungnya dimana, dik?, ojek
“Saya berasal dari ANCOL!”, Sumiati
“Hebatt, dont berarti Si Eneng orant Jakarte nih!” Kapang-Kapang guwe ajak makang ellu basso satu mangkot ya!”, “Hebat dong si Eneng orang Jakarte, nih! Kapan-kapan (Suatu saat) gue ajak lu makan bakso satu mangkuk ya!”) kata tukang Ojek sambil berlogat Jakarta
“Tarima Kasih tapi okkots maki daeng! Tidak pake G SETAAAAANG!” (“Terima Kasih tetapi abang ini salah ucap, tidak pakai (huruf) G SETAAAAAN!”), jawab Sumiati ngeledek
“Sorry, okkots maki gara-gara kauwwe!” (“Maaf, Aku salah ucap/sebut gara-gara kamu !”), Jawab tukang ojek.
“Siapa suruhko mallogat Jakarta okkots mako, malu-malu maki itu! (Siapa yang menyuruh kamu berlogat Jakarta akhirnya kamu salah ucap, kamu malu-maluin aja (akhirnya kamu malu sendiri!)) Tapi saya bukan orang Jakarta daeng, saya orang Asli Bugis dari Desa Alle Calimpo atau lebih dikenal ANCOL-nya Kabupaten Pinrang!”, jawab Setan Sumiati.
“Pangtasang okkots tonjiki tadi, To Penrangji pale!!”, (Pantas kamu juga salah ucap tadi! Orang dari Pinrang, juga!! ”), canda tukang ojek
Penampakan di Moncong Lo’e
Daerah Pamejangan


TENTANG PENULIS.
La Dawan Piazza adalah nama pena dari Muhammad Ridwan yang lahir di Pinrang, 21 Agustus 1980 yang sejak kecil akrab dipanggil dengan nama La Dawang. Nama La Dawan Piazza ini bukan berasal dari bahasa Italia loh, ini nama wong ndeso dari nama panggilan sejak kecil La Dawang yang sesuai dengan dialek Bahasa Bugis, sedangkan Piazza merupakan singkatan yang artinya Pinrang Asal Saya .
Sejak SMP lulusan STMIK Dipanegara Makassar Angkatan tahun 2000 ini, memang senang menulis, menggambar karikatur dan korespondensi lewat surat menyurat. Dan saat SMU pernah menjadi pengurus Majalah Dinding Latinulu di SMU Negeri 1 Pinrang dengan membuat beberapa gambar karikatur, puisi dan pantun dan sebagai tim dekorasi disetiap acara yang diselenggarakan sekolah termasuk merancang gambar taman bunga SMU Negeri 1 Pinrang tahun 1997.
Penulis juga sangat tertarik menulis tentang sejarah kepahlawanan para pejuang Kemerdekaan yang ada didaerah Sulawesi Selatan yang belum sempat terekspos ke media nasional, selain ingin mempromosikan kesenian daerah dan potensi objek wisata yang ada di Sulawesi Selatan melalui tulisan Cerita Rakyat Nusantara.
Selain pencinta dongeng, karikatur dan komik penulis yang doyan nongkrong lama-lama di warnet buat browsing internet dan main game ini, penulis juga sedang berusaha menulis Novel Romance buat remaja, buku-buku tentang politik luar negeri, buku wisata kuliner dan lokasi objek wisata serta buku sejarah perjuangan bangsa.
Buku ini adalah buku pertama yang ditulis dan dikirim ke penerbit.
Kontak:
Facebook
Mehmet Ridvan Baleboglu, email tautan ladawanplaza@yahoo.co.id
Mochammed Ridwanovic, email tautan ladawanpiazza2@gmail.com
Blogger :
http://daone1.blogspot.com (Blog Penulis Pemula)
You Tube
User Name = macdhawanks
NOVEL INI MASIH DALAM TAHAP REVISI, BELUM MENEMUKAN INSPIRASI KARENA KEHABISAN IDE DAN MATERI

1 komentar:

Anonim mengatakan...

Mantap kanda....
Lanjutkan dan sukses untuk novel-novelnya yg akan datang.
#TC