Tampilkan postingan dengan label Sains. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sains. Tampilkan semua postingan

Rabu, 02 Februari 2011

Benarkah Asteroid Akan Menabrak Bumi?

Benarkah Asteroid Akan Menabrak Bumi?
Editor: Tri Wahono
Minggu, 30 Januari 2011 | 11:06 WIB

NASA Asteroid Mathilde 253 berukuran 59 x 47 km yang direkam pada 27 Juni 1997.
Tanya: Kabarnya ada asteroid raksasa yang akan menghantam Bumi tahun 2018. Benarkah kemungkinannya ada? Seberapa besar risikonya? Mungkinkah ini memusnahkan sepertiga penduduk dunia?
Jawab: Menurut sumber pengamatan resmi Near Earth Object Program NASA tidak ada asteroid berisiko yang akan menghantam Bumi pada tahun 2018 dan juga tidak ada pada tahun-tahun dekat mendatang. Di daftar impact risk (http://neo.jpl.nasa.gov/risk/) tidak ada asteroid yang memiliki potensi bertabrakan dengan bumi.

Dinosaurus Bertahan 700.000 Tahun

Dinosaurus Bertahan 700.000 Tahun
Penulis: Yunanto Wiji Utomo | Editor: Tri Wahono
Senin, 31 Januari 2011 | 19:39 WIB
Dibaca: 9063

Hadrosaurus
KOMPAS.com - Tim peneliti Universitas Alberta, Kanada, berhasil memperkirakan umur fosil dinosaurus yang terdapat di New Mexico. Dikatakan, fosil berupa tulang paha jenis Hadrosaur tersebut berasal dari era 64,8 juta tahun yang lalu.
Hasil penelitian ini mengejutkan sebab selama ini ilmuwan percaya bahwa dinosaurus punah antara 65,5-66 juta tahun lalu. Jika temuan ini benar, hal tersebut membuktikan bahwa Hadrosaur sebenarnya masih bertahan hingga sekitar 700.000 tahun setelah kepunahan massal.
Larry Heaman dari Departemen Ilmu Atmosfer dan Kebumian memperkirakan umur dinosaurus itu dengan metode U-Pb (uranium -timah). Metode itu tak cuma mampu memperkirakan umur dinosaurus, tetapi juga makanannya. Metode tetrsebut memiliki kelebihan dibandingkan metode kronologi relatif yang kini dipakai. Metode terakhir adalah memperkirakan umur berdasarkan lapisan sedimen tempat fosil ditemukan.
Dengan kronologi relatif, hasil perkiraan bisa tidak akurat. Proses geologi dan lingkungan yang terjadi selama jutaan tahun bisa memicu erosi, menyebabkan fosil bermigrasi dari lapisan sedimen satu ke yang lain.
Selama ini, dipercaya bahwa kepunahan dinosaurus terjadi akibat terhalangnya cahaya matahari oleh serpihan debu hantaman asteroid. Akibatnya, terjadi perubahan iklim yang ekstrim dan kepunahan vegetasi, menyapu bersih semua populasi.
Dengan hasil temuan fosil Hadrosaur ini, Heaman berpendapat perubahan iklim tidak menyapu bersih semua vegetasi. Masih terdapat vegetasi yang bertahan sehingga memungkinkan Hadrosaur untuk hidup.
Heaman juga mengatakan perlunya mengeksplorasi telur-telur yang bertahan dalam lingkungan ekstrim tersebut. Ia mengungkapkan, jika hasil penelitian ini benar, maka teori tentang waktu kepunahan dinosaurus perlu direvisi. Hasil penelitian ini dpublikasikan di jurnal Geology terbaru yang terbit tanggal 26 Januari 2011.

Besok, NASA Umumkan Temuan Planet Alien

Besok, NASA Umumkan Temuan Planet Alien
Penulis: Yunanto Wiji Utomo | Editor: A. Wisnubrata
Selasa, 1 Februari 2011 | 15:00 WIB

Dibaca: 19935

NASA/Kepler Mission Planet Kepler menurut rekaan artis
KOMPAS.com Besok, Rabu (2/2/2011), NASA akan mengumumkan penemuan planet alien atau ekstra surya terbaru hasil misi pesawat antariksa Kepler. Pengumuman akan dilakukan di Auditorium Markas NASA di Washington, Amerika Serikat, dan disiarkan secara langsung di televisi NASA.
Pengumuman akan dilakukan dalam sebuah briefing pukul 13.00 waktu setempat atau lebih kurang 3 Februari pukul 01.00 WIB. Pihak NASA mengatakan bahwa briefing tersebut hanya akan membahas temuan planet ekstra surya terbaru.
Pengumuman resmi di situs NASA mengungkapkan bahwa data yang dirilis akan memperbarui jumlah kandidat planet. Data berdasarkan observasi yang dilakukan antara tanggal 2 Mei 2009 dan 17 Sepetember 2009. Pertemuan akan mengikuti jadwal yang telah dirilis hari ini.
Dalam pertemuan nanti akan hadir pihak terkait misi Kepler, di antaranya Douglas Hudgins dari Kepler Program Sceintist NASA, William Borucki dan Jack Lissauer yang menjadi investigator misi Kepler di Ames Research Center NASA, serta Debra Fischer, profesor astronomi dari Yale University.
Sebagaimana diketahui, NASA memakai Kepler untuk meneliti planet di luar tata surya yang mengelilingi bintang induknya pada zona layak huni, yang mungkin terdapat air. Jadi, dalam pengumuman itu mungkin masyarakat bisa mendapat informasi tentang planet yang layak dihuni manusia.
Kepler menggunakan fotometer super sensitif yang mampu memonitor lebih dari 156.000 bintang di gugus bintang Cygnus dan Lyra. Dengan peralatan itu, Kepler mampu mendeteksi keberadaan planet melalui peredupan cahaya bintang induk ketika sebuah planet melewatinya.
Baru-baru ini Kepler berhasil menemukan planet alien terkecil bernama Kepler 10b. Planet itu berukuran 1,4 kali Bumi dengan massa 4,6 kali Bumi, mengelilingi bintang yang jaraknya 560 tahun cahaya dari Bumi. Sayang, planet itu tak layak huni karena terlalu dekat dengan bintang induknya.
Bagi Anda yang ingin menyaksikan secara langsung pengumuman tersebut, Anda bisa mengakses televisi NASA secara online di www.nasa.gov/ntv.

Jumat, 13 November 2009

Kutub Utara "Bebas Es" dalam 10 tahun



Sumber Kompas, Jumat 16 Oktober 2009
Kilas Iptek

Dalam waktu 10 tahun mendatang, Kutub Utara akan berubah menjadi lautan terbuka pada saat musim panas. Data ini diungkapkan, Rabu (15/10), oleh tim survey Kutub Utara Carlin yang menjelajahi Kutub Utara selama tiga bulan. Penjelajahan tim yang dimulai awal tahun 2009 itu lebih difokuskan pada pengukuran ketebalan Es di wilayah bagian utara Laut Beaufort di Kutub Utara. Hasil penemuannya menunjukkan, sebagian besar di wilayah itu baru saja terbentuk dan hanya setebal 1,8 meter sehingga dipastikan akan mencair saat musim panas tiba. Padahal biasanya es di wilayah itu tebal karena bentukan bertahun-tahun lalu sehingga tidak mudah mencair. “Luasnya wilayah dengan es baru membuat Kutub Utara makin rapuh,” kata Professor Peter Wadhams dari University of Cambridge, yang menganalisis temuan tim penjelajah. Martin Somerkorn, dari WWF, khawatir jika Kutub Utara “Bebas Es”, itu berarti dunia akan mengalami kebanjiran dan seperempat populasi dunia akan menjadi korban.