Rabu, 06 Februari 2013

Tujuh Tahun Bersemayam Siluman Ular di Tubuhku


Tujuh Tahun Bersemayam
Siluman Ular di Tubuhku

Oleh : Jemy Haryanto

Kisah nyata yang memilukan ini dialami seorang wanita, sebut saja Normah. Tujuh tahun lamanya dia dalam pengaruh ilmu hitam atau pelet. Meskipun sudah puluhan orang pintar didatangi, namun tak satupun yang berhasil membuang santet tersebut. Berikut kisahnya.

*****
Kisah ini bermula saat aku dan keluargaku pindah ke Kabupaten Ketapang. Peristiwa ini terjadi dua puluh lima tahun lalu. Sekitar dua minggu tinggal di sana, aku berkenalan dengan Nining, tetanggaku, yang kemudian menjadi saudara angkatku.

Suatu ketika, Nining mengajakku bergabung dalam sebuah organisasi di Masjid di lingkungan kami. Ajakan ini tak mampu kutolak. Malam Rabu itu, aku resmi menjadi anggota organisasi tersebut. Aku pun berkenalan dengan sesame teman yang bergabung di organisasi ini.

Sudah menjadi tradisi bagi anak-anak yang bergabung di sini. Jika ada anak perempuan yang baru menjadi anggota, maka tak jarang anak laki-laki berusaha merebut hatinya. Termasuk aku. Baru saja menjadi anggota, malam itu aku diantar oleh banyak anak laki-laki. Jadilah aku layaknya kembang desa. Tiap pulang dari masjid, anak laki-laki banyak yang mencoba mencari perhatianku dengan mengantarku pulang ke rumah. Namun, tak seditkitpun aku menggubris mereka.

Di antara sekian banyak anak laki-laki yang mencoba mengambil hatiku, ada seorang pemuda yang sebut saja dia bernama Arman. Ternyata, diam-diam Arman memendam rasa cinta kepadaku. Arman memang anak orang terpandang ditempat tinggalku. Ayahnya seorang mantan pejabat di salah satu instansi pemerintah. Tapi yang disayangkan, ibu Arman yang sudah bertitel haji diisukan kerap berdukun, bahkan menguasai ilmu hitam, ibu Arman yang akrab disapa Bu Marni ini kebetulan teman pengajian mamaku.

Setidaknya ada empat kali Arman melayangkan surat cintanya kepadaku. Aku pun kaget. Dia yang sepatutnya menjadi abang bagiku, karena usianya jauh lebih tua, ternyata memiliki maksud lain. Aku pun menolaknya mentah-mentah. Bukan saja karena aku tak menyukainya, tetapi usiaku pun masih terbilang bau kencur. Ya, waktu itu aku baru lima belas tahun.

Ternyata ngebetnya Arman padaku diketahui oleh ibunya. Suatu hari, sang ibu mengirimkan makanan berupa gulai ikan ke rumahku. Mulanya, tak ada perasaan curiga sedikitpun dari kami sekeluarga. Kami juga tidak menaruh curiga ketika Ibu Arman berulang kali mengirimkan hantaran makanan ke rumahku.

Anehnya, seminggu setelah hantaran makanan keluarga Arman yang terakhir, aku justru menjadi teringat dan selalu membayangkan pemuda yang semula kubenci itu. Entah bagaimana awalnya, perasaanku selalu saja ingin bertemu dengannya.

Seminggu kemudian, Arman menyatakan perasaannya lagi kepadaku melalui sepucuk surat. Kali ini, aku tak kuasa menolaknya. Sejak saat itu, Arman sering menghubungiku. Bahkan hampir tiap malam dia menelponku. Untuk menerima telepon dari Arman, aku harus sembunyi-sembunyi. Aku pun terpaksa menunggu ibu dan ayah tidur agar dapat menerima setiap panggilan telpon darinya. Karena cintaku pada Arman, belajar ku pun akhirnya mulai terganggu. Kedua orangtuaku tidak mengetahui apa yang sedang menimpaku. Saat kelulusan, prestasiku benar-benar jatuh.

Kena Pelet
Ibuku curiga. Dia berusaha mencari tahu penyebabnya. Apalagi ibu sangat berharap aku bisa diterima di sekolah favorit di kota ini. Aku pun menceritakan perasaanku, ibu sangat terkejut, dan menentang keras.

Aku seperti dipingit, tidak boleh keluar rumah. Sementara itu, lambat laun Arman dan ibunya tahu dengan sikap kedua orang tuaku. Karena kenyataan ini, ibunya Arman nampaknya menaruh dendam kesumat.

Suatu hari, melalui perantara seorang temannya, Arman menyampaikan pesan yang berisi memutuskan hubungan antara kami berdua. Mendengar keputusannya yang tiba-tiba, aku terkejut bukan kepalang. Hatiku benar-benar hancur. Aneh, memang! Padahal, hubungan kami saat itu hanya seperti cinta monyet. Tapi kenapa saat itu aku seperti tengah kehilangan orang yang sangat berarti dalam hidupku. Aku selalu teringat Arman. Parahnya lagi, aku mulai terbiasa meninggalkan sholat. Aku juga mulai kehilangan gairah hidup.

Semua keluargaku, termasuk Nining, kakak angkatku, merasa heran dengan keadaanku yang jauh berubah. Karena curiga, ayah dan ibu membawaku ke orang pintar. Menurut paranormal tersebut, aku terkena pelet. Setelah minum air putih yang diberikannya keadaanku berangsur-angsur membaik. Aku pun dapat melupakan Arman.

Tanpa disangka, pada saat perayaan ulang tahunku. Arman muncul sebagai tamu tak diundang. Dia memberikan kue ulang tahun untukku. Begitu juga dengan ibunya. Dia memberi hadiah berupa bahan kain dan satu gelang perak. Karena takut terjadi sesuatu, semua pemberian itu tidak kusentuh sedikitpun. Kue pemberian Arman, ibuku berikan kepada orang lain.

Sedangkan bahan kain untuk membuat baju serta gelang tersebut, dibakar oleh ibu dan ayahku.

Setahun kemudian, aku mulai akrab dengan Yayan, seorang siswa di sekolahku. Perasaan cinta remaja pun tumbuh secara alamiah. Mungkin karena itu, aku pun semakin bersemangat dan termotivasi belajar. Sama sekali tak kuduga, rupanya hubunganku dengan Yayan tercium oleh ibunya Arman.

Wanita yang akrab disapa Bu Marni ini agaknya kembali membuat ulah dengan dibantu para dukunnya. Efeknya, aku pun sering jatuh pingsang di sekolah. Tak terhitung lagi betapa seringnya aku mengalami hal ini. Aku bahkan pernah dibawa pihak sekolah ke salah satu rumah sakit pihak sekolah ke salah satu rumah sakit di kota itu untuk diperiksa kondisi kesehatanku. Hasil pemeriksaan dokter menyatakan aku tidak terkena penyakit apa-apa.

Karena kejadian ini, ibu kembali mengajakku ke tempat Pak Iskandar paranormal yang dulu menyembuhkan penyakitku. Orang pintar itu mengatakan, aku kembali terkena pelet. Menurut dia, pelet itu berawal dari makanan, pakaian, juga benda-benda lainnya yang aku terima dari si pengirim pelet. Syukur, Pak Iskandar kembali dapat menyembuhkanku.

Setahun kemudian, aku pun berpisah dengan Yayan, sebab dia melanjutkan kuliah di Jogja. Aku sendiri diterima di sebuah Universitas Negeri di Pontianak yang masih dekat dengan kotaku. Menginjak semester dua, aku mulai kerasukan lagi. Berawal, pada suatu malam, aku seperti melihat sosok kuntilanak yang sedang berjalan di depan kamarku. Esok paginya, aku menemukan kotoran manusia persis di sebelah kamarku. Nampaknya, ada yang sengaja mengirimkannya.

Jam dua siang, aku kembali kerasukan. Seketika itu, pikiranku tertuju pada sosok Arman. Anehnya, menurut cerita keluarga, saat tak sadarkan diri, aku mengeluarkan suara layaknya tawa kuntilanak. Beberapa hari selanjutnya, aku pun bertingkah seperti layaknya seekor ular. Memang, dalam pandanganku, aku melihat seekor berwarna hijau dan panjang.

Sejak saat itu, hari-hariku ditemani kerasukan makhluk halus. Aku sempat divonis salah satu anggota keluargaku menderita sakit syaraf. Sampai suatu hari setelah Idul Fitri, saat bersilaturahmi ke rumah nenekku, aku kembali diganggu makhluk-makhluk gaib tersebut. Untunglah nenekku punya pegangan ilmu gaib. Saat keluargaku turun dari mobil, aku justru tidak bisa keluar dari mobil apalagi berjalan. Sepertinya, makhluk-makhluk gaib itu tahu kalau aku akan singgah di rumah orang yang berilmu.

Ayah terpaksa menggendongku. Anehnya, tatkala memasuki rumah Nenek, menurut cerita keluargaku, mendadak saja aku tertawa cekikikan mirip kuntilanak. Nenek yang sepertinya paham dengan keadaanku, berusaha melakukan komunikasi dengan makhluk yang bersemayam dalam tubuhku. Beginilah ceritanya yang dituturkan ibu padaku :

“Kenapa kamu begitu?” tanya nenek.

Aku pun meronta-ronta seperti sedang kesakitan. Nenek pun melanjutkan pertanyaannya. “Siapa yang melakukan perbuatan terkutuk ini?”

Sang makhluk gaib pun menjawab singkat, “Bu Marni!”

“Darimana asalmu?” tanya nenek.

Dengan tegas, makhluk itu menjawab, “Aku datang dari Ketapang!”

“Apa maksudmu?” tanya nenekku lagi sambil matanya melotot.

“Aku akan menghancurkan hidupnya! Aku dendam, makanya jadi perempuan jangan sombong!” jelas sang makhluk, jujur.”

“Dia tidak mau menerima cinta anakmu?” nenek pun kembali mengorek keterangan darinya.

“Lalu kau ini siapa?” tanya nenek pula.

“Aku makhluk halus, suruhan Bu Marni!” jawabku dengan lantang.

Mendengar dialog nenek dengan makhluk yang merasuki tubuhku, ibu, ayah dan keluarga benar-benar terkejut. Ibu menangis. Pantaslah, apa yang ibu dan ayah curiga selama ini, bahwa Bu Marni-lah biang keladinya.

Nenek dengan paksa mengeluarkan makhluk tersebut dengan sebilah keris keramat miliknya. Makhluk halus di dalam tubuhku pun menjerit keras. Sejurus kemudian, mereka pun pergi dari jasadku walau hanya untuk beberapa lama saja.

Sialnya, di tengah perjalanan pulang dari rumah nenek, aku kerasukan lagi. Setelah menelpon nenek, beliau menyarankan agar aku dibawa ke tempat Bu Endang, seorang guru ngaji di daerah itu. Bu Endang berusaha mengeluarkan makhluk-makhluk itu lagi. Ketika ditanya oleh Bu Endang, lagi-lagi jawabnya sama, yakni Bu Marni.

Pengobatan
Setelah diobati oleh Bu Endang, akupun pingsan sampai keesokan harinya. Bu Endang memberiku cincin untuk pegangan. Karena masih dalam suasana lebaran, keesokan harinya aku kembali diajak bersilaturahmi ke tempat keluarga ibu.

Siang hari yang terik itu, tepatnya pas azan dzuhur, aku kerasukan lagi. Aku kembali dobati oleh pintar di sekitar tempat tinggal saudara ibuku itu. Aku disuruh mandi kembang besoknya, serta menyediakan benang tujuh warna dan kembang tujuh rupa. Benang tersebut kemudian dirajah sang dukun perempuan itu, untuk diletakkan di pinggangku.

“Benang tersebut tidak boleh dibuka atau dilepaskan sebelum kau menikah,” suruh sang nenek.

Dia juga mengingatkan, jika keluarga bu Marni memberikan makanan atau apapun, maka jangan sekali-kali diterima.

Setelah diobati nenek, aku memang sembuh. Selepas liburan panjang, aku pun kembali ke kota tempatku kuliah. Ringkasan cerita, menjelang semester empat, ada seorang laki-laki yang suka padaku. Namanya sebut saja dengan nama Maman.

Tatkala Maman menyatakan perasaannya kepadaku, beberapa waktu kemudian, aku mulai kerasukan lagi. Bahkan, saat Maman mengunjungiku dirumah Tanteku, tempatku tinggal di kota itu, entah syetan apa yang merasukiku, tiba-tiba aku mengusir Maman.

Sampai akhirnya aku kembali diobati oleh orang pintar. Kali ini, yang mengobatiku adalah Bu Komala, seorang ibu dari teman kuliahku yang kebetulan biasa mengobati orang-orang kerasukan. Bu Komala menyuruh keluargaku membuka tali benang yang ada di pinggangku, berikut cincin yang diberikan Bu Endang tempo hari. Alasannya, benda-benda tersebut justru mengikat makhluk-makhluk halus sehingga tetap berada di tubuhku.

Malangnya, setelah kedua benda bertuah itu dilepaskan dari tubuhku, justru penyakitku semakin parah. Aku malah kerasukan lagi selama lebih dari satu minggu. Selama itu pula, ada Sembilan orang pintar yang mencoba mengobatiku dengan berbagai macam cara yang tidak masuk akal. Salah satunya menyuruhku merangkak seperti binatang.

Sampai akhirnya, tanteku menemukan orang pintar di sebuah desa, yang jauh dari kota. Orang tersebut menyuruh ibuku mengambil kopi pahit, bawang putih dan daun kelor untuk dimandikan di sekujur tubuhku. Pada saat mengobatiku, orang tua ini mendapat serangan bertubi-tubi dari makhluk jahat yang bersemayam di tubuhku.

Atas saran orang tua ini, ibu dan ayah diperintahkan untuk berdzikir semalam suntuk membantu pengobatanku. Katanya, kalau mendengar bisikan atau sesuatu yang aneh jangan dihiraukan agar pengobatanku berhasil.

Diceritakan, sekitar dua pukul dini hari, ibu dan ayah mendengar suara letupan diatas atap rumah. Namun mereka tetap berdzikir. Seiring dengan suara letupan tadi, orang tua yang mengobatiku juga mendapat hantaman sehingga dadanya mendadak sakit.

Besoknya, orang tua tersebut mencari benang tujuh warna. Dia juga menyiapkan bunga tujuh rupa dan daun jengkol. Semua digunakan untuk memandikanku. Syukur Alhamdulillah, setelah pengobatan ini aku dapat kembali menjalankan aktivitasku sehari-hari.

Sekitar lima bulan kemudian, aku berkenalan dengan seorang calon dokter. Erik namanya. Begitu gembiranya aku tatkala dia berniat melamarku. Namun, saat Erik mau melamarku, maka begitu banyak halangan yang menghadang hingga orangtuaku tidak mengijinkan hubuganku dengan Erik
.
Karena kecewa aku histeris hingga aku jatuh pingsan. Hal ini membuat semua dokter yang merawatku terkejut. Mereka sangat tidak menyangka dengan tekanan darah yang sangat rendah itu aku masih bisa bertahan hidup, bahkan kemudian sehat kembali.

Kejadian aneh terus saja menimpaku. Saat aku menjadi panitia ospek di kampus, aku kembali kerasukan. Aku dibawa pulang ke rumah oleh teman-temanku. Di rumah, selama tiga hari berturut-turut aku terus kerasukan. Keluargaku kembali memanggil orang pintar yang berada di pedalaman yang pernah mengobatiku beberapa waktu lalu. Namun, kali ini tak berhasil membuatku sembuh. Karena itulah aku kemudian diobati oleh ustadz namun juga tak kunjung sembuh.

Di Pontianak, aku juga sempat diobati oleh Pak Nando, aku dimandikan dengan bunga tujuh rupa selama tiga hari berturut-turut. Setela ritual pun digelar. Pak Nando mencoba mengeluarkan makhluk jahat yang bersemayam di tubuhku. Makhluk yang telah mendarah daging tersebut yang pertama berupa siluman ular. Ibu dan ayah turut menyaksikan proses penarikan makhluk itu.

Tiga hari kemudian, aku kembali diobati Pak Nando. Malam terakhir, setelah mandi, orang tuaku diperintahkan untuk menjagaku agar aku tidak disetubuhi oleh makhluk halus.

Di malam terakhir ini, antara sadar dengan tidak, tiba-tiba pandanganku gelap. Sepertinya ada yang mau menindihku.

Astagfirullah! Aku melihat makhluk yang sangat menakutkan. Tubuhnya hitam berbulu, dan dia berusaha menindihku. Aku pun menjerit. “Jangan!” Teriakanku ini membuat cemas ayah dan ibu.

Mereka segera membacakan ayat Qursyi berulang-ulang untuk melindungiku. Hingga akupun terjaga, dan tidak tidur sampai pagi. Esok paginya kami datang ke tempat Pak Nando. Ritual pengusiran makhluk halus pun digelar. Sang makhluk mengerikan itu mencoba melawan Pak Nando. Namun sebelum ritual dimulai, makhluk halus itu mengancam akan membunuhku.

Mendengar ancaman tersebut, Pak Nando pun menyangkal, “Makhluk bodoh! Sebentar lagi majikanmu akan jatuh miskin dan melarat akibat perbuatannya sendiri. Dan kau tidak akan diberi makan lagi olehnya. Dan santet yang ada di tubuh anak ini akan kukembalikan padanya.”

Akhirnya, Pak Nando berhasil mengeluarkan dua makhluk tersebut. Alhamdulillah, aku pun kembali pulih. Aku dapat mengikuti ritual mandi kembang selama tiga hari. Hari keempat, aku kembali datang ke tempat Pak Nando untuk mencabut pangaruh santet.

“Bu Marni menggunakan media foto anak ini dan sebuah boneka kecil,” jelas Pak Nando kepadaku dan kedua orang tuaku.

Dan kini, saat menuturkan kisah ini. Alhamdulillah, aku telah menjalani hidup berumah tangga. Dengan demikian, tepat tujuh tahun aku dalam nestapa akibat kekuatan Santet. Semoga bermanfaat.

Sumber : Tabloid Horor edisi 006/Tahun 2/2013