Minggu, 10 Juni 2012

NOVEL PORNO VS FASHION TV DAN CANDOLENG-DOLENG


Oleh : Mac Dhawank’s

Melihat pemberitaan media massa yang tidak berimbang tentang kasus Novel Porno yang beredar di Perpustakaan SD. Saya sebagai orang awam hanya ingin mempertanyakan sampai sejauh mana sih, pelabelan kategori porno itu! Apakah tulisan yang mendeskripsikan cerita seks yang menganjurkan pemakaian kondom untuk menghindari penyakit HIV/AIDS juga termasuk kategori porno?. Apakah buku kedokteran tentang anatomi tubuh manusia juga termasuk porno? Kalau buku tersebut nyasar di Perpustakaan SD, SMP dan SMA.

Bukankah novel porno itu dari dulu sudah ada sejak era pemerintahan Soeharto? Kenapa baru dipermasalahkan sekarang. Pada tahun 1980-an di kota kelahiran saya Pinrang Sulsel, masih lekang dalam ingatanku, waktu itu saya masih duduk di bangku SD. Tapi sudah pernah membaca novel-novel stensilan karya Freddy. S, Mira W, Tara Zagita, Nick Carter dan Enny Arrow yang banyak dijual di toko-toko buku kecil dan lapak-lapak di pasar tradisional dengan harga Rp. 2000-an.

Tapi kok, belum ada orang yang mempermasalahkan hal itu, kenapa baru sekarang diributkan. Padahal justru itu merusak remaja generasi 1980-an yang mungkin sekarang kebanyakan sudah jadi guru, pengusaha, pejabat dan anggota DPR. Sehingga ikut-ikutan juga bikin video porno, seperti kasus video mesum seorang PNS di Ende, Flores NTT yang terjadi beberapa tahun lalu dan anggota DPR di senayan juga bikin film porno. Sudah begitu bobrokkah moral bangsa kita di zaman sekarang ini?

Mereka itu adalah generasi-generasi 1980-an yang masa kecilnya mungkin saja sering membaca novel-novel stensilan waktu masih duduk di bangku sekolah. Dulu kasus pemerkosaan atau pencabulan akibat pornografi belum terasa seperti zaman sekarang ini, karena anak-anak zaman dulu tidak terlalu terpengaruh dengan bacaan yang ia baca. Karena remaja era 80-an itu belum mengenal yang namanya media internet untuk mengakses gambar dan video porno. Meskipun saat itu sudah beredar video XXX dalam bentuk kaset video, tapi hanya beredar di kalangan terbatas. Dan anak di bawah umur jangan harap bisa menyewa kaset video tersebut dengan bebas di rental penyewaan.

Novel-novel stensilan tersebut masih banyak saya temukan di salah satu toko buku di Kota Kupang, NTT dengan stok yang banyak seperti karya Freddy. S dan Tara Zagita. Novel tersebut jika dikomsumsi oleh orang dewasa nggak terlalu masalah, sih! Karena tidak ada gambar illustrasi yang hot banget, meskipun isi ceritanya hanya bercerita seputar selangkangan.




Menurut sastrawan Taufik Ismail, sastra jenis ini masuk kategori SMS (Sastra Mazhab Selangkangan) atau genre baru FAK (Fiksi Alat Kelamin). Tapi kalau novel ini di baca dengan bebas oleh para pelajar, bisa saja cerita didalamnya mereka ditiru dalam kehidupan nyata. Karena jiwa mereka masih labil dan menjadi peniru ulung.

Jika kelakuan ABG sekarang yang menghalalkan Sex Bebas, saya berpendapat faktor utama penyebabnya tidak 100% di pengaruhi oleh novel yang dianggap porno. Tapi menurut pendapat saya, karena pengaruh video porno, gambar porno yang banyak beredar di Internet. Ditambah lagi dengan maraknya penggunaan ponsel kamera di kalangan pelajar SD, SMP dan SMA hingga mereka meniru-niru adegan dalam video tersebut.

Bukankah minat baca anak-anak di Indonesia semakin berkurang sejak muncul banyaknya tayangan sinetron di TV yang tidak mendidik. Sekedar informasi di daerah kelahiran saya di Kab. Pinrang Sulsel. Pengusaha TV Kabel sering menayangkan TV-TV satelit dari luar negeri, terutama TV Kabel dari Italia Fashion TV sejak tahun 2009. Anak-anak di daerah yang tidak hobby membaca lebih menghabiskan waktu di depan TV menonton siaran luar negeri tersebut.

Tayangan dalam Fashion TV itu adalah peragaan busana dari Italia, dimana para modelnya tidak memakai busana atasan alias BH. Mereka hanya menggunakan celana dalam saja tanpa BH dan tayangan ini di siarkan pada pagi hari Waktu Indonesia Timur. Mungkin saja siaran ini di Italia di siarkan pada malam dini hari, tapi sampai di Indonesia pagi harinya karena perbedaan letak geografis antara Italia dan Indonesia.

Kalau novel para penulis yang dianggap porno, seperti Ada Duka di Wibeng (Jazimah Al-Muhyi), Tidak Hilang Sebuah Nama (Galang Luthfiyanto), Tambelo = Kembalinya Si Burung Camar (Redhite K.), Tambelo = Meniti Hari di Ottawa (Redhite K.), Syahid Samurai (Afifah Afra), Festival Syahadah (Izzatul Jannah) dan Sabuk Kiai (Dadang A. Dahlan). Menurut saya itu bukan Novel Porno, tapi novel yang mengajak pembacanya untuk menghindari Free Sex agar tak terjangkit penyakit HIV/AIDS.

Terkait dengan buku “Ada Duka di Wibeng, Tidak Hilang Sebuah Nama, Syahid Samurai, dan  Festival Syahadah”, ditulis oleh anggota Forum Lingkar Pena (FLP). FLP adalah organisasi pengaderan penulis yang sejak awal pembentukannya pada tahun 1997 memiliki visi mencerahkan masyarakat melalui tulisan. Dalam menulis berbagai karya, para anggota FLP memiliki sikap untuk tidak menulis karya yang membawa pada kemudharatan. Para anggota FLP juga ada di garda depan dalam menolak segala bentuk karya yang bermuatan pornografi.

Dan novel ini jelas-jelas tertulis For Teenager yang artinya buat remaja dan saya rasa novel ini salah sasaran seharusnya berada di Perpustakaan SMA bukan di SD. Menurut Intan Savitri Ketua Umum FLP Pusat, “Visi Misi FLP itu terdepan mengajak masyarakat dalam memerangi pornografi lewat karya-karyanya. "Jangan sampai ada fitnah dan pembunuhan karakter penulis. Banyak tontonan mengandung pornografi namun karya FLP yang mengajak pada kebaikan malah dituduh porno," ungkapnya.


(Foto : www.fashiontv.com)

Menurut saya bahan bacaan itu tidak sama dengan tontonan di TV yang tidak mendidik. Sebagai contoh jika kemarin heboh kasus penolakan Lady Gaga oleh ormas-ormas yang mengatasnamakan agama, karena pakaian dan goyangannya di anggap vulgar. Di daerah asal saya di Pinrang, Sulsel, ada tontonan masyarakat yang lebih seronok dan vulgar yang di namakan Candoleng-doleng yang artinya gondal-gandul alias berjuntai-juntai.






(Foto : Capture dari video 3gp)

Apanya yang berjuntai-juntai tinggal Anda sendiri yang mendeskripsikannya, Candoleng-doleng itu adalah para penyanyi dangdut organ tunggal atau electon yang sering tampil di acara perkawinan Bugis Makassar. Kenapa saya anggap adegannya vulgar, karena penyanyi dangdut menirukan gaya penari streaptis di diskotik yang mana penyanyinya membuka BH dan celana dalamnya di atas panggung. Dan orang-orang pun memberikan saweran uang 10.000-an yang di selipkan di dalam BH dan celana dalam penyanyinya.

Acara dangdutan ini di tonton oleh semua umur mulai dari anak-anak sampai kakek-kakek, dan anak kecil usia SD yang paling depan tempat duduknya, tepatnya di bibir panggung. Ini sebenarnya lebih merusak moral generasi bangsa dibandingkan dengan Novel Sastra Islami yang di anggap porno.

Jika memang pemerintah serius ingin memberantas pornografi, blokir saja siaran Fashion TV dari Indovision di Indonesia, razia penjual VCD Porno dan Penyanyi dangdut erotis yang ada di daerah serta konten-konten pornografi di Internet. Anggota dewan kita yang terhormat pun suka nonton dan bikin film porno, kenapa nggak terlalu di gembar-gemborkan oleh media? Justru penulis novel yang melawan trend Free Sex dan penerbitnya yang di anggap bersalah, ini pembunuhan karakter penulis namanya.


Kota Kupang, NTT 16 Juni 2012

Mac Dhawank’s
(Pengarang Cerita Rakyat Modern, Cerpenis, Novelis, Komikus amatiran)

3 komentar:

Anonim mengatakan...

Mantap sekali artikelta bro....
sy penggemar novel2 fredd waktu zaman sma dlu... kebetulan sy jg org pinrang....
Salam kenal nah, add my facebook at imran_machazzart@yahoo.com
Salam Pinrang Berseri.... :)

Robianus Supardi mengatakan...

GUe juga penggemar novel karya bang Fredi waktu SMA, bahkan sampe sekarang. keren artikelnya..

Salam knal Bray, gue juga anak NTT :))
Gue follow blog lo, kalau berkenan follback :))

stroke ringan mengatakan...

sebenarnya saya tidak suka novel, tapi kesini lumayan tambah pengetahuan