Minggu, 31 Oktober 2010

ASAL MULA MUNCULNYA KEONG RACUN


Dongeng
ASAL MULA MUNCULNYA KEONG RACUN
Di ceritakan kembali oleh : La Dawan Piazza, dari tulisan Eti Indriani.JK
Di sebuah perkebunan yang letaknya jauh dari pedesaan, terdapat sebuah keluarga yang selalu hidup bahagia dalam kesederhanaan. Rumah kecil di tengah perkebunan itu dihuni oleh sepasang suami istri dan seorang putrinya yang sangat mereka kasihi, Merah Delima, demikian nama putri mereka.
Merah Delima kini tumbuh menjadi seorang gadis remaja yang cantik jelita. Kepribadian pun luhur, sehingga sang ayah dan ibu sangat menyayanginya.
Suatu ketika Merah Delima berjalan-jalan ditengah perkebunan dan saat ia tengah santai menikmati indahnya suasana perkebunan, ia terganggu oleh datangnya seorang pemuda tampan, yang kebetulan lewat di tengah perkebunan itu.
Sang pemuda menyapa lembut Merah Delima “Apa gerangan yang sedang kau kerjakan…?, tanyanya. “Tidak ada, hanya sekedar jalan-jalan,” jawab Delima singkat.
Sang pemuda terdiam sesaat, ketika Delima meneruskan kata-katanya. “Hendak kemanakah kau melalui jalan perkebunan ini..?,” tanya Delima. “Saya hendak pulang,” jawab pemuda itu. “Pulang ? Dimanakah rumahmu?,” tanya Delima lagi.
“Di sana, di desa yang jauh letaknya dari perkebunan ini, dan kau, dimanakah rumahmu…?,” lanjut pemuda itu balik bertanya. “Itu..itu…rumahku,” kata Delima menunjuk kearah sebuah rumah kecil yang sangat sederhana.
“Sang pemuda berkata “Kita sudah cukup lama berbincang, tapi saya belum tahu namamu…?.”
Merah Delima terdiam sesaat, dengan seulas senyum Delima menjawab,“ Namaku Merah Delima, dan cukup dipanggil Delima.”
Belum sempat Delima melanjutkan perkataannya, sang pemuda menyahut, “Namamu bagus sekali dan kau cukup memanggilku Jodi,” sahut pemuda itu, seakan ia tahu, bahwa Delima memang ingin menanyakan namanya.
Teriknya matahari ternyata membuat mereka sadar, bahwa mereka sudah terlalu lama berbincang. Akhirnya Jodi mohon diri untuk melanjutkan perjalanan pulang.
Delima terpaku menatap kepergian Roni, sahabat barunya. Sepertinya Delima tengah memikirkan sesuatu.
Setelah beberapa saat delima tersentak dengan sebuah panggilan. Ternyata sang ibu memanggil Delima dan menyuruhnya pulang. Delima melangkahkan kaki untuk pulang, walau bayangan Jodi selalu ada diingatannya.
Beberapa hari kemudian, Delima berjumpa kembali dengan Jodi. Mereka tampak semakin akrab dan pada suatu hari mereka sepakat untuk jalan-jalan disekitar perkebunan untuk menikmati indahnya suasana perkebunan.
Orang Jawa bilang Witing tresno margo kulino. Ternyata pepatah itu ada benarnya. Kian hari di lubuk hati mereka semakin tumbuh benih cinta dan kasih sayang. Hampir setiap hari mereka habiskan untuk bercanda bersama.
Pagi itu suasana perkebunan begitu sejuk, indah, dan penuh pesona alam yang melantunkan senandung rindu. Jodi dan Delima berjalan-jalan ditengah perkebunan dan disaat itulah Jodi memberikan cincin mungil berbatu, batu cincin itu berwarna merah delima.
Sore pun tiba. Delima pulang dengan sangat bahagia. Delima menceritakan semuanya kepada sang ibu. Sang ibu hanya tersenyum, sebagai seorang ibu, ia bisa merasakan kebahagian putrinya yang baru menginjak remaja dan sang ibu yakin, bahwa Delima bisa melangkah menuju arah yang terbaik bagi dirinya.
Delima selalu memakai cincin itu. Ia sangat menyayanginya. Kemana pun ia pergi, cincin itu selalu melingkar di jari manisnya dan Delima pun selalu merawat cincin itu agar selalu tetap indah. Ternyata, Sang Maha Pengasih berkehendak lain. Ketika Jodi sedang berdua dengan Delima, mereka duduk santai di bawah sebatang pohon yang rindang, tengah menikmati indahnya alam dan canda ria tercipta diantara mereka, Jodi sempat menatap cincin yang melingkar di jari manis Delima.
“Delima, mana batu cincin itu…?,” tanya Jodi.
Delima tersentak dan sangat terkejut dengan pertanyaan Jodi. Ketika dilihatnya batu cincin itu, ternyata batu cincin itu memang telah tiada dari lingkaran cincinnya, Delima terdiam. Tubuhnya lesu serasa tak bertulang. Wajahnya kelihatan murung dan yang jelas Delima sangat merasa kehilangan.
Sejak saat itu Delima tak henti-hentinya mencari batu cincin itu. Di setiap tempat dan terkadang air mata pun turut serta menemani Delima mencari batu cincin itu, tapi batu cincin itu tidak ditemukannya.
Jodi yang tahu akan kesedihan Delima pun mencoba untuk mencari batu cincin itu dan Jodi selalu menghibur Delima, tetapi hasilnya pun sia-sia.
Keesokan harinya ketika Delima tengah mencari batu cincin itu, Jodi menghampirinya. Jodi begitu sedih melihat Delima yang jadi pemurung.
“Delima, berhentilah mencari batu cincin itu, biar besok Jodi akan ke kota untuk membeli batu cincin itu, sebagai gantinya,” sapa Jodi.
“Tidak mau, saya hanya mau batu cincin itu”, jawab Delima. “Iya, besok saya akan membelikan dengan bentuk dan warna yang sama seperti batu cincin itu,” lanjut Jodi. “Tidak mau pokoknya tidak mau, saya hanya mau batu cincin itu,” jawab Delima kedua kalinya. Jodi terdiam. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan.
Dan hari ke hari Delima bertambah murung. Kedua orang tuanya sangat prihatin dengan keadaan Delima. Jodi yang ketika itu berada di rumah Delima selalu menghibur Delima. Jodi selalu berusaha agar Delima bersedia jika batu cincin itu diganti dengan bentuk dan warna yang sama, tapi Delima tetap tidak mau, ia tetap menginginkan batu cincin itu.
Malam kelima belas hilangnya batu cincin itu, Delima betul-betul merasa lelah. Tiba-tiba ia teringat akan seekor Keong Racun yang selalu berjalan sangat lambat, tanpa sadar Delima berkata dengan nada berdoa dan meminta pada Allah, “Seandainya hambamu ini Ya Allah menjadi seekor Keong Racun, mungkin hambamu ini bisa berjalan meneliti setiap tempat dan mungkin hamba bisa menemukan batu cincin itu kembali,” Delima berkata dengan meneteskan air mata, karena terlalu lelah Delima tertidur pulas.
Ternyata Allah mengabulkan permintaan Delima. Menjelang pagi saat Delima terbangun dari tidurnya. Delima sangat terkejut karena mengetahui bahwa dirinya telah berubah wujud menjadi seekor Keong Racun; Delima tersadar dan teringat akan kata-katanya tadi malam.
Delima yang kini telah menjadi seekor Keong Racun merasa bahagia karena ia bisa menelusuri setiap tempat dengan teliti untuk mencari batu cincin itu, tapi ia pun sangat sedih tak kala melihat ayahnya yang selalu murung dan ibunya yang selalu menangis serta Jodi kekasihnya tampak sangat sedih sejak Delima menjelma menjadi seekor Keong Racun.
Begitulah awal cerita munculnya Keong Racun. Pada dasarnya ia adalah seorang putri remaja yang sangat cantik jelita. Rumah Keong Racun yang berwarna merah kebiru-biruan itu melambangkan bahwa warna kebiruan menggambarkan birunya hati Jodi yang ditinggalkan kekasihnya yaitu Delima yang telah menjelma menjadi Keong Racun. Dan warna merah menandakan ia adalah Delima kekasih Jodi yang terus mencari batu cincin yang berwarna merah delima. Ia berjalan sangat lambat mencari batu cincin itu dengan harapan bisa menemukan kembali batu cincin itu.
****************

Hikmah dalam cerita ini bahwa sikap Delima yang kehilangan batu cincin dan tidak mau digantikan oleh Jodi batu cincin yang baru menandakan bahwa ia sangat menyukai batu cincin itu, bagaikan ia sangat mencintai Jodi dan cinta Delima kepada Jodi yang tidak tergantikan. Ia wanita yang teguh pendirian dan pantang menyerah untuk terus mencari batu cincin itu sampai ketemu

Sumber Cerita :
Cerita Dongeng ini adalah hasil kiriman Eti Indriani. JK yang beralamat di Desa Kota Padang, Kec. Muara Dua Kisam, Kab. Ogan Komering Ulu, Prop. Sumatera Selatan 32172 ke redaksi Majalah Sahabat Pena, milik PT. Pos Indonesia dan cerita ini pernah diterbitkan Majalah Sahabat Pena No. 320 – Juni Tahun 1998 dengan judul “SIPUT DAN MERAH DELIMA” tapi saya ceritakan kembali dengan mengganti tokoh laki-laki “Roni” dari  cerita sebelumnya menjadi “Jodi”, demi untuk mendukung cerita karya saya Keong Racun dan Tokek Belang dengan judul baru “Asal Mula Munculnya Keong Racun”.

Buku Rekomendasi walaupun tidak ada kaitannya dengan cerita di atas ::

Tidak ada komentar: