Jumat, 01 Februari 2013

MENYIBAK TABIR MISTIS MAKAM ULAMA BUGIS


MENYIBAK TABIR MISTIS
MAKAM ULAMA BUGIS

Kebanyakan orang menyebut makam “Syekh Yusuf Tuanta Salamaka” sebagai ko’bang. Namun, beda bagi warga yang bermukim disekitar situs makam. Menurut mereka, jika berada di Ko’bang berarti sedang mengunjungi Lakiung, dimana kuburn Syekh Yusuf dan para raja-raja howa bersemayam.

Sejatinya, penyebutan Ko’bang, adalah untuk mengartikan bentuk kubah makam di sana, yang terlanjur dilapazkan sebagai Ko’bang lidah orang Makassar, Bugis serta suku-suku Sulawesi Selatan.

Juru kunci makam, Haji Muhammad Yusuf Daeng Liong, menjelaskan, Ko’bang itu berpangkal kata dari Kubah, namun kekhasan lidah suku Makassar dan sekitarnya terlanjur menyebut Ko’bang. Sampai sekarang penamaan itu melekat serta mengisi perbendarahaan kata suku Makassar. “Karena lidah kita tidak mampu menyebutnya,” jelasnya.

Di atas tanah itu, juga di sebut-sebut sebagai Karamaka atau Keramat, sebagai tempat yang dikeramatkan seperti pada kuburannya yang berada di Cope Town, Afrika Selatan. “Buka jam 07-15” begitulah sebuah maklumat yang dipajang di sebelah klumat yang dipajang di sebelah kiri pada dinding pintu utama makam Syekh Yusuf. Dengan ukuran 50 centimeter persegi ini hamper saja tidak Nampak karena dilumuri cat warna putih.

Pada jam-jam itulah para peziarah berbondong-bondong masuk. Tidak tanggung-tanggung, mereka dating secara missal bersama keluarga, kerabat atau tetangga, dengan mobil pribadi atau menyewa angkutan kota atau angkutan antar daerah.

Menurut warga setempat yang rata-rata penjual bunga, warga “orang atas” (untuk menyebut masyarakat dari daerah Kabupaten Gowa, Takalar, Jeneponto, bantaeng, Bulukumba) sering berkunjung disini dan beberapa warga dari kabupaten Bone, Maros, palopo, dan daerah lainnya Sulsel. Warga kota Makassar yang jarang berziarah.

Letak kompleks makam kharismatik Syekh Yusuf atau Ko’bang ini berada ditengah kepadatan pemukiman warga Makassar dan Gowa. Tepatnya di jalan Syekh Yusuf, sekitar 500 meter dari gerbang perbatasan kabupaten Gowa-Kota Makassar. Sulawesi Selatan. Jalan ini pula sebagai pertanda perbatasan dua daerah ini.

Kompleks situs berada dalam wilayah administrasi Kabupaten Makassar, namu dua pemerintahan ini sepakat jika makam Syekh Yusuf sebagai bagian dari wilayah Kabupaten Gowa tepatnya di Kelurahan Katangka, Kecamatan Somba Opu.

Sedangkan pemukiman yang berada di samping kiri, kanan, belakang makam masuk wilayah Kota Makassar. Kompleks ini terapit oleh dua perumahan besar, Permata Hijau Indah berada disebelah timur dan Griya Fajar Mas dibelakang kompleks atau bagian utara.



Empat Kubah

 Selain Ko’bang, di dalam kompleks juga berdiri masjid, perpustakaan dan kuburan raja Gowa, para kerabat dari pembesar kerajaan Gowa yang sudah tidak dikenal atau tidak memiliki nama dan sebagai pekuburan umum sehingga terdapat ratusan kuburan warga. Mesjid dengan nama Syekh Yusuf ini dibangun pada tahun 1955.

Arsitektur bangunan ini sarat dengan symbol Islam, terutama penjelmaan bentuk kubah mesjid. Baruga pintu utama situs makam yang ada sekarang ini, tidak jauh dari bentuk aslinya setelah mengalami dua kali pemugaran. Namun jika Anda memperhatikan tekstur Baruga yang tingginya sekitar 6,5 meter ini, sangat dipengaruhi oleh bangunan keratin jawa.

Pemugaran pertama dilakukan pada masa H. Ibrahim Daeng Pabe, juru kunci yang berasal dari generasi ke-8 keturunan Syeikh Yusuf, seabad kematian beliau. Di sini bangunan kubah dibobol untuk dibuatkan jendela, sebelah timur dan barat yang mengatur suhu udara makam.

Sedangkan pada masa Muhammad Yunus Daeng Liong, juru kunci sekarang ini. Pemugaran dilakukan oleh Syahrul Yasin Limpo, sewaktu menjabat Bupati Gowa, pada tanggal 16 April 1998. Pemugaran dilakukan pada pagar, pemberian atap koridor yang akan menghubungkan beberapa tempat dan perpustakaan.

Di bilangan Lakiung ini, terdapat beberapa Ko’bang yang dijadikan obyek wisata oleh pemerintah setempat : makam Raja-raja Gowa di kompleks Mesjid Katangka, makam Arung Palakka, dan makam di kompleks Raja Sultan Hasanuddin.

Di kompleks ini terdapat empat kubah dan makam Syekh Yusuf yang paling besar. Namun, kata Daeng Liong, tidak ada keistimewaan dari besar kecilnya sebuah kubah makam. Ukurannya tergantung berapa jenazah yang disemayamkan didalamnya.

Makam Syekh Yusuf memiliki ukuran Sembilan meter persegi. Diisi oleh kuburan Syekh Yusuf beserta Isteri, Raja ke-19 Gowa Sultan Abd. Djalil, dan beberapa petinggi kerajaan Gowa dan kerabatnya yang berjumlah 11 kuburan.

Sedangkan tiga kubah lainnya, lebih kecil. Ko’bang tersebut merupakan pengikut beliau dari Afrika Selatan yang ukurannya sekitar lima meter persegi dan masing-masing terisi dua buah makam. Namun bentuk Kubah tersebut merupakan penjelmaan dari kebesaran orang yang disemayamkan didalamnya. Syekh Yusuf berasal dari keturunan raja Gowa, konon pemberian nama itu berasal dari Raja Gowa Sultan Alauddin.

Jika Anda memperhatikan atap makam Syekh Yusuf, terdapat guci yang berwarna abu-abu. Keberadaan guci ini sebagai symbol kebesaran Tuanta Salamaka. Guci inilah pertanda sebagai bangsawan besar. “Ibarat sebuah cincin, guci itu adalah permatanya,” ungkap orang yang diberi kedaulatan memegang kunci makam itu.

Tetapi symbol kebesaran dari guci yang menghiasi kubah sekarang ini merupakan imitasi. Guci aslinya telah digasak pada tahun 1967. “Guci itu dicuri ditahun 1967”. Bersamaan beberapa arca-arca peninggalan situs candi di Jawa juga hilang,” sambung penjaga makam yang telah mengabdi selama 40 tahun ini.

Sorban, Tasbih

Jika melihat letak antara Kompleks Makam Syekh Yusuf, makam raja-raja Gowa dalam kompleks Mesjid tua Katangka dan Makam Raja Sultan Hasanuddin dan pembesar lainnya, jaraknya tidak terlalu jauh posisi letaknya juga diduga tidak lepas dari keadaan geografis jaman kerajaan Gowa melawan penjajah VOC. Sebagai bekas-bekas Istana Tamalate dan benteng pertahanan Kalegowa.

Menurut Liong, kompleks makam Raja Sultan Hasanuddin merupakan bekas istana Tamalate, sedangkan kerangka jenazah Syekh Yusuf Tuanta Salamaka dikebumikan di tanah bekas benteng Kalegowa.

Semasa hidupnya, charisma Syekh Yusuf begitu besar, terutama pada masyarakat yang pernah disinggahinya; Banten, Madura, Palembang, Srilanka, dan Afrika Selatan. Setelah kematiannya, muncul pengklaiman bahwa makam-makam beliau juga terdapat dibeberapa tempat yang hingga kini masih tetap diziarahi.



Makam Syeks Yusuf Tuanta Salamaka ini merupakan satu dari enam versi makamnya yang dianggap ada. Di Indonesia terdapat di Banten, Madura dan Palembang. Sedangkan diluar negeri berada di Afrika Selatan dan Srilanka.

Menurut Liong, lima tahun kematian Syekh Yusuf di kebumikan di Cope Town, Afrika Selatan, barulah pihak Belanda mengizinkan pihak kerajaan Gowa membawa jazad Syekh Yusuf. Itu pun setelah menyelesaikan beberapa persyaratan; membayar upeti. “Karena sudah lima tahun, jadi yang dibawa ke sini adalah kerangkanya,” ungkapnya.



Atas perintah raja Gowa ke 19, Sultan Abdul Jalil, kerangka mayat Syekh Yusuf diambil paksa dengan 300 kapal perang kerajaan Makassar (Kerajaan Gowa-Tallo) dan menyita waktu sampai tiga bulan sampai di kampung halamannya, Gowa. Sedangkan ditempat lain, kata H.Liong hanya sorban dan tasbih Tuanta Salamaka.

Sumber : Tabloid Fenomenal edisi 74/2013



Tidak ada komentar: