Rabu, 06 Februari 2013

Disiksa Empat Monster Saat Mati Suri


Disiksa Empat Monster Saat Mati Suri

Oleh : Aryarsyad

Cahaya itu seakan memiliki kekuatan yang maha dahsyat. Pandangan mataku menjadi kabur. Tiba-tiba, saya merasakan seperti ada kekuatan besar menyedot tubuhku..

*****

Apa yang saya tulis ini berdasar pengalaman pribadi yang benar-benar saya alami. Sudah sekian lama sebenarnya saya ingin menulis pengalaman ini, setidaknya sebagai pengingat diri saya pribadi. Tidak lebih!

Agak begitu sulit, dari mana saya mengawali cerita ini. Awalnya waktu itu pertengahan tahun 2002 menurut dokter saya mengidap penyakit hepatitis, jelasnya gangguan fungsi hati. Sakit yang saya derita sepanjang 2 tahun lebih itu, menyisakan banyak pelajaran berharga dalam pola pikirku. Sehingga aku mendapatkan hikmah, jika sehat itu adalah sesuatu yang berharga dalam hidup.

Sakit yang sekian lama, tentu ada rasa jenuh terhadap derita sakit, kalaupun bias memilih pada waktu itu, mati adalah pilihan pertama yang saya pilih. Pertimbangannya adalah sakit yang tidak terjabarkan dalam kata-kata. Pada waktu itu membuat diri saya putus asa. Entahlah, saya rasa pilihan ini tidak saya saja yang memilih, ketika seseorang menderita yang akut, mungkin akan memilih jalan pintas, yaitu kematian. Tapi, Tuhan punya rencana lain terhadap saya, Alhamdulillah saya sehat sampai sekarang.

Selain menderita gangguan fungsi hati, saya juga menderita TBC dalam kata lain sakit paru-paru, entahlah kalau bahasa medis saya bingung. Ceritanya pada waktu itu, sekitar pukul 01.00 dini hari, saya merasakan dingin yang luar biasa pada tubuh saya. Anehnya, saya sadar apakah ini yang namanya menjelang ajal, maut atau kematian itu? Selanjutnya saya tidak ingat apapun, kecuali tangisan istri dan emak saya tercinta saat saya masih sadar.

Selanjutnya, saya merasakan tubuhku seakan melayang-layang ringan di udara, bagaikan sepotong kapas diterpa angin. Sesaat setelah itu seakan menembus kegelapan. Lama sekali, dalam lorong gelap, setelah itu saya tidak ingat apa-apa lagi.

Saat terjaga, aku menemukan ragaku tergeletak di jalan yang gelap dan sepi. Tak ada seorangpun manusia disekitarku. Anehnya, aku mendapatkan kenyataan tak sehelai benangpun melekat di badanku. Ya, diriku telanjang.

Pada waktu itu aku hanya sempat berpikir sekaligus heran, siapa yang melucuti pakaianku. Aku bangkit dan berjalan menyusuri jalan panjang yang seolah tak berujung. Kondisinya begitu sepi. Bahkan sepertinya tidak ada makhluk lain kecuali saya sendiri.

Tiba-tiba, aku melihat seberkas cahaya dikejauhan. Aku segera berlari menuju kesana. Aku segera berlari menuju kesana. Aku berharap menemukan seseorang yang bisa saya minta tolong. Semakin dekat dengan cahaya yang tersebut, mataku menjadi silau. Cahaya itu seakan memiliki kekuatan yang maha dahsyat. Pandangan mataku menjadi kabur. Tiba-tiba, saya merasakan seperti ada kekuatan besar menyedot tubuhku dan melemparkan ke suatu tempat yang sangat jauh. Entah dimana?

Sekali lagi terjadi sebuah keanehan. Saya tiba-tiba sudah berdiri di sebuah jalan dan memakai baju menyerupai jubah hitam. Tapi yang membuat saya heran, disekitarku terlihat pemandangan hiruk pikuk manusia dengan segala pola tingkahnya. Ada yang mabok, berjudi, berzina, mencuri, membunuh, dan macam-macam kejahatan. Dan juga ada pula terlihat orang yang berbicara di podium dengan mulut berbusa-busa, tapi tak ada seorang pun yang mendengarnya, kecuali sekumpulan binatang yang bernama anjing dan babi.

“Dunia apa ini?” Batinku tak habis mengerti. Semuanya berbuat semaunya sendiri. Seperti tidak ada aturan dan tata susila. Orang-orang mempertontonkan tingkah laku apa adanya. Tak ada rasa malu atau sungkan. Seperti yang diperlihatkan dua insan dengan panasnya di sudut jalan disaksikan mata telanjang anak-anak kecil.

Saya segera beranjak dari tempat tersebut, menyusuri jalan yang panas dan berdebu, tiba-tiba saya bertemu dengan dua orang wanita yang saya kenal. Ya, emak dan istriku. Saya panggil keduanya, tapi mereka tidak menoleh walau sedikitpun, apalagi berhenti. Mereka terus berjalan tanpa memperdulikan diriku. Saya bangkit dari tempatku dan hendak mengejar mereka. Tapi langkah kakiku seperti ada yang menggandolinya.

Saya tak bisa berdiri dan hanya bisa terpaku ditempatku berdiri. Saya hanya bisa berteriak-teriak memanggil emak dan istriku. Sementara emak dan istriku terus berjalan sampai bayangan mereka lenyap dibalik kabut. Saya menjadi kecewa dan putus asa. Saya menangis tersedu-sedu.

Tanpa saya sadari, muncul empat orang berwajah seram dihadapanku sambil membawa pentungan. Mereka mirip monster di film-film horor. Tanpa banyak kata mereka menghajarku secara bergantian.

Saya berteriak-teriak minta tolong. Tapi, tak ada seorangpun yang datang menolongku. “Silahkan berteriak! Tak akan ada yang bisa menolongmu,“ kata salah seorang dari mereka.

“Kamu adalah mausia laknat yang perlu diberi pelajaran,” caci yang lain.

“Kamu akan kami masukkan ke dalam neraka,” ancam salah seorang yang lain.

“Manusia sepertimu tak pantas hidup di dunia.” Sambil mencaciku, keempat orang menyeramkan itu memukul dan menghajar diriku tanpa belas kasih.

Hujatan dan cercaan yang bertubi-tubi ditujukan padaku yang juga disertai siksaan fisik yang berat. Saya hanya bisa melolong dan menjerit kesakitan. Sungguh, belum pernah saya merasakan kepedihan, kesakitan, dan siksaan demikian beratnya seperti ini.

Sekujur tubuhku sampai berdarah-darah. Tak ada yang bisa saya lakukan pada waktu itu kecuali menyerukan nama Tuhan, meminta pertolongan. Pada saat seperti itulah saya menyadari segala kekhilafan dan kekeliruanku. Saya tidak ingin mati dalam keadaan berlumuran dosa seperti ini.

Ketika diriku sudah sekarat dan harapan itu tinggal seujung kuku, sayup-sayup saya mendengar suara emak memanggil namaku. Saya terkesiap, “Emak, maafkan aku…” Kataku lirih sambil merintih kesakitan.

Dan ajaib. Orang-orang berwajah seram yang tadi menghajarku lenyap begitu saja. Meski masih merasakan sakit, samar-samar saya melihat kehadiran emak dihadapanku. Dengan kondisi sangat payah, aku merangkak mendekati emak.

Tangan emak terulur kearahku. Dengan susah payah saya mengangkat tanganku yang lemah dan mencoba meraih tangan emak. Anehnya, ketika tanganku menyentuh tangan emak, tiba-tiba seperti ada kekuatan yang luar biasa mengalir ke tubuhku yang sudah remuk bersatu kembali.

Saya merasakan diriku disedot sebuah kekuatan besar. Tubuhku melayang-layang di angkasa dan kemudian jatuh dialas yang empuk. Ada kedamaian menyusup dalam hatiku. Perlahan saya membuka mata. Cahaya terang menyilaukan.

Samar-samar saya mulai bisa melihat kondisi disekelilingku. Sebuah ruang yang tak asing, kamar sederhanaku. Di mana aku terbujur lemas hari-hari kemarin saat sakit. Hampir semua yang saya tabung habis untuk ikhtiar kesembuhan. Dan ketika kejadian mati suri menurut pendapat saya pribadi ini, saya hanya menjalani obat jalan. Tampak emak, istri dan saudaraku juga kerabat yang lain menungguiku dengan deraian air mata. Sungguh saya tidak bisa membalas air mata itu sampai kapan pun.

Saya yakin, kejadian seperti yang saya alami tidak sendiri, ini adalah bagian kecil dari keajaiban semesta ini. Semua ini terjadi adalah semata-mata berkat pertolongan Allah. Kunci semua ini saya yakin adalah doa yang tulus dari orang-orang terdekat kita. Kelapangan hati, orang terdekat kita melapangkan pintu kematianku untuk beberapa waktu, entah kapan lagi, aku pasti akan mengalami mati yang sesungguhnya. Kecintaan mereka yang besar kepadaku mungkin juga sebagai salah satu kekuatan yang mampu menghidupkan saya dari separuh mati!

Semoga sekelumit kisah ini menjadi pengingat untuk diriku sendiri, setidaknya
 sebagai peng “eling” dalam setiap gerak hidup dalam kehidupanku kedepan. Tidak jatuh di lubang yang sama. Semoga tulisan yang singkat ini bermanfaat buat kita semua.

Sumber : Majalah Victory Edisi 68/2013

Tidak ada komentar: