Tampilkan postingan dengan label Novel Horor. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Novel Horor. Tampilkan semua postingan

Jumat, 18 Januari 2013

Demi Ilmu Pelet Penis Mayat Dilahap

Akibat Persaingan Antar Pelacur
Demi Ilmu Pelet Penis Mayat Dilahap

Oleh : Dawai Putra Asmara

“Kamu harus membongkar makam dan memakan kemaluan laki-laki yang mati pada malam Juma’at Kliwon, tepat pada malam ketiga kematiannya. Ambil kemaluan mayat itu beserta sedikit bulunya. Selanjutnya bakar bulu kemaluan itu bersama kemenyan dan bunga kantil. Setelah itu harus memakan kemaluan mayat itu sampai habis”

*****

Sejak kedatangan Sundari sebulan lalu di Wisma Cantika, para pelanggan Ratna banyak yang tertarik dengan gadis bertubuh seksi itu. Lama-lama Sundari menjadi primadona baru ditempat itu. Pelanggannya tak terhitung banyaknya dari itu berakibat pada penghasilan Ratna yang turun drastis. Karena itu dia pun seringkali terlihat murung dan mencari cara supaya bisa kembali disukai para tamu.

Tapi segalanya telah berubah. Malam itu, sejak sore, beberapa lelaki hidung belang sudah antri untuk dilayani Ratna. Bahkan dua orang dari mereka sempat bersitegang karena berebut untuk minta dilayani dan menikmati kemolekan tubuh Ratna lebih awal. Anehnya lagi, meski Sundari sudah tampil habis-habisan dengan dandanan menornya, tapi tak seorang lelaki hidung belang pun yang dating menghampirinya.

Kontan saja hal ini membuat para penghuni wisma yang lain jadi bertanya-tanya. Berbagai dugaan muncul, terutama menyangkut ilmu pelet yang dimiliki Ratna. Dugaan ini muncul karena sudah bukan rahasia umum bagi penghuni Wisma Cantika dalam memiliki ilmu pelet, yang digunakan untuk memikat hati para lelaki hidung belang.

Sebelum kedatangan Sundari, Ratna juga telah menggunakan ilmu pelet untuk mendapatkan pelanggan. Namun ilmu pelet yang didapatnya dari Mbah Suroji tidak menunjukkan keampuhannya. Karena beberapa hari yang lalu Ratna kembali mendatangi dukun sekaligus guru spritualnya yang tinggal disebuah desa dikaki bukit Gunung Bromo.

“Bagaimana ini, Mbah. Ilmu yang Mbah berikan sekarang sudah tidak sehebat dulu lagi,” ujar ratna pada Mbah Suroji di dalam padepokannya, yang hanya berupa sebuah gubuk kecil berdinding anyaman geribik bambu.

“Tidak mungkin! Tidak mungkin kalau ilmu yang aku berikan tidak membawa hasil,” ujar Mbah Suroji membantah ucapan Ratna.
“Benar, Mbah. Sejak sebulan yang lalu saya kesulitan mendapatkan tamu kencan,” keluh Ratna dengan suara lirih.

“Hmmm… tenang saja. Semua itu pasti ada penyebabnya. Pasti ada orang yang sengaja menghambat kekuatan ilmuku,” kata lelaki tua yang doyan menzinahi gadis-gadis pelacur, yang datang meminta bantuannya sebagai syarat utama.

“Mungkin saja, Mbah. Tapi yang pasti, keampuhan ilmu yang Mbah berikan itu jadi berkurang sejak kedatangan Sundari, yang dibawa bos kami dari Desa Maribaya,” terang Ratna.

Mendengar penjelasan Ratna, Mbah Suroji hanya termenung. Kedua mata lelaki tua yang masih menyisakan garis-garis ketampanan pada wajahnya ini menatap tajam ke arah Ratna. Dari raut wajahnya terlihat sekali kalau kakek bertubuh tegap ini sedang menerawang sesuatu pada diri Ratna.

“A..a..a..ada apa Mbah. Kenapa Mbah menatap saya seperti itu. Apakah ada yang salah pada diri saya?” tanya Ratna, mulai terlihat salah tingkah.

“Hmmm…tidak…tidak apa-apa, Nduk. Aku hanya berusaha untuk menyelidiki siapa Sundari sebenarnya dari kedua matamu,” ujar sang dukun.

Selanjutnya lelaki tua yang memiliki deretan gigi rapi ini kembali menatap dalam-dalam kedua mata Ratna. Dari mulutnya samar-samar terdengar suara mantra yang diucapkan dengan lirih.

Mbah Suroji selama ini dikenal sebagai dukun yang banyak dimintai bantuan oleh para Pekerja Seks Komersial (PSK). Hampir semua jimat dan mantra yang diberikannya selalu ampuh, sehingga semua pasien yang datang padanya menyatakan puas.

Begitu pula dengan Ratna, yang sering dijuluki langganannya dengan sebutan “Si Goyang Vibrator”. Sudah hampir tiga tahun pelacur yang menjadi primadona Wisma Cantika ini telah mengabdikan dirinya pada Mbah Suroji untuk menjadi murid, sekaligus melayani syahwat sang dukun yang seakan-akan tak pernah memudar. Sang dukun masih tetap perkasa dalam hal bercinta dan memuaskan lawan mainnya di atas ranjang.

“Bagaimana, Mbah. Apa hasil terawangan batin yang Mbah ketahui tentang Sundari?” tanya Ratna tidak sabar.

“Hmmm…menurut penerawangan mata batinku, aku melihat kalau gadis bernama Sundari itu diselimuti kekuatan gaib ajian Semar Mesem yang maha dahsyat. Pantas saja kalau ilmu yang aku berikan padamu tidak mampu mengalahkannya. Kalau tidak salah, pemilik ajian ini adalah seorang perempuan tua yang tinggal di kaki Gunung Merbabu. Perempuan itu dikenal sangat sakti, tapi dia perempuan yang suka dengan sesama jenisnya. Dia perempuan lesbian. Sudah banyak gadis-gadis muda yang telah menjadi korbannya. Terus terang, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Karena ilmu yang aku miliki sekarang masih jauh berada di bawahnya,” papar Mbah Suroji.

“Lalu bagaimana nasib saya selanjutnya, Mbah. Apakah saya akan terus menderita karena ditinggal pelanggan-pelanggan saya,” ujar Ratna setengah meratap.

“Entahlah, Nduk. Mbah sendiri tidak tahu harus berbuat bagaimana lagi. Ilmu yang Mbah miliki tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan ilmu yang dimiliki temanmu itu,” terang Mbah Suroji.

“Tolong saya, Mbah. Semuanya akan saya lakukan, apapun syaratnya. Yang penting saya bisa menjadi primadona kembali. Tolonglah saya, Mbah,” rengek Ratna.

“Sudah aku katakan, aku tidak sanggup. Aku sudah tidak memiliki ilmu yang lebih kuat dari ajian Semar Mesem. Tapi kalau kamu benar-benar nekat, aku pernah diberi tahu guruku sebuah syarat ritual yang konon hasilnya lebih dahsyat dari ajian Semar Mesem. Tapi sayangnya ilmu itu belum pernah aku praktekkan, sehingga aku tidak pernah tahu hasilnya seperti apa. Soalnya syarat-syarat yang diperlukan untuk menjalani ilmu itu juga sangat berat,” ungkap Mbah Suroji.

“Tidak apa-apa, Mbah. Saya siap melakukan apa saja asalkan keinginan saya terwujud. Tolong saya, Mbah. Bimbing saya dalam melakukan syarat ritual ilmu itu,” kata Ratna penuh semangat.

“Syaratnya adalah, kamu harus membongkar makam dan memakan kemaluan laki-laki yang mati pada malam Jum’at Kliwon, tepat pada malam ketiga kematiannya. Ambil kemaluan mayat itu beserta sedikit bulunya. Selanjutnya bakar bulu kemaluan itu bersama kemenyan dan bunga kantil. Setelah itu kamu harus memakan kemaluan mayat itu sampai habis,” papar Mbah Suroji.

Saat mendengar penjelasan itu, sempat terbersit rasa jijik yang teramat sangat pada diri Ratna. Namun karena tekadnya sudah sedemikian besar, maka perasaan jijik itu segera ditepisnya jauh-jauh. Dia bertekad untuk melakukan syarat ritual itu dengan mewujudkan segala keinginannya. Apalagi Mbah Suroji juga memberikan informasi kalau di Desa Tegal Sari, yang berada di bawah kaki Gunung Bromo tempatnya berada, baru saja ada seorang lelaki bujangan yang meninggal. Kematiannya terjadi tepat pada malam Jum’at Kliwon.

“Besok lusa adalah peringatan tiga hari kematian lelai itu. Karenanya kalau niatmu sudah bulat, kamu harus mengambilnya malam itu juga,” ujar Mbah Suroji.

Tekad Ratna benar-benar sudah bulat. Tepat pada hari yang disebutkan sang dukun, perempuan desa berwajah ayu, bertubuh sintal namun penuh ambisi ini berangkat sendiri ke makam desa yang berada di sebuah perbukitan. Dengan hanya berbekal sebuah cangkul dan pisau belati, Ratna membongkar makam Slamet yang meninggal pada malam Jum’at Kliwon akibat tergilas truk bermuatan besi baja.

Cukup lama Ratna menggali tanah kuburan yang masih basah itu. Namun, setelah bersusah payah menggali dan saat kain kafan mayat mulai terlihat, maka denga segera tangan Ratna merobek kain kafan yang kotor dengan tanah itu pada bagian tengah dan langsung memotong kemaluan almarhum Slamet dengan sebuah pisau belati. Sreett… sreett… Crass!

Bau busuk yang menyengat hidung sepertinya tidak lagi di hiraukan Ratna. Setelah selesai melakukan syarat utama, maka dengan cekatan gadis berambut ikal coklat itu membungkus penis yang telah hitam membiru dengan selembar kain puth yang telah disiapkannya. Selanjutnya dia menutup kembali lubang kuburan almarhum Slamet dengan terburu-buru. Setelah membersihkan tangan ala kadarnya, ia pun segera bergegas menuju rumah sang dukun.

Sesampainya di rumah Mbah Suroji, lelaki tua itu segera membimbing Ratna untuk melakukan ritual. Cukup lama Mbah Suroji mempersiapkan berbagai perlengkapan penunjang ritual. Begitu semuanya telah siap, Mbah Suroji segera memandikan Ratna dengan kembang tujuh rupa sebagai awal menjalani ritual. Aroma tak sedap yang terbilang aneh pun menyeruak memenuhi ruangan di mana Ratna melakukan ritual. Asap dari perapian tempat benda-benda itu dibakar langsung menyebar ke berbagai penjuru ruangan, membuat matanya terasa perih.

Saat asap dari perapian itu dirasa sudah cukup banyak menggumpal, Ratna segera mengambil daging kemaluan yang diletakkan di sebelahnya. Daging penis almarhum Slamet yang telah hitam membiru itu kemudian diasapi diatas perapian, sambil terus dibolak-balik. Bau busuk pun langsung menyebar ke seluruh penjuru ruangan, hingga siapa pun yang ada di situ akan di buat muntah, begitu pula dengan Ratna.

Namun tekad dalam hati Ratna sudah begitu bulat, maka dengan segenap kemampuannya si pelacur itu tak menghiraukan bau busuk itu. Dan setelah perapian sudah tak lagi mengeluarkan asap tebal, Mbah Suroji segera menyuruh Ratna untuk memakan daging penis yang berbau busuk itu sedikit demi sedikit sampai habis. Meski sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menahan bau busuk yang keluar dari daging penis itu, namun tetap saja beberapa kali gadis pelacur ini nyaris muntah. Namun pada kenyataannya, semua daging penis itu pun telah habis dimakannya.

Karena sudah berhasil menghabiskan daging penis itu. Selanjutnya Mbah Suroji menyuruh Ratna untuk melakukan semedi semalam suntuk di tempat itu guna menguatkan ilmu yang diserapnya.

Waktu terus berlalu. Ternyata dengan kedahsyatan ilmu baru yang dimilikinya, kini Ratna kembali menjadi primadona di Wisma Cantika yang ditempatinya. Ratna telah menjadi pelacur high-class dengan bayaran yang mahal dari sebelumnya. Entah sampai kapan Ratna akan menyudahi petualangannya. Hanya waktu yang akan menjawab.

Sumber : Tabloid Horor Edisi 005 / Tahun 2 / 2013

Sabtu, 05 Januari 2013

Misteri Beringin Tua Bikin Kemaluanku Membusuk


Misteri Beringin Tua Bikin
Kemaluanku Membusuk

Oleh : Jemy Haryanto

Kisah menyeramkan ini dituturkan langsung oleh korban. Dimana dirinya tak henti mendapat teror seorang nenek misterius penunggu pohon tua yang dikencinginya. Tak hanya itu kemaluannya pun membengkak dan membusuk. Berikut adalah kisah selengkapnya

*****

Sebut saja namaku Iwan. Umurku 32 tahun sekarang. Aku adalah seorang PNS di salah satu kantor pemerintah di Pontianak. Pengalaman sarat mistis yang pernah aku alami berawal ketika aku dan teman-teman kampus berekreasi ke sebuah pantai di luar kota, untuk mengisi liburan akhir semester saat kuliah dulu.

Sengaja kisah ini kututurkan, agar para pembaca dapat mengambil hikmah. Ya, setidaknya dapat berhati-hati dalam melakukan setiap aktifitas karena di dunia ini tanpa kita sadari terdapat dimensi kehidupan lain, yang di dalamnya hidup mahluk-mahluk yang tak bias dilihat dengan mata telanjang.

Suatu pagi, beberapa tahun silam, aku terbangun setelah mendengar suara rombongan sepeda motor meraung-raung di halaman depan rumahku. Lalu kulirik jam pada dinding kamar. Sudah waktunya berangkat. Memang, untuk mengisi liburan panjang, hari itu aku bersama teman-teman kampus akan berekreasi ke pantai Pasir Panjang, kota Singkawang. Saat hendak beranjak dari tempat tidur, tiba-tiba daun pintu terbuka lebar dan beberapa orang masuk menyerbuku. Mereka tak lain adalah teman-teman kampusku.

“Jangan lama Wan! Kasihan teman-teman sudah menunggu di depan,” ujar Maman. Dengan langkah yang gontai dan mata masih setengah terpejam, aku pun berjalan menuju kamar mandi.
Kira-kira pukul setengah sepuluh pagi aku dan rombongan pun berangkat menuju pantai. Kami memilih sepeda motor sebagai kendaraan. Selain lebih praktis, dengan bersepeda motor sensasi petualangan akan lebih terasa serta bisa memicu adrenalin.

Dengan berkonvoi secara tertib, kami menelusuri jalanan yang berkelak-kelok, mendaki dan menurun. Melewati barisan pohon-pohon yang rindang dan bukit yang menjulang. Bila rasa lelah dan dahaga mendera, kami pun beristirahat di pepohonan yang rindang. Sambil melepas lelah kami pun bercanda ria. Setelah merasa cukup beristirahat kami pun kembali melanjutkan perjalanan.

Sekitar sore atau selama empat jam lebih perjalanan, akhirnya kami pun tiba di pantai. Suara deburan ombak dan pasir putih seakan menyambut kedatangan kami. Sorak-sorai pun terdengar riuh menyatu dengan ombak saat teman-temanku menceburkan diri ke laut. Jiwa terasa damai saat aku berdiri di tepi pantai dan menatap air yang biru dan luas. Kuhirup angin segar yang datang menerpa wajah dan rambutku.

Singkat cerita, kami menghabiskan waktu dengan bersenang-senang, bercanda ria sambil menghangatkan diri di api unggun dan tidur ditenda yang menghadap ke pantai itu, akhirnya kami menyudahi liburan mengasyikkan itu. Rasanya ingin berlama-lama berada di sana tapi tidak mungkin, besok kami harus bersiap-siap untuk mengikuti mata kuliah perbaikan.

Karena rasa lelah dan letih ditambah rasa kantuk yang terus mendera akibat bergadang, dalam perjalanan kami banyak habiskan waktu beristirahat. Sampai pada akhirnya kami berhenti dan beristirahat di sebuah gubuk tua yang berada di pinggir jalan.

TUBUH MENDADAK DINGIN
Di tempat itual awal dari malapetaka yang menimpa diriku. Saat itu aku dan beberapa orang temanku ingin buang air kecil. Tepat di belakang gubuk ada sebuah pohon yang sangat besar, berdaun lebat dan memiliki akar yang kokoh. Pohon beringin tepatnya. Melihat ada tempat yang cocok untuk membuang air kecil, aku pun menuju pohon itu dan mengajak temanku. Namun temanku menolak, mereka lebih memilih semak belukar yang tidak jauh dari pohon itu.

“Kalau bisa jangan kencing di situ Wan, sepertinya angker,” ujar Maman memperingatkan.

“Ya betul, pohonnya saja terlihat seram dan angker, cari tempat yang aman saja” temanku yang lain menambahkan.

Mendengar ucapan kedua temanku itu aku malah tertawa geli. Konyol sekali kalau mereka masih percaya dengan tahayul, pikirku. Memang, tak ada hal-hal aneh yang kualami pada saat itu. Semuanya masih berjalan normal.

Setelah beristirahat selama 30 menit lebih di gubuk tak berpenghuni itu, kami pun kembali melanjutkan perjalanan. Namun, saat rombongan hendak melanjutkan perjalanan, tiba-tiba aku merasakan ada sesuatu yang menjalar di tubuhku.

Ya, aku merasakan suhu tubuhku berubah dingin, kemudian mataku seperti berkunang-kunang, dan kepala terasa sangat pusing. Tapi kejadian ini, hanya berlangsung sebentar, sebab semuanya kembali normal. Karena itulah aku menganggapnya hanay sebagai efek dari rasa letih yang mendera tubuhku.

Sekitar pukul 10 malam, kami semua tiba di Pontianak dalam kedaan selamat. Sementara itu, sesampainya di rumah aku langsung merebahkan tubuhku di atas tempat tidur, dan dalam hitungan detik saja aku pun tertidur pulas.

Namun, dalam tidur aku bermimpi didatangi oleh seorang nenek dengan wajah menyeramkan. Dalam mimpiku itu si nenek terus melototiku dengan mengacungkan tangannya, sepertinya dia sedang marah. Dari mulutnya keluar kata-kata yang sangat panjang, tapi aku tidak mengerti apa yang dikatakannya.

Pada keesokan harinya, aku menjalankan aktifitas seperti biasa. Namun ada yang sering menggangguku saat beraktivitas yaitu rasa gatal di kemaluanku. Awalnya, aku menganggap hal itu dikarenakan aku terkena penyakit kulit biasa akibat memakai handuk secara bergantian dengan teman-temanku saat berada di pantai itu, atau mungkin juga rasa gatal itu akibat air yang kurang steril saat mandi di kamar mandi umum. Yang paling mungkin, adalah karena aku telat mengganti celana dalam.

Namun yang aneh, dalam kurung waktu sepekan rasa gatal itu juga hilang, malah semakin menjadi-jadi. Padahal aku telah memberinya bedak, bahkan aku juga mandi dengan sabun antiseptik.

Karena tidak tahan dengan rasa gatal itu, aku pun mencoba melihat apa yang terjadi pada kemaluanku. Bukan main kagetnya aku saat melihat kondisi burungku tak seperti biasanya. Di sekitar daerah kemaluanku dipenuhi dengan bintik-bintik kecil. Aku sama sekali tidak menyadari apa yang telah terjadi. Beberapa waktu lalu saat aku hendak buang air kecil aku tidak melihat bintik-bintik tersebut.

Pada saat itu aku segera ke dokter kelamin untuk memeriksa penyakitku. Setelah diperiksa dokter mengatakan aku terkena penyakit kotor, yaitu syphilis. Tentu saja aku kaget dan tidak setuju dengan apa yang dikatakan dokter, karena aku sama sekali tidak pernah berhubungan intim dengan wanita, apalagi pelacur. Di umurku yang telah mencapai kepala dua waktu itu, aku tidak pernah berhubungan badan baik dengan pelacur atau pun dengan pacarku. Selama menjalin hubungan khusus dengan wanita, aku hanya mencium bibir saja.

Walau pun tidak terima dengan kesimpulan dokter aku tetap mengikuti saran-sarannya, sebab berharap bisa sembuh dari penyakit yang kuidap. Resep obat yang diberikan pun aku tebus dengan uang yang tidak sedikit.

Tapi setelah mengikuti saran dokter dan meminum obat yang diberikannya, penyakit pada kelaminku tak kunjung sembuh, malah semakin parah. Bintik-bintik kecil telah berubah menjadi benjolan-benjolan yang semakin membesar dan disertai dengan rasa gatal yang luar biasa. Celakanya lagi, saat aku hendak buang air kecil terasa perih juga hingga sukar untuk mengeluarkan air seniku. Tentu saja hal ini membuatku semakin khawatir terhadap penyakit aneh tersebut. Karena lambat laun kemaluanku membusuk.

Semenjak menderita penyakit aneh tersebut, aku tidak mau memberitahukan kepada siapa pun, baik keluarga maupun teman-temanku. Aku malu untuk menceritakannya dan merasa takut kalau dituduh telah berbuat macam-macam. Aku lebih banyak mengurung diri dalam kamarku.

Malangnya lagi, penyakit aneh menyiksaku. Karena tidak kuat menanggung beban sendiri dan butuh saran dari pihak keluarga, aku pun menceritakan yang menimpa diriku kepada ayah. Seperti dugaanku, ayah pun menuduhku telah melakukan hal-hal yang negatif. Kemudian ayah membawaku ke dokter spesialis kelamin. Dokter yang memeriksaku mengatakan bahwa ciri-ciri penyakit yang kuderita aku terkena syphilis. Namun ketika darahku diperiksa dilaboratorium, ternyata negative. Aku tidak terkena penyakit kelamin jenis apa pun. Tentu saja hasil diagnosa tersebut membuat dokter bingung apalagi aku dan ayah.

Setelah mendapat perawatan intensif dari dokter, kondisiku sama sekali tidak mengalami perubahan. Sakit yang kuderita semakin bertambah parah. Kemaluanku tampak membengkak, karena benjolan di sekitar kelaminku semakin membesar dan disertai nanah. Benjolan-benjolan itu pun menjalar sampai ke pantat hingga ke perut. Rasa gatal di kelamin berubah menjadi rasa perih sehingga membuatku tidak mampu untuk berjalan. Akibatnya kesehatanku pun semakin memburuk. Suhu tubuh tinggi, disertai dingin yang menggigil. Anehnya, seiring membesarnya benjolan di kelaminku, kondisi tubuhku pun semakin kurus.

NENEK TUA ITU MATANYA MELOTOT
Yang membingungkan, selama menderita sakit aneh tersebut, aku juga sering bermimpi buruk. Dalam mimpi itu lagi-lagi aku melihat nenek berwajah seram itu datang dan tertawa terpingkal-pingkal melihat keadaanku. Dia sepertinya senang melihat aku menderita.

Bahkan yang terjadi kemudian, aku tidak saja melihat nenek misterius itu dalam mimpi, tapi juga dalam keadaan sadar. Aku kerap kali melihat sosok itu berdiri di depan pintu kamar dengan mata melotot seolah-olah hendak memakan kelaminku. Melihat sosok yang menyeramkan itu tentu saja aku menjerit ketakutan.

Aku coba menceritakan keanehan ini kepada ayah dan ibuku. Namun mereka menganggap hal itu adalah halusinasi semata karena pengaruh panas tinggi suhu badan.

Sementara itu, kian hari keadaanku kian parah. Bersamaan dengan itu juga keanehan itu semakin sering menderaku. Pernah suatu malam ketika tidur, aku dikejutkan dengan suara tawa yang terbahak-bahak. Saat aku membuka mata, aku melihat nenek itu tengah berdiri di atas tubuhku, sedang menginjak-injak kemaluanku. Melihat hal itu tentu saja aku menjerit-jerit ketakutan, hingga membangunkan seisi rumahku.

Melihat kondisiku yang semakin memprihatinkan, membuat orang tuaku bersedih. Begitu pula dengan sahabat dan teman-temanku. Segala upaya telah mereka lakukan untuk menyembuhkanku, namun hasilnya sia-sia. Tapi untung saja akhirnya aku dipertemukan dengan seorang berhati mulia dan berilmu tinggi. Dia adalah pak Norman, sebut saja demikian. Pertemuanku dengan pak Norman tanpa diduga sebelumnya. Ayah temanku yang ada di kabupaten lain kebetulan berada di Pontianak, karena ada suatu urusan. Mendengar aku sakit parah dia segera menjengukku yang saat itu secara kebetulan dia bersama pak Norman, salah satu teman kantornya.

Saat pertama kali melihat kondisiku yang tidak berdaya, pak Norman sangat terkejut. Berkali-kali dia mengucapkan Istigfar. Dia memberitahukan kepadaku, juga keluargaku, apa yang sebenarnya telah terjadi menimpa diriku. Dia mengatakan bahwa aku bukan mengidap penyakit medis, tapi mengidap penyakit akibat gangguan jin. Dari hasil deteksi dan terawangnya, aku telah membuat mahluk jin itu marah karena telah mengotori rumahnya, yang tak lain adalah pohon yang aku kencingi saat berada dalam perjalanan pulang dari pantai.

Mendengar penuturan pak Norman seketika aku menjadi ingat dan mengakui kalau pernah membuang air kecil sembarangan. Persisnya di sebuah pokok beringin tua. Mendengar pengakuanku, kemudian lelaki setengah baya itu meminta ijin dan doa restu kepada orang tuaku untuk mencoba menyembuhkanku.

Lalu dia meminta segelas air putih, kemudian duduk bersila dan membacakan doa-doa di air tersebut. Saat dia hendak meminumkan air itu kepadaku, tiba-tiba entah datang dari mana ada sesuatu kekuatan yang menghantam gelas itu dan gelas itu pecah di tangan pak Norman. Untung saja wajahku dan wajah pak Norman tidak terkena pecahan beling.

Melihat kejadian ini, semua yang ada di kamarku tersentak kaget. Suasana semakin tegang dan mencekam saat jendela kamar bergerak kuat dihempas angin yang tiba-tiba saja datang, padahal malam itu tidak ada tanda-tanda hujan akan turun.

Melihat gelagat aneh itu pak Norman lalu memasang kuda-kuda. Aneh sekali, tepat di depannya aku melihat nenek yang kerap hadir mendatangiku dalam mimpi maupun nyata. Ternyata nenek itu marah pada pak Norman berusaha untuk menyembuhkanku.

Ketika melihat nenek itu berusaha menyerang pak Norman, aku menjerit ketakutan dan menunjuk-nunjuk ke arah si nenek yang berdiri tegak di dekat jendela. Tapi aneh, ayah, ibu, paman dan sanak keluarga yang berada di kamarku tidak melihat apapun. Hanya aku dan pak Norman yang melihat sosok menyeramkan itu.

Dengan gerakan-gerakan silat, pak Norman akhirnya berhasil mengalahkan nenek itu. Karena terdesak, sosok nenek itu merasuk ke dalam tubuh ibuku. Seketika ibu kalap, sebab kerasukan. Kami semua menjadi panik. Ibu menyerang siapa saja yang dekat dengannya. Untung saja pak Norman tetap tenang, dengan gerakan cepat dan satu kali hentakan saja sosok gaib itu berhasil dikeluarkan dan dikembalikan ke asalnya.

Setelah semua tenang dan terkendali, pak Norman kembali member aku air yang terlebih dahulu diberinya doa-doa. Setelah meminum air itu aku merasakan lebih baik dan tenang. Pak Norman lalu mengarahkan tangannya ke kemaluanku. Gerakan tangannya seperti membuang sesuatu dari kemaluanku. Pak Norman mengatakan kalau pengobatan yang dilakukannya tidak bias dilakukan sekali, tapi harus rutin sampai aku sembuh total, karena ada energy negative yang terlalu lama berada bersemayam di dalam tubuhku.

Aku bersyukur, setelh menjalani terapi air putih yang telah diberi doa ole pak Norman, tidak sampai satu bulan aku telah sembuh. Benjolan-benjolan kecil di kelaminku pun telah tidak ada lagi dan kesehatanku pun pulih kembali. Aku sangat bersyukur pada Tuhan karena telah memberikan kesembuhan kepadaku.

Inilah kisahku yang mungkin bisa menjadi pelajaran. Dan setelah kejadian itu, aku sangat berhati-hati ketika buang air kecil. Tidak lagi sembarang tempat. Dan tidak pula lupa berdoa.

Kamis, 15 November 2012

HAMPIR MENJADI TUMBAL PESUGIHAN PEMILIK PERUSAHAAN


HAMPIR MENJADI TUMBAL
PESUGIHAN PEMILIK PERUSAHAAN
Oleh : Jemy Haryanto

Kisah nyata dan menyeramkan ini dituturkan oleh seseorang yang enggan disebut identitasnya untuk menjaga privasi. Sebagai seorang yang bekerja di sebuah perusahaan perkayuan, dimana dirinya nyaris saja dijadikan tumbal pesugihan pemilik perusahaan. Berikut adalah kisah selengkapnya

******

Setelah sekian lama menganggur tanpa ada penghasilan, akhirnya lelaki ini diterima pada sebuah perusahaan perkayuan di Kalimantan Barat. Meskipun hanya sebagai karyawan harian, namun dirinya begitu senang. Karena dengan demikian lelaki yang sudah lima tahun tak bekerja ini, tak lagi malu di mata orang lain.

Waktu yang ditunggu-tunggu akhir datang juga. Dimana pintu gerbang perusahaan langsung menyambut kedatangannya di hari pertama masuk. Sambil menunggu waktu, dia sempatkan untuk berkeliling area bangunan besar itu, sekalian melihat-lihat suasana gedung, pelataran parkir, gudang serta satu bangunan tua yang menjadi bangunan induk tempat perusahaan besar ini menjalankan aktivitas produksinya.

Bangunan tua yang dirinya maksudkan tadi merupakan satu bangunan bergaya lama yang terletak di daerah kota tua, namun masih memperlihatkan sisi megah yang menyiratkan kejayaan masa lalu pemiliknya.

“Pemilik pasti sangat kaya hingga dapat memiliki gedung besar dan semegah ini. Aku yakin bangunan ini bisa menjadi warisan bersejarah yang telah dipakai secara turun temurun dari pemilik lama perusahaan ini kepada orang yang sekarang mewarisinya,” ucapnya waktu itu.

Menurut informasi, bangunan bergaya klasik itu banyak menyimpan cerita. Bahkan peristiwa atas jatuh bangunnya bisnis keluarga kaya raya tersebut. Dan dalam suasana pagi yang cerah, dirinya sangat menikmati panorama bangunan tua itu. Namun aneh, tiba-tiba sepertinya ada satu kekuatan lain yang menyergapnya. Dia merasakan seperti ada suara angin yang berhembus lembut, seolah-olah meniup daun telinganya. Sayup-sayup terdengar seperti suara desahan binatang buas di kejauhan yang terbawa angin.

“Ada apa sesungguhnya?” batinnya berucap. Kedua matanya, masih terus asik menikmati bangunan tua itu. Sekilas, tampak gedung megah itu kurang terawatt. Jendela besar berkaca buram, kotor, begitu juga dengan koridor panjang yang melingkarinya. Semuanya terkesan kumuh serta sedikit agak angker. Nahkan, tangga ke lantai atas pun hanya disinari sebuah lampu neon yang cahayanya mulai temaram.

Tak sengaja, pandangannya tertuju ada salah satu jendela yang paling kusam di lantai empat. Entah ruangan apa di atas sana. Sepertinya, ruangan itu hanya disinari oleh cahaya reduplampu. Seketika itu juga semua pandangannya sekan diselimuti oleh hal yang berbau mistis, seolah-olah ada sepasang mata yang sedang bergerak mengawasinya dari atas sana.

“Mungkinkah penunggu gedung tua ini sedang mengawasi gerak-gerikku,” bisiknya dalam hati.

Namun dia segera mengabaikan pikiran itu. Rano, sebut saja demikian, benar-benar sudah memantapkan tekadnya bekerja di perusahaan itu, demi uang dan kebutuhan hidupnya sehari-hari.

“Tunggu sebentar lagi ya, Mas. Bos masih ada urusan. Mohon maaf agak lama menunggu.”
Suara merdu wanita muda mengagetkannya. Rupanya, tidak terasa bahwa Rano sudah satu jam lebih menunggu untuk mendapat giliran masuk wawancara.

Selanjutnya adalah giliran pemuda itu, dan ketika masuk ke ruangan, dia melihat bos besar itu sedang menyantap makan siang dengan sangat rakus. Mulutnya dipenuhi makanan, sementara kedua tangannya sibuk menyendok makanan dan memilah buah-buahan pencuci mulut yang ada di atas meja, seolah tak mempedulikan kehadirannya.

Rano kembali terpana melihat cara orang gemuk itu makan. Hampir menyerupai seekor binatang buas yang baru saja mendapat mangsa. Aneh, bukankah dia seorang bos besar. Meskipun bukan perusahaan nomor satu di provinsi itu, tapi dia adalah seorang bos. Lalu mengapa cara makannya seperti orang kelaparan?

“Ayo, silahkan duduk!” katanya pada Rano. Dengan sungkan, Rano segera duduk di depan meja kerjanya.

Sambil mencuri-curi pandang. Rano mencoba mengamati keadaan ruang kerja sang bos. Sungguh aneh, ruangan besar itu hamper dipenuhi oleh sesajen yang sudah kering. Bahkan, Nampak buah-buahan sesaji yang mulai membusuk hingga airnya menetes mengotori dinding serta karpet lantai. Aneka kue jajanan menjamur diatas meja. Tampak juga beberapa dupa yang masih menyala hingga asapnya memenuhi tiap sudut ruangan. Tak hanya itu, pada dinding serta langit-langit ruangan bergelantungan aneka jimat hingga menambah keunikan ruang kerja ini.

Kembali Rano dibuat semakin takjub, manakala pandangannya mengarah pada sebuah patung besar setinggi hampir 2 meter yang dikelilingi banyak sesaji. Patung ini berdiri tegak disudut ruangan yang agak gelap.

Saat sesi Tanya jawab, ternyata si bos itu memiliki sebentuk wajah yang agak aneh. Matanya sipit karena dia orang cina, namun di balik itu menyerupai mata iblis. Sementara kedua alisnya naik ke atas bak alis para pendekar silat. Saat tersenyum pun dia lebih mirip menyeringai daripada senyuman. Sembari memperlihatkan deretan giginya yang kotor serta tidak terawatt, bahkan masih dipenuhi sisa sisa makanan.

Sekalipun sangat aneh dan menganggu, namun Rano terpaksa harus mengabaikan semua itu. Demi mendapatkan sebuah pekerjaan! Singkat cerita, Rano kemudian diterima bekerja di perusahaan tersebut. Sebagai pekerja harian, lebih tepat lagi cleaning service.

Setelah beberapa lama bekerja, Rano baru menyadari kalau dirinya sebenarnya hanya menjadi umpan kawan-kawan sekantor yang enggan lembur pada setiap Rabu malam atau malam Kamis.

“Hati-hati dengan ada yang ada dilantai empat Ran!” bisik Japar, salah seorang teman sejawat yang baru dikenalnya.

Seluruh Ruangan Kosong
Aneh, peringatan itu bukan hanya datang dari Japar. Bahkan Pak Yopi, seorang satpam di gedung itu juga memperingatkannya agar tidak mencoba-coba naik ke lantai empat sendirian apabila hari telah gelap.

“Saya hanya takut akan terjadi hal buruk pada sampean!” ucap Pak Yopi. Kemudian melanjutkan, “Saya sudah bekerja di sini hampir 13 tahun. Namun sampai sekarang tidak berani naik ke atas.”

Mulanya, Rano tak serius menanggapi cerita-cerita itu. Hingga suatu malam, terjadilah peristiwa itu… Malam itu itu jarum jam telah menunjukkan pukul 20.30. Hampir seluruh ruangan telah kosong. Suasana sepi dan senyap, bahkan kemudian berganti angker. Di luar sana angin berhembus kencang disertai deru hujan.

Rano duduk sendirian sambil terpaku pada dinding. Aneh, tiba-tiba pikirannya melayang ke ruang sepi di lantai empat itu. Kemudian melirik ruang sepi yang bersinar redup itu. Sepertinya, dari arah sana akan memunculkan satu bayangan, bahkan mungkin sesuatu yang mengerikan.

Tak lama, Rano melihat sekelebat bayangan melintas. Rano segera bangkit mengejarnya. Dia mencoba berjalan menuju munculnya bayangna tadi. Tapi, dia tak menemukan siapa-siapa.

Tapi dia yakin telah melihat bayangan. Tapi anehnya, dia menghilang di lorong gelap menuju lantai empat.

Bukannya merasa takut, kejadian itu justru membuatnya semakin penasaran. Kemudian memutuskan untuk menelusuri lorong sepi yang terbentang panjang di depannya itu, sambil berharap bayangan tadi itu muncul lagi. Tak lama Rano menangkap keanehan lagi. Dari ujung koridor gelap itu dia mendengar suara percakapan.

Ketika dirinya dalam kebingungan, jantungnya nyaris copot sebab tiba-tiba ada sebuah tangan menyentuh bahunya. Ketika menoleh, seorang wanita muda telah berdiri di depannya. Dia tersenyum dingin sambil menyodorkan segenggam kertas.

“Mencari siapa bang? Dia bertanya dengan suara datar, disertai raut wajah dingin tanpa ekspresi. Aku diam terpaku. Wanita itu kembali berkata, “Tolong simpan kertas itu di lantai bawah!”

“Bbb..bbaik mbak!” jawab Rano sedikit gemetar. Bulu kuduknya meremang. Dalam hatinya juga bertanya-tanya. “Perempuan ini staff dari bagian apa? Saya belum pernah melihatnya sebelumnya.” Rano bertanya dalam hatinya.

Sambil berusaha menenangkan diri. Rano mencoba bertanya tentang kertas-kertas itu. “Kalau saya boleh tahu, ini kertas apa ya mbak?” Rano bertanya.

“Ini cuma daftar orang yang siap berkorban di sini, sekalipun mereka menolak!” katanya lagi.

“Berkorban? Maksudnya untuk apa?” Rano sedikit kaget sembari terus membolak-balikka dokumen itu.

“Darah mereka!” jawabnya dengan suara agak tertahan.

Kali ini Rano kaget bukan main. Seketika pandangannya berubah gelap. Dan, ketika terang kembali, dia melihat wanita itu sudah tidak ada lagi dihadapannya. Lalu, samar-samar terdengar suara alunan pendek perempuan menyanyi dari arah lorong sepi ini.

Tanpa menunggu lama, Rano kemudian bergegas meninggalkan tempat itu, setelah lebih dulu melemparkan kertas yang disebut dokumen tadi. Pintu pun dibantingnya dengan kencang. Ia bersandar di dalam sebuah ruangan sambil mengatur nafas yang tersengal-sengal.

Satu Persatu Meninggal Dunia
Akibat peristiwa ganjil itu, rasa penasarannya semakin bertambah. Apalagi, pagi setelah malamnya Rano bertemu dengan sosok perempuan misterius itu ternyata ada karyawan yang meninggal. Dia pun semakin ingin tahu.

Belakangan, Rano mulai melihat ada beberapa kejanggalan. Bila dihitung, hamper setiap minggu, satu persatu rekan kerja atau sanak saudara mereka ada saja yang meninggal. Menurut beberapa pegawai senior, setiap yang meninggal raut wajah mereka menyiratkan ada satu hal yang tidak wajar. Kabarnya, wajah jenazah tampak menghitam, punggung, tangan serta kakinya terdapat memar kebiruan, dan mata mereka terbuka, dengan rona wajah mereka seolah habis melihat sesuatu yang amat menakutkan.

Pernah juga terjadi sebuah peristiwa lucu namun menyeramkan. Suatu hari, ada salah seorang manajer di kantor ini yang kerasukan roh seorang perempuan. Sang roh bernama Wulan. Dia telah mati karena bunuh diri 100 tahun silam.

Lucunya, sang manajer yang bertubuh tambun dan galak itu, tiba-tiba dapat berjalan sangat gemulai laksana perempuan. Tak hanya itu, suaranya juga berubah lembut khas wanita muda. Nah dari celoteh Wulan-lah cerita yang sebenarnya bergulir. Termasuk tentang para korban mahluk di lantai empat.

Wulan yang meminjam mulut Pak Wardoyo, sang manajer itu, bercerita bahwa bos besar mereka itu telah meminjam arwahnya sebagai budak suruhan untuk mendapatkan harta. Bahkan, untuk mengikat jiwa seseorang yang dia kehendaki untuk ditaklukkan.

Arwah Wulan juga mengaku bahwa pada hari-hari tertentu dia akan diberi “suguhan khusus” oleh majikannya. Syaratnya, bos mereka itu harus memakan tiga jenis makan kesukaan Wulan dalam jumlah yang amat banyak. Mungkin inilah yang menyebabkan kenapa bos mereka makan dalam jumlah banyak dan nampak rakus.

Rano juga pernah melihat dukun kepercayaan bosnya dating ke lantai empat untuk mengadakan ritual semalam suntuk. Setelah itu, beredarlah cerita dari mulut ke mulut orang dekatnya, bahwa bosnya akan segera memecat beberapa orang karyawan, sebab menurut sang dukun mereka tidak cocok dan harus dikeluarkan.

Yang terjadi selanjutnya, setelah kedatangan dukun itu, suasana di dalam kantor makin kacau. Seringkali terjadi keributan di antara staff dan karyawan. Sejumlah peristiwa aneh juga terjadi. Mulai staff kerasukan, mengalami kecelakaan fatal hingga cacat, bahkan yang meninggal pun ada.

Selain itu, bisnis di perusahaan yang bergerak dalam industry perkayuan itu menjadi tersendat-sendat. Banyak hasil produksi yang tidak laku dijual bahkan dikembalikan karena rusak. Padahal, semua barang produksi yang dikirim dalam keadaan baik tanpa cacat.

Kondisi semacam ini membuat pikiran Rano menjadi tidak karuan. Hingga, pada suatu malam, ketika semua staff dan karyawan telah meninggalkan ruang kerjanya masing-masing, tinggallah Rano sendiri bekerja. Ketika dirinya sedang membereskan dan membersihkan ruangan kerja para staff, tiba-tiba saja ada angin dingin menyapu pundaknya.

Tidak berapa lama, samar-samar Rano mendengar suara perempuan yang seolah sedang merapal mantera. Seketika itu rasa takut di dalam hatinya muncul. Terlebih lagi, lama kelamaan suara itu semakin keras terdengar, meski tidak jelas mantra yang sedang dilantunkannya. Walau begitu, Rano coba memberanikan diri bangkit lalu berjalan ke arah datangnya suara itu.

Dia kemudian membuka pintu koridor ke lantai tiga, yang di duga suara itu bersumber dari sana. Seketika tercium semerbak wangi bunga melati, serta aroma kemenyan. Rano menghentikan langkah untuk sekedar megatur nafas, sambil menenangkan hatinya yang mulai dihantui rasa takut. Hatinya pun kecut bukan main ketika sadar bahwa langkah itu telah sampai di trap tangga terakhir dari sekian anak tangga menuju ruangan di lantai empat.

Sementara itu, suara semakin keras terdengar, diselilingi oleh aroma semerbak bunga dan kemenyan serta anyir darah yang semakin menyengat hidungnya. Sejenak, Rano berdiri terpaku di depan pintu kaca kusam yang membatasi pandangannya ke ruangan bagian dalam. Tangannya bergetar tak sabar ingin membuka pintunya.

Didorongnya pintu itu perlahan. Saat dirinya melangkah tertatih di dalam sauasan temaram, Rano mengenali gerak-gerik sesosok mahluk besar lampu itu. Kakinya pun terasa lemas! Sungguh, dia benar-benar melihat bagaimana makhluk itu sambil menggeram terus menggerogoti mangsanya denga rakus.

Dalam keadaan sangat takut, dia mengenal kalau ternyata mahluk itu wujudnya siluman. Dia sedang mengoyak-oyak sepotong daging merah dengan kuku hitam tajamnya. Setidaknya itulah pandangan gaib yang dia lihat, yang tentu saja tidak dapat dilihat dengan mata telanjang. Namun Rano dapat melihatnya dengan jelas, karena dirinya juga memiliki ilmu supranatural.

Aneh, tiba-tiba lampu di dalam ruangan itu padam. Rano terkejut dan hampir tidak menguasai diri lagi. Bau anyir darah busuk itu sangat menyesakkan dada, hingga kepalanya pusing. Suara dengusan laksana harimau besar itu menghentak jantungnya!

Dalam ruangan gelap itu Rano tidak dapat berbuat apa-apa, selain membalikkan badan menghambur keluar ruangan. Tapi siluman itu tidak tinggal diam. Dia berusaha menangkapnya. Rano kemudian terdorong keluar dari ruangan. Tapi siluman itu tidak tinggal diam. Dia berusaha menangkapnya. Rano kemudian terdorong keluar dari ruangan itu. Di ruangan yang lebar terang itu, Rano cukup jelas melihat wajah mahluk aneh itu, dengan seringai gigi tajamnya yang berlumuran darah.

Rano pun berteriak sekuat tenaga. Tidak sadar, kakinya terpeleset. Tubuhnya terpelanting jatuh berguling-guling menuruni anak tangga sampai ke lantai. Tak khayal lagi seluruh sendi di badannya terasa remuk redam. Kepalnya pusing berat. Bersamaan dengan itu, di telinganya kembali terngiang suara perempuan pembaca mantera tadi. Sambil menahan sakit, Rano segera berlari meninggalkan ruangan….

Seminggu setelah kejadian itu, suatu siang Rano sedang merapikan beberapa barang yang tertumpuk di koridor gelap depan ruangan. Bosnya muncul dengan tiba-tiba. Dia berjalan ke arahnya dengan rona wajah yang tidak bersahabat. Rano segera bangkit untuk member salam. Tidak diduga dia malah mengancam dengan kata-kata yang tidak mengenakan hati.

“Hei…,” sembari jarinya menunjuk ke arah Rano.

“Kamu tahu kalau saya ini orang kaya raya, gua ada uang banyak, ribuan setan, arwah leluhur bahkan jin manapun sudah gua panggil dan gua tundukkan, apalagi  cuma kamu!” cecarnya dengan nada sinis.

“Saya peringatkan! Mahluk besar di lantai empat adalah pelindung saya, seluruh harta saya dia yang jaga, dia amat kuat luar biasa, tidak aka nada yang bias kalahkan dia  punya kekuatan! Dan saya tidak bias mati!” bentaknya lagi.

“Jadi kamu jangan coba-coba ganggu dia punya tempat, apalagi kamu mau jadi pahlawan. Karena bukan di sini tempatnya! Kalau kamu masih butuh makan, kamu kerja baik-baik seperti s bego lainnya atau kamu akan saya keluarkan dari sini!” kejarnya lagi sambil telunjuknya mendorong kening Rano keras-keras.

Setelah itu dia pergi sambil masih terus mengumpat dengan kata-kata yang sangat keras.

Penghinaan bosnya itu memang sungguh menyakiti perasaannya. Harga dirinya telah diinjak-injak oleh bos gendut itu. Namun, bukan ini alasan utamanya untuk berhenti bekerja. Demi Tuhan, sejak peristiwa malam itu, bayangan menyeramkan mahluk itu selalu menghantui nya. Bahkan, dengus nafasnya yang berbau busuk itu serasa begitu dekat dengan hidung dan telinganya.

Walau Rano sangat membutuhkan pekerjaan, namun dia memutuskan untuk segera resign dari perusahaan itu. Dan hari itu, dia kembali duduk di sofa depan ruangan bosnya, menunggu giliran masuk seperti waktu itu. Tapi kali itu bukan untuk mengemis minta pekerjaan, namun dia akan mengundurkan diri.

Tak lama kemudian Rano masuk. Ketika berhadapan dengan bosnya, sedikit pun dia tidak mau melihat wajahnya. Sembari menjawab pertanyaannya, dalam hati Rano terus berdoa dan berdzikir seperti yang pernah diajarkan oleh guru supranaturalnya dulu, serta berusaha tetap menjaga kesadaran pikiran, agar tidak terpengaruh jampi-jampi lewat tatapan matanya yang tajam itu.

Sambil disertai sumpah serapah dari mulut bosnya itu, Rano segera keluar meninggalkan ruangannya. Dengan nama Tuhan, Rano segera tinggalkan kerajaan setan itu untuk kembali kehidupannya yang normal.

Demikianlah sepenggal kisah yang pernah Rano alami. Sekedar informasi bahwa perusahaan itu sekarang sudah tidak ada lagi, alias dirobohkan, bahkan sekarang tinggal lahan kosong tanpa bangunan. Perusahaan itu mengalami kebangkrutan.