Selasa, 11 September 2012

Suamika Dihantui Arwah Lelaki Bawah Kolong Rumah Bangkit

Suamiku Dihantui Arwah Lelaki Bawah Kolong Rumah Bangkit

Oleh Jemy Haryanto

Sebut saja namauku Rumi. Saat ini aku tinggal bersama suamiku, Irfan. Namun meski sudah menikah selama dua tahun, kami belum dikarunia anak seorang pun. Aku tidak tahu apakah aku atau mas Irfan yang tidak bisa memberikan anak. Mengingat kami tak pernah mengkonsultasikan hal tersebut pada dokter.

Meski demikian, selama itu rumah tangga kami baik-baik saja. Dalam arti bukan tidak pernah bertengkar, sering, namun tidak sampai salah satu dari kami mengucap kata cerai. Dan itu hal lumrah dalam rumah tangga. Mas Irfan juga bukanlah orang kaya. Dia hanya bekerja sebagai buruh di sebuah pabrik perkayuan di tempat tinggalku. Karena itu selama dua tahun kami masih hidup menumpang pada mertua, yang tak lain adalah orang tuaku.

Tibalah pada suatu hari, dimana mas Irfan memanggilku untuk mengajakku diskusi usai makan malam. “Ada apa mas?” tanyaku sembari duduk di samping mas Irfan yang sudah terlebih dulu duduk di atas tempat tidur malam itu.

Mas Irfan tersenyum. Kemudian tanpa kusadari, dia mengambil tanganku dan menggengamnya dengan erat. “Aku berencana membeli tanah dan ingin membangu rumah Rum. Mengingat sudah lama kita tinggal di sini. Dan aku merasa beban,” ucap mas Irfan padaku. Aku terdiam sesaat, sambil menggengam erat tangan suamiku.

“Tapi… apa mas sudah punya uang? Mengingat harga tanah tidak murah seperti kita bayangkan. Belum lagi material untuk membangun rumah,” sambilku tatap wajah mas Irfan. Mas Irfan menarik nafas panjang. Sesekali dia menundukkan wajahnya yang oval itu.

“Tidak sekarang Rum. Tapi nanti. Tugas kita sekarang adalah hidup berhemat. Karena kita akan mulai menabung. Aku akan sisihkan uang gajiku untuk kamu simpan. Aku juga akan mencari informasi, siapa tahu ada tanah yang dijual murah,” jelas mas Irfan. Dan akupun tersenyum mendengar itu. Karena aku sangat menyetujuinya. Yah meskipun nanti kami makan dengan berlauk kecap dan garam.

Mulai dari itu kami mulai menabung. Berat memang aku rasa, karena harus menahan diri dari keinginan-keinginan. Selain itu menu makan yang biasanya lengkap, harus kami kurangi. Dalam hal ini, tak hanya mas Irfan yang berjuang, tapi aku juga turut membantu mencari uang dengan membuat kue yang kemudian kutitipkan ke warung-warung. Dari hasil berjualan itu, tak banyak uang yang kusisihkan.

Sampai pada akhirnya tiba. Uang yang kami kumpulkan berdua banyak. Namun kami belum tahu apakah uang tersebut sudah cukup untuk membeli tanah. Saat kami mencari tanah yang akan dijual murah. Salah seorang teman mas Irfan menginformasikan jika ada tanah di sebelah Barat kota dijual dengan harga sangat murah. Tak khayal mas Irfan pun terpikat dan segera meninjau tanah tersebut. Dirasa cocok, lokasi dan harganya, tanpa menunggu lama, mas Irfan langsung menemui si pemilik dan membayarnya. Dan tanah itupun sudah menjadi hak kami sepenuhnya.

Jujur aku senang saat itu, karena mas Irfan sudah berhasil membeli sebidang tanah. Tidak luas memang, tapi cukup lapang untuk membuat sebuah rumah dan sekedar halaman. Kemudian secara bertahap demi tahap pula, mas Irfan membeli material bahan bangunan untuk persiapan mendirikan rumah. Cukup lama kami mengumpulkan bahan-bahan itu. Setiap bulan mas Irfan mengorbankan semua gajinya untuk membelinya. Jadi setiap bulan kami membelinya dengan mencicil.

Ketika sudah berkumpul mulailah mas Irfan pembangunan rumah tersebut. Itu juga tahap demi tahap. Butuh waktu lima tahun untuk mewujudkan rumah kami selesai dan layak huni. Namun saat kami tempati, rumah tersebut belum sepenuhnya selesai. Baru pada tahap asal bias ditempati.

TERPERANJAT

Meskipun demikian, kami berdua bahagia bisa menempati rumah milik kami sendiri. Tidak ngontrak, ataupun tinggal bersama orang tua lagi. Walau sederhana tapi rumah milik sendiri, bebas, mau apa saja, terserah. Kami membuat rumah tersebut dengan dua kamar, yaitu depan dan belakang. Sementara kami tidur di kamar depan yang bersisian dengan ruang tamu.

Satu minggu, dua minggu tak ada kejanggalan yang kami rasakan. Semuanya berjalan normal. Namun masuk pada minggu ketiga, hal aneh mulai mendera kami. Itu terjadi pada mas Irfan. Ceritanya malam itu, usai berbincang, kami langsung menuju peraduan. Aku sengaja mengajal mas Irfan tidur lebih awal, karena dirinya terlihat lelah usai bekerja. Namun baru saja aku hendak memejamkan mata, mendadak mas Irfan beranjak dari tempat tidurnya.

Aku yang saat itu berbaring di samping lantas kaget. “Ada apa mas,” tanyaku ingin tahu. “Aku melihat orang berdiri di ruang tamu,” jawab mas Irfan sembari berjalan untuk memeriksanya. Saat itu kondisi ruang tamu memang dapat terlihat jelas, karena belum ada pintu pada kamar kami. Akupun segera mengikuti mas Irfan pada punggungnya. Namun sesampainya di ruang tamu, kami tak menemukan seorang pun. Tapi kami merasa bulu kuduk kami berdua merinding. Setelah mengecek semua ruangan, kami kembali ke kamar tidur.

“Aneh!” gumam mas Irfan. “Apa mas yakin melihat orang tadi?” tanyaku. “Jelas aku melihatnya. Dia berdiri di ruang tamu. Tapi mustahil secepat itu menghilang,” jawab mas Irfan. Setelah itu kamimemutuskan kembali untuk tidur.

Pada malam ketiga, hal aneh kembali terjadi. Dalam keadaan antara tidur dan terjaga, mas Irfan merasa didatangi oleh seseorang dengan penampilan compang-camping. Rambutnya gondrong, pakaiannya lusuh, ada luka di dada kiri dengan darah meleleh membasahi bajunya. Tak hanya itu, wajah lelaki itu sangat menyeramkan. Itu aku tahu, saat mas Irfan terbangun dengan dipenuhi oleh keringat. Dan aku terbangun juga karena dia sempat berteriak. Kemudian dirinya menceritakannya padaku.

“Mungkin hanya mimpi saja mas,” aku menenangkan suamiku. “Tidak Rum, tapi aku merasa itu nyata. Lelaki itu mendekatiku, kemudian mencekik leherku. Dia sepertinya marah padaku,” suamiku dengan pendapatnya. Aku menghela nafas. Karena jujur, apa yang dikatakan mas Irfan itu, sebenarnya aku juga bisa merasakannya. Memang kondisi pada rumah kami akhir-akhir itu mulai tidak nyaman. “Yah udah mas, sebaiknya kita tidur saja,” aku mencoba menenangkan mas Irfan.

Namun keanehan itu belum berhenti sampai di situ. Malam berikutnya, mas Irfan juga mengalami hal serupa. Antara tidur dan jaga, lelaki itu datang lagi menemuinya. Kali itu dia berwujud lelaki. Tak lama kemudian lelaki itu berubah menjadi sesosok mahluk yang menyeramkan.

MENCIUM AROMA BUSUK

Dari arah ruang tamu, sosok itu melompat ke atas ranjang, dan menindih suamiku. Membuat mas Irfan tak dapat bergerak dan bernafas. Sosok itu menatap dirinya dengan tajam, kemudian menghilang entah kemana. Dan pada saat itulah mas Irfan terbangun dengan nafas tersengal-sengal. Aku yang melihatnya, terang mulai khawatir dengan kondisi mas Irfan. Akupun menyarankan mas Irfan untuk mengobati rumah dengan memanggil seorang dukun. Karena aku beranggapan itu adalah penunggu lokasi itu dan kami tidak meminta izin sebelumnya saat mendirikan rumah. Namun mas Irfan menolak. Dia memang sangat tidak percaya dengan hal-hal berbau paranormal. Dan aku hanya bias menelan air ludah waktu itu. Namun, seketika pikirannya berubah pada suatu hari. Dimana dirinya mengalami hal aneh lagi.

Malam itu, sesampai dirinya di rumah usai bekerja, tiba-tiba dirinya mencium bau tidak sedap di sekitar ruangan dalam rumah. Bau itu seperti bau bangkai. Aromanya sangat menyengat ketika dirinya masuk ke dalam tidur. Dia pikir itu berasal dari bangkai binatang di luar rumah. Tak menunggu lama, diapun segera keluar untuk memeriksa bangkai apakah itu. Namun setelah lama memeriksanya, dirinya tak menemukan hewan yang mati. Bahkan ketika dirinya berada di luar, bau bangkai itu tak tercium. Bau bangkai itu hanya berputar di dalam rumah. Anehnya, aku yang sedari tadi berada di rumah sama sekali tidak mencium bau busuk itu. Akhirnya kami pun membiarkan bau busuk itu.

Malam harinya, saat mas Irfan hendak buang air, tiba-tiba bau busuk itu muncul lagi. Bau tak sedap yang entah datangnya darimana itu seperti mengikuti kemana mas Irfan pergi. Usai buang air, dirinya kaget, karena mendadak seorang laki-laki berdiri di muka kamar. Suamiku melihat lelaki itu sangat kotor, bahkan banyak lalat besar mengerumuninya. Mas Irfan kemudian tahu, jika bau busuk itu berasal dari tubuh lelaki itu. Namun mas Irfan belum melihat wajahnya, karena lelaki itu berdiri membelakanginya.

Dan ketika lelaki itu balik badan, alangkah terkejutnya mas rfan setelah melihat wajah lelaki itu, rusak seperti mayat yang sudah 3 minggu. Tak khayal mas Irfan langsung jatuh pingsan. Aku yang menemukan mas Irfan tergeletak di lantai pada esok paginya kaget bukan main. Dan setelah memberikannya segelas air putih, dan diapun sudah tampak tenang, aku meminta kepada mas Irfan menjelaskan apa sebenarnya yang terjadi. Diapun segera menceritakan.

Bukan main takutnya aku saat itu. Akupun tak segan-segan meminta mas Irfan memanggil seorang paranormal lagi. Tanpa ragu, dia langsung setuju. Esok harinya kami segera membawa Pak Muhsin ke rumah, untuk menerawang apa sebenarnya yang terjadi di rumah kami. Namun sebelumnya, pada malam hari mas Irfan didatangi lelaki misterius itu lagi. Dia datang dalam mimpinya mas Irfan.

Dalam mimpi itu lelaki itu berkali-kali berucap dan meminta tolong agar dirinya ditempatkan di tempat yang layak. Terang hal itu membuat mas Irfan bingung. Dia tidak dapat memecahkan teka-teki itu, apa yang dimaksud lelaki itu. Pak Muhsin langsung melakukan penerawangan. Tak lama lelaki setengah baya itu terkejut. “Apa sebenarnya yang terjadi pak?” tanyaku penasaran. Pak Muhsin diam sesaat, kemudian menjelaskan kalau di bawah kamar tidur kami ada sebuah makam tua. Aku dan mas Irfan terkejut bukan. “Makam?” tanyaku kaget. Pak Muhsin mengangguk pelan.

“Iya, makam bu,” jawab pak Muhsin. Kemudian aku dan mas Irfan saling pandang.

“Makam seorang lelaki yang mati akibat dibunuh pada zaman penjajahan dulu. Kerangka itu minta dipindahkan ke makam yang layak,” jelas Pak Muksin.

“Pantas saja tanah ini dulu dijual sangat murah. Ternyata pemiliknya menyembunyikan sesuatu,” celetukku. Terlihat mas Irfan menarik nafas panjang.
“Jadi apa yang harus kita lakukan sekarang, Pak?” Tanya mas Irfan pada Pak Muksin.

“Besok kita gali kuburannya, dan kita pindahkan ke pemakaman umum. Agar rohnya tidak gentayangan lagi,” ucap Pak Muksin.

Esok harinya mas Irfan meminta tolong beberapa tetangga kanan kiri untuk menggali lantai kamarnya. Betul, ketika lantai kamar digali, terdapat tulang kerangka yang masih lengkap. Tulang lalu diangkat, kemudian dimasukkan ke dalam keranda, demi member penghormatan pada kerangka itu.

Kami juga menyelenggarakan selamatan. Saat kerangka diberangkatkan ke makam umum, juga dilakukan upacara sebagaimana upacara melepas jenazah menuju makam. Kerangka itu dengan penghormatan layak kemudian dimakamkan di pemakaman umum. Tidak lupa mas Irfan juga menggelar acara tahlilan mendoakan semoga arwah sang pejuang mendapat yang layak di sisi-Nya.

Setelah semua upacara selesai, lantai kamar kami juga sudah dibetulkan. Namun hal aneh terjadi kembali. Dalam posisi antara tidur dan terjaga, mas Irfan didatangi lelaki itu. Penampilannya masih sama persis seperti kemarin. Bedanya wajahnya kelihatan lebih cerah.

Dia mengucapkan terimakasih, karena sudah menguburkan kerangkanya dalam kelayakan. Setelah itu, mas Irfan tak lagi mengalami keanehan lagi, dan semuapun berjalan normal.

Kamis, 05 Juli 2012

LEGENDA SONBAI


NASKAH DAUR ULANG BERTEMA PAHLAWAN UNTUK MENYAMBUT 17 AGUSTUS DAN HARI PAHLAWAN 10 NOVEMBER


LEGENDA SONBAI
Diceritakan kembali oleh : La Dawan Piazza


Nama Sonbai tidak asing lagi bagi rakyat Nusa Tenggara Timur, khususnya orang Timor. Hal itu karena tokoh ini sangat gigih mengusir penjajah di tanah Timor sehingga namanya bersemayam di hati orang NTT. Nama julukan yang diberikan Belanda kepada Sonbai yaitu Sonnebait, Sonnabai dan Sonbai.
Nama julukan tersebut diberikan untuk memudahkan pihak Belanda (Sesuai dengan ucapan yang semestinya ditulis Sonba’i).
Berbagai Sumber Mengatakan bahwa Sonbai berasal dari orang Melayu dari Semenanjung Malaka. Nama Sonbai mulai tersohor saat memimpin perang Bipola sekitar tahun 1756 Masehi


Nama Sonbai terdiri dari beberapa versi antara lain :
1.    Nama Sonbai karena sonafnya terletak di bukit dan Sonaf Nai Bei sehingga ia di sebut Sonbai. Pada waktu itu ia datang dari Belu Selatan dan menggawini putri bungsu Nai Fait Sutai Kune dan menggantikan Kune sebagai raja. Ia memerintahkan rakyat membangun istana bertiang delapan. Setela istana itu selesai di bentuk seperti sebuah perahu layar oleh karena di sebut Sonaf bai yang kemudian di sebut Sonbai. Dan raja yang tinggal di istana tersebut di sebut sonbai.

2.    Nama Sonbai diberikan oleh Nai Fait Sutai Kune. Sonbai yang datang bersama-sama Fai Belak dan Ifu Belak menghadiri salah satu undangan perjamuan yang diadakan tuan tanah Nai Kune. Nai Laban mendapatkan giliran pertama mencicipi makanan sesudah dihidangkan menu makanan yang terbuat dari sone (salah satu jenis padi-padian yang langka). Pilihan tersebut merupakan alasan bagi Kune untuk memberi nama Sonbai kepada tamunya. Bai adalah sebutan tambahan yang dirangkaikan pada kata sone menjadi Sonebai yang kemudian dalam pengucapan Atoni Meto menjadi Sonbai.

3.    Nama Sonbai menurut berdasarkan tafsiran yang dibuat AC. Kryuef yang dikutip Schulke Nordholt. Sone dijelaskan sebagai tindakan menempatka diri sendiri di bawah kekuasaan seseorang. Sdengkan bait merupakan tindak suatu sekelompok orang yang menempatkan diri mereka sendiri di bawah pimpinan orang yang berkuasa. Hal ini dipraktekkan sekelompok masyarakat Dawan (Atoni Meto) yang lebih menyukai gaya kepemimpinan pendatang baru daripada Nai Kune.

4.    Nama Sonbai menurut tafsiran Bastian 1885 yang dikutip Andres Tefa Sawu (2004). Nama Sonbai yang membenarkan apa yang dikatakan terhadap Sonbai sebagai putra langit atau putra matahari. Suku kata pertama dikatakan berasal dari Jerman die Sonne yang berarti Matahari. Dalam bahasa Dawan kata Sonne berubah menjadi Son apabila mendapatkan kata sifat yang menerangkan bendanya. Hal ini terkait dengan putrid Nai Kune bahwa seluruh tubuh Sonbai bercahaya seperti matahari seseudah mandi (Midlekooo 1982). Berdasarkan tafsiran tersebut mengapa juga Sonbai disapa dengan nama Neno Anan (putra siang/putra langit).

5.    Nama Sonbai diduga berasal dari Sombayya (Schulte Nordholt 1971). Somba berarti menyembah. Sombayya sendiri merupakan sebuah pangkat sosial politik yang dikenakan atau digunakan oleh para pemimpin termasuk para pemimpin dari Kerajaan Gowa Sulawesi Selatan. Dalam tradisi Kerajaan Gowa yang di sebut oleh M.D Sagimun (1975) dan A. Daeng Patunru (1969): Ketika pelantikan raja Gowa ucapan pelantikan berbunyi: Inai-inai ajjunjungi Salokoa ampassappikik sudang, ambarai cindea, ia karaeng Gowa Sonbai karaengnu tu Gowa

CERITA RAKYAT MODERN ANTI KORUPSI


CERITA RAKYAT MODERN

Pengarang : La Dawan Piazza

TARGET PEMBACA
USIA 10 - 19 TAHUN (REMAJA)

DAFTAR ISI

1.     Burung Nazar dan Si Udin (Afrika) (Inspirasi kasus korupsi Nazaruddin)

2.     Sumpah Pocong Si Udin (Kolombia) (Inspirasi kasus korupsi Nazaruddin)

3.     Si Udin dan Sari Penjual Roti (DKI Jakarta) (Inspirasi kasus korupsi Nazaruddin)

4.     Kicauan Si Burung Nazar dari Negeri Singaraja (Kolombia) (Inspirasi kasus korupsi Nazaruddin)

5.     30 Hari Mencari Daeng Udding (Sulawesi Selatan) (Inspirasi dari kasus korupsi Nazaruddin)

6.     Si Udin dan Topi Jeraminya (Banten) (Inspirasi dari kasus korupsi Nazaruddin)

7.     Penjual Martabak Gantung Diri di Monas (DKI Jakarta) (Inspirasi dari kasus korupsi Nazaruddin)

8.     BBM Si Anjel (Jawa Timur) (Inspirasi dari kasus korupsi Nazaruddin)

9.     Princess Syahrini dan Pangeran Beckham (Indonesia)

10.   Tomcat Si Belalang Tempur  (Indonesia)

11.   Tomcat In Love (Nusa Tenggara Timur)

12.   Tomcat dan Ular Kobra (Nusa Tenggara Timur)

13.   Putri Twitter dan Pangeran Facebook (Nusa Tenggara Timur)

14.   Asal Mula Daun Cawangi (Kemangi) (Sulawesi Selatan)

15.   Pacepo-cepo (Sulawesi Selatan)

16.   Sepeda Singking’na La Singking (Sulawesi Selatan)

17.   Pabbekkeng’na La Majjina (Asal Mula Munculnya Pelangi) (Sulawesi Selatan)

18.   Asal Mula Danau Tempe dan Danau Sidenreng (Sulawesi Selatan)

19.   Asal Mula Nama Kota Pinrang (Sulawesi Selatan)

20.   Lasinrang Bakka Lolona Sawito (Sulawesi Selatan)



KATA PENGANTAR
Pada umumnya, sastra daerah baik lisan maupun tertulis perlu terus dipelihara dan dilestarikan. Sastra daerah dalam buku ini adalah sastra bergenre gaya baru bertema Anti Korupsi yang saya masukkan dalam kategori Cerita Rakyat Modern dengan setting beberapa daerah di Indonesia.
Cerita Rakyat Modern dalam buku ini, terinspirasi dengan kasus korupsi Wisma Atlet Hambalang yang melibatkan para petinggi Partai Demokrat, Nazaruddin, Anas Urbaningrum dan Angelina Sondakh. Cerita ini hanya dongeng belaka dan rekaan pengarang saja sebagai bahan education untuk pendidikan anti korupsi yang telah dicanangkan oleh KPK dan Menteri Dinas Pendidikan Nasional.
Pemilihan judul dan alur cerita diilhami dengan perkembangan berita kasus korupsi Nazaruddin dalam pemberitaan media massa, baik cetak maupun elektronik agar ceritanya tetap up to date. Karena bahasa yang digunakan oleh pengarang menggunakan bahasa ilmiah, bahasa biologi dan bahasa gaul. Buku ini saya tujukan untuk pelajar kelas 4 s/d 6 SD, SMP dan SMA. Cerita ini mengandung banyak pesan moral, amanat, dan nasihat yang dapat dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari.
Buku ini saya masukkan dalam kategori Cerita Rakyat, karena kasus korupsi Nazaruddin sudah menjadi komsumsi publik yang diceritakan dari mulut ke mulut dan sudah diketahui oleh seluruh rakyat Indonesia. Dan saya juga ucapkan Terima Kasih banyak kepada mantan Kepala Sekolah saya di SD Inpres Bertingkat Pinrang, Drs. Muh. Said Abdullah yang telah mendongengkan Asal Mula Daun Cawangi sejak aku SD dalam salah satu cerita di buku ini yang alur ceritanya dan penokohannya saya modifikasi sendiri.
Melalui Cerita Rakyat Modern ini diharapkan para guru dan orang tua murid tidak lagi mengalami kesulitan untuk mendongeng dan mengajarkan pendidikan anti korupsi pada anak-anak sejak dini di rumah dan di sekolah. Demikian pula pada anak-anak yang menjelang remaja diharapkan buku ini dapat menambah pilihan bacaan tentang pendidikan anti korupsi yang masih langka ditemukan.

Selamat Membaca
Kupang, 25 Juni 2012                                               Pengarang

                                                                   (La Dawan Piazza)
                                                               Muhammad Ridwan, S.Kom  


TENTANG PENULIS

La Dawan Piazza adalah nama pena dari Muhammad Ridwan yang lahir di Pinrang, 21 Agustus 1980 yang sejak kecil akrab dipanggil dengan nama La Dawang atau Iwan. Sedangkan kata Piazza artinya Pinrang Asal Saya.

Sejak SMP lulusan STMIK Dipanegara Makassar Angkatan tahun 2000 ini, memang senang menulis, menggambar karikatur dan korespondensi lewat surat menyurat. Dan saat SMU pernah menjadi pengurus Majalah Dinding Latinulu di SMU Negeri 1 Pinrang dengan membuat beberapa gambar karikatur, puisi dan pantun dan sebagai tim dekorasi disetiap acara yang diselenggarakan sekolah termasuk merancang gambar taman bunga SMU Negeri 1 Pinrang tahun 1997.

Penulis yang sangat terobsesi menjadi penulis skenario film yang di angkat dari cerita beberapa karya cerpen, dongeng dan Novel. Selain pencinta dongeng, karikatur dan komik penulis juga doyan nongkrong lama-lama di depan komputer buat browsing internet dan main game.

Buku ini adalah buku ketiga yang pernah ditulis solo dan sebelumnya pernah menerbitkan buku secara Self Publishing Tuhan Kenapa Aku Menjadi Osella (Leutikaprio, Desember 2011), Keong Racun dan Tokek Belang (Leutikaprio, Februari 2012) dan Kumpulan Cerita yang diikutkan dalam antologi E-Love Story #7 untuk menyambut Hari Valentine (Nulis Buku, Februari 2011).

Buku ini di susun kembali dari buku berjudul Keong Racun dan Tokek Belang yang pernah diterbitkan secara Self Publishing setelah mengalami beberapa revisi alur ceritanya dan ditambahkan cerita baru yang up to date banget.

Penulis saat ini berdomisili di Kota Kupang NTT dan bagi yang ingin mengirim saran dan kritikan tentang buku ini, silahkan kirim email ke alamat penulis, asal jangan kirim buku beserta kabel-kabelnya ya, alias Bom Buku boooo….!! He..he..he..!!

Kontak:

 Twitter:
@Mac_Dhawanks