Rabu, 06 Februari 2013

Bertarung Melawan Jin Penunggu Harta Karun


Bertarung Melawan Jin Penunggu Harta Karun

Oleh : Jemy Haryanto

Kisah mistik ini dituturkan langsung oleh pelaku. Dimana demi mengangkat setumpuk batangan emas, dirinya bertarung habis-habisan dengan sesosok jin penunggu harta karun itu. Namun, setelah berhasil mengalahkannya yang terjadi malah membuat dirinya sangat kecewa.

*****

Malam itu, sekitar pukul 22.00 WIB, tepatnya ketika aku sedang melakukan rutinitasku berdzikir, di kamar kosong di rumahku, mendadak isteriku membuyarkan konsentrasiku. Istriku memberitahu kalau di luar ada seorang tamu yang ingin bertemu denganku. Aku pun terpaksa keluar. Dan di ruang tamu itu kulihat Pak Soleh yang telah duduk di atas sofa sambil membuka-buka buku yang terletak di atas meja. Setelah basa-basi sebentar, ia kemudian membicarakan maksud dan tujuannya menemui diriku. Aku menyimaknya baik-baik.

“Kurang lebihnya begitulah kesimpulannya, mas. Karena Pak Indra yang memberi modal, berapa pun hasilnya nanti, dia siap membagi sama rata, “Pak Soleh menutup penuturannya.

Aku diam sejenak, kemudian berucap. “Begini Pak, yang saya pikirkan bukan masalah pembagiannya. Saya hanya heran saja, atas dasar apa bu Lena begitu percaya dan yakin kalau di rumahnya ada timbunan harta peninggalan almarhum? Apakah suaminya dulu itu orang kaya?” tukasku, ragu.

Sahabatku itu tersenyum mendengar penuturanku. “Soal itu saya juga tidak tahu. Tapi yang jelas, Bu Lena yakin seratus persen kalau harta itu memang ada,” katanya.

Kami memang sudah terbiasa ngobrol dibarengi humor, terkadang menyindir satu sama lain, tetapi topik persoalan tetap berlanjut, seperti halnya malam itu. Sambil menyalahkan sebatang rokok.

Pak Soleh kembali bertutur, “menurut bu Lena, awal mulanya ia bermimpi. Suaminya yang almarhum, mendatanginya dan mengatakan kalau dia sendiri yang menaruh emas tersebut di bawah lantai ruang tamu. Tetapi dia berpesan kalau ‘tanaman emas’ itu baru bisa diangkat setelah genap waktunya, dan hanya akan menjadi kenyataan kalau yang mengangkatnya adalah seseorang yang berhati bersih. Artinya, tidak bisa diangkat oleh sembarang orang.”

“Berapa banyak jumlahnya?” tanyaku yang mulai serius.

“Kalau tidak salah, setelah beberapa kali bu Lena mendatangkan orang pintar ke rumahnya, rata-rata mengatakan ada sekitar 32 batang emas. Itu menurut mereka. Sedangkan menurut hemat saya, sekiranya mas berkenan, mungkin nanti bisa diperiksa ulang. Selanjutnya saya serahkan sepenuhnya sama mas. Begitu pesan bu lena,” ucap Pak Soleh.

Aku mengangguk kecil setelah mendengar cerita yang bernada menggiurkan itu. Sebagai seorang yang dikenal memiliki kemampuan mengangkat harta terpendam dengan kekuatan supranatural, tentu saja aku harus menerima tawaran menarik itu.

Tiga hari kemudian, pak Soleh memperkenalkan aku kepada bu Lena. Setelah berkenalan dan akrab, wanita di ambang usia senja itu mulai menceritakan ulang soal mimpi-mimpinya itu.

“Kenapa saya begitu yakin bahwa benda itu memang ada, karena mimpi itu terus berulang-ulang datang dalam tidur saya,” kata bu Lena.

Mendengar penjelasan dari bu Lena, aku tak ingin membuang waktu banyak. Malam itu juga aku melaksanakan penerawangan, menembus dunia lain melalui ketajaman mata batinku. Dan hasilnya cukup meyakinkan. Apa yang kulihat tak jauh beda dengan apa yang diceritakan bu Lena. Di bawah lantai ruang tamu rumah wanita yang telah lama hidup menjanda itu memang kelihatan tumpukan emas batangan. Setelah merasa yakin, maka kupastikan langsung hari untuk melakukan ritual pengangkatan.

Tepatnya Rabu malam, semua bahan-bahan untuk ritual sudah disiapkan. Antara lain, tujuh macam buah-buahan, kembang tujuh rupa, tujuh batang cerutu, sepiring nasi putih, sebungkus rokok kretek Gudang Garam Merah, kopi manis dan kopi pahit, teh manis dan teh pahit, segelas air putih, dan sebotol minyak khusus yang biasa dipergunakan untuk melaksanakan upacara ritual semacam ini. Minyak tersebut biasa juga disebut “Minyak Jin” Harga minyak itu bisa sampai jutaan rupiah. Sebab, tanpa menggunakan minyak seperti itu, rasanya sangat tipis kemungkinannya akan berhasil dengan baik dan lancar.

Sejumlah orang telah berkumpul di ruang tengah, berdzikir membaca Surat Al-Ikhlas secukupnya. Pengertian secukupnya di sini ialah baru boleh berhenti setelah ada petunjuk dariku, yang biasanya akan kusampaikan melalui kode, dan aku harus langsung memberitahukannya kepada mereka yang berdzikir.

Di kamar khusus yang telah kupadamkan lampunya, hanya ada aku dan dua orang rekanku. Aku terus berinteraksi dan sangat melelahkan. Berdasarkan pendeteksian, jin yang menguasai lantakan emas itu sangat kuat.

Setelah diadakan dialog, jin itu tidak mau menyerahkan begitu saja apa yang kami minta. Dia tetap bertahan sesuai perintah sang majikan, yaitu sebelum genap hitungan enam tahun sejak benda tersebut ditanam oleh almarhum suami bu Lena, dia tidak akan menyerahkan kepada siapa pun, kendati kami melaksanakan hajat ini atas permohonan isterinya sendiri.

Cukup lama kami bertarung dengan Jin penunggu harta itu. Hampir dua jam lamanya. Salah seorang rekanku terus mengeluarkan jurus-jurus ampuhnya untuk mengalahkan Jin itu. Si Jin tetap bertahan. Dari langit-langit kamar kudengar jelas seperti benda berat saling berjatuhan menimpa kepalaku. Padahal aku tahu, itu hanya pendengaranku saja. Tidak nyata.

Kecuali sosok Jin yang memperlihatkan penampakannya secara jelas. Dia berbadan tinggi besar, hampir mencapai sepuluh meter, berambut gondrong. Mungkin. Sepasang kupingnya sebesar telinga gajah. Matanya sebesar lampu sepeda motor, sedangkan bagian dada, tangan dan kakinya ditumbuhi bulu-bulu lebat. Sangat menyeramkan!

Aku bersyukur, karena tak lama kemudian Jin itupun menyerah, mengaku kalah, dan berjanji akan menyerahkan semua benda tersebut kepada kami. Ternyata benar. Setelah lampu kunyalahkan, batangan emas tersebut sudah tersusun rapi di atas hamparan sajadah. Berikut dua buah kalung emas. Yang satu sepertinya untuk laki-laki. Satunya lagi untuk wanita.

Dari dalam bambu pendek yang terpaksa kupecahkan, terdapat pula gulungan kertas. Isinya mengatakan bahwa kalung emas wanita diperuntukkan khusus untuk putri bungsu almarhum. Sementara kalung laki-laki untuk bu Lena sendiri.

Benda-benda tersebut kemudian kuperlihatkan kepada semua yang hadir di situ. Kulihat mereka tersenyum puas menyaksikan keberhasilan kerja kami. Terutama bu lena. Mereka nyaris tak berkedip memelototi benda-benda berharga tersebut. Heran, gembira, tetapi terkesan tak percaya pada penglihatan mereka sendiri.

“Betul-betul aneh, tapi nyata. Tapi saya masih tidak percaya benda yang ada di dalam tanah bisa di angkat ke atas, tapi lantai tidak ada yang pecah satupun. Benar-benar tidak masuk logika,” kata bu Lena.

“Jadi sekarang gimana?” tanyaku.

“Sekarang saya percaya seratus persen. Soalnya saya melihat sendiri, dan di rumah sendiri,” ucap bu Lena lagi.

“Kalung-kalung ini boleh langsung kalian pakai,” ucapku.

“Kalau yang lainnya sebaiknya disimpan saja di tempat yang menurut ibu cukup aman. Kalau ibu mau jual, nanti saja kalau sudah waktunya pas, seperti yang tertulis pada surat wasiat yang tertulis pada surat wasiat yang ditulis almarhum. Di sini disebutkan, apabila dimanfaatkan sebelum genap waktunya enam tahun, taruhannya adalah nyawa!”

“Batas waktu itu kapan, mas?” tanya bu Lena lagi.

“Kalau tidak salah tahun depan. Tanggal dan bulan ada tertera di surat itu!” jawabku.

Akan tetapi, karena yang disebut manusia selalu saja merasa kekurangan dan tak pernah mensyukuri nikmat Tuhan, juga memiliki sifat tergesa-gesa. Sebelum sampai waktunya bu Lena bermaksud menjual tiga batang emas itu. Alasannya, selain terhimpit oleh kebutuhan hidup yang semakin meningkat, juga untuk mengembalikan uang minyak dagangannya yang belum ia setor penuh.

Karena semua barang berharga itu adalah milik almarhum suaminya, aku dan rekanku merestui. Kebetulan pula pada waktu itu kami sedang butuh uang untuk keperluan serupa. Segera aku melaju ke salah satu toko emas kenalanku di Pontianak.

Namun hasilnya sangat mengecewakan sekali. Sungguh! Emas batangan tersebut berubah menjadi tembaga. Aku jadi penasaran. Kubawa ke toko lainya. Namun hasilnya sama.

“Ini tembaga pak. Sama sekali tidak ada kadar emasnya. Hanya ini berwarna kuning, tapi bukan emas,” kata si pemilik toko setelah dua tiga kali mengetes kemurnian emas tesebut.

Celaka tiga belas, pikirku. Setelah delapan juta terbang dari dompet, kemudian mati-matian bertarung melawan Jin penunggunya, hasilnya hanya tembaga. Walaupun masih ada harapan akan sempurna dengan sendirinya apabila tiba waktunya kelak, atau melalui bantuan orang pintar yang memiliki ilmu khusus untuk “menyempurnakan” tembaga itu kepada wujud aslinya. Namun itu baru sebatas harapan. Bisa jadi kenyataan bisa tidak.

Namun semuanya kuserahkan kepada Yang maha Kuasa. Yang pasti, dari kasus ini aku mendapat pelajaran berharap bahwa kita sebagai manusia hendaknya bisa bersabar dalam menanti sesuatu hal. Ya, kalau saja kami menjual batangan emas tersebut sesuai dengan waktu yang ditetapkan, mungkin emas itu tidak akan berubah menjadi tembaga.

Sumber : Majalah Victory Edisi 68/2013

Jumat, 01 Februari 2013

Kisah Pengemis Kaya Asal Surabaya Cak To punya Trik Bagaimana mengemis yang benar


Kisah Pengemis Kaya Asal Surabaya
Cak To punya Trik Bagaimana mengemis yang benar

Kali ini cerita tentang seorang pengemis “sukses” yang berpenghasilan Rp. 9 juta rupiah per bulan. Namanya Cak To. Dia sekarang adalah bos pengemis di Surabaya dan tidak hidup lagi sebagai pengemis, melainkan cukup melatih, mentraining, dan melindungi pengemis-pengemis anak buahnya untuk mengemis dengan baik dan benar.

****

Cak To berasal dari keluarga pengemis, berkarir sebagai pengemis, dan sekarang jadi bos puluhan pengemis di Surabaya. Dari jalur minta-minta itu, dia sekarang punya dua sepeda motor, sebuah mobil gagah, dan empat rumah.

Cak To tak mau nama aslinya dipublikasikan. Dia juga tak mau wajahnya difoto. Tapi, Cak To mau bercerita cukup banyak tentang hidup dan “karir”-nya. Dari anak pasangan pengemis yang ikut mengemis, hingga sekarang menjadi bos bagi sekitar 54 pengemis di Surabaya.

Setelah puluhan tahun mengemis, Cak To sekarang memang bias lebih menikmati hidup. Sejak tahun 2000, dia tak perlu lagi meminta-minta di jalanan atau perumahan. Cukup mengelola 54 anak buahnya, uang mengalir teratur ke kantong. Sekarang, setiap hari, dia mengaku mendapatkan pemasukan bersih Rp. 200 ribu hingga Rp. 300 ribu. Berarti, dalam sebulan, dia punya pendapatan Rp. 6 juta hingga Rp. 9 juta.



MENGEMIS SEJAK KECIL

Cak To sekarang juga sudah punya rumah di kawasan Surabaya Barat, yang didirikan di atas tanah seluas 400 meter persegi. Di kampung halamannya di Madura, Cak To sudah membangun dua rumah lagi. Satu untuk dirinya, satu lagi untuk emak dan bapaknya yang sudah renta. Selain itu, ada satu lagi rumah yang dia bangun di Kota Semarang.

Untuk ke mana-mana, Cak To memiliki dua sepeda motor Honda Supra Fit dan sebuah mobil Honda CR-V kinclong keluaran 2004.

Tidak mudah menemui seorang bos pengemis. Ketika bertemu wartawan, Cak To dating menggunakan mobil Honda CR-V-nya yang berwarna biru metalik. Meski punya mobil yang kinclong, penampilan Cak To memang tidak terlihat seperti “orang mampu”. Badannya kurus, kulitnya hitam, dengan rambut berombak dan terkesan awut-awutan. Dari gaya bicara, orang juga akan menebak bahwa pria kelahiran 1960 itu tak cukup mengenyam pendidikan cukup. Cak To memang tak pernah menamatkan Sekolah Dasar.

Dengan bahasa Madura yang sesekali dicampur bahasa Indonesia, pria beranak dua itu mengaku sadar bahwa profesinya akan selalu dicibir orang. Namun, pria asal Bangkalan tersebut tidak peduli. “Yang penting halal,” ujarnya mantap.

Cak To bercerita, hampir seluruh hidupnya dia jalani sebagai pengemis. Sulung di antara empat bersaudara itu menjalani dunia tersebut sejak sebelum usia sepuluh tahun.



Menurut dia, tidak lama setelah peristiwa pemberontakan G-30 S/PKI. Maklum emak dan bapaknya dulu pengemis di Bangkalan. “Dulu awalnya saya diajak Emak untuk meminta-minta di perempatan,” ungkapnya. Karena mengemis di Bangkalan kurang menjanjikan”, awal 1970-an, Cak To diajak orang tua pindah ke Surabaya. Adik-adiknya tidak ikut, dititipkan di rumah nenek di sebuah desa di sekitar Bangkalan.

Tempat tinggal mereka yang pertama adalah di emperan sebuah toko di kawasan Jembatan Merah. Bertahun-tahun lamanya mereka menjadi pengemis di Surabaya. Ketika remaja, “bakat” Cak To untuk menjadi bos pengemis mulai terlihat. Waktu itu, uang yang mereka dapatkan dari meminta-minta sering dirampas preman. Bapak Cak To mulai sakit-sakitan, tak kuasa membela keluarga. Sebagai anak tertua, Cak To-lah yang melawan. “Saya sering berkelahi untuk mempertahankan uang,” ungkapnya bangga.

Meski berperawakan kurus dan hanya bertinggi 155 cm, Cak To berani melawan siapa pun. Dia bahkan tak segan menyerang musuhnya menggunakan pisau jika uangnya dirampas.

Karena keberaniannya itulah, pria berambut ikal tersebut lantas disegani di kalangan pengemis. “Wis tak nampek, Mon la nyalla sebet (Kalau dia bikin gara-gara. Langsung saya sabet, Red),” tegasnya.

Selain harus menghadapi preman, pengalaman tidak menyenangkan terjadi ketika dia atau keluarga lain terkena razia petugas Satpol PP.
“Kami berpencar kalau mengemis,” jelasnya. Kalau ada keluarga yang terkena razia, mau tidak mau mereka harus mengeluarkan uang hingga ratusan ribu untuk membebaskan.

CAK TO PENGEMIS YANG MAU BELAJAR.

Bertahun-tahun mengemis, berbagai “ilmu” dia dapatkan untuk terus meninggalkan penghasilan mengemis. Mulai cara berdandan, cara berbicara, cara menghadapi aparat, dan sebagainya. Makin lama, Cak To menjadi makin senior, hingga menjadi mentor bagi pengemis yang lain. Penghasilan pun terus meingkat. Pada pertengahan 1990, penghasilan Cak To sudah mencapai Rp. 30 ribu sampai Rp. 50 ribu perhari. “Pokoknya sudah enak,” katanya.

Dengan penghasilan yang terus meningkat, Cak To mampu membeli sebuah rumah sederhana di kampungnya. Saat pulang kampung, dia sering membelikan oleh-oleh cukup mewah.

“Saya pernah beli oleh-oleh sebuah tape recorder dan TV 14 inci,” kenangnya.

Saat itulah, Cak To mulai meniti langkah menjadi seorang pengemis. Dia mulai mengumpulkan anak buah. Cerita tentang “keberhasilan” Cak To menyebar cepat di kampungnya. Empat teman seumuran mengikutinya ke Surabaya. “Kasihan, panen mereka gagal. Ya sudah, saya ajak saja,” ujarnya enteng.



BOS PENGEMIS

Sebelum ke Surabaya, Cak To mengajari mereka cara menjadi pengemis yang baik. Pelajaran itu terus dia lanjutkan ketika mereka tinggal di rumah kontrakan di kawasan Surabaya Barat.

“Kali pertama, teman-teman mengaku malu. Tapi, saya meyakinkan bahwa dengan pekerjaan ini, mereka bias membantu saudara di kampung,” tegasnya.

Karena sudah mengemis sebagai kelompok, mereka pun bagi-bagi wilayah kerja. Ada yang ke perumahan di kawasan Surabaya Timur. Agar tidak mencolok, ketika berangkat, mereka berpakaian rapi. Ketika sampai di “pos khusus”, Cak To dan empat rekannya itu lantas mengganti penampilan. Tampil compang-camping untuk menarik iba dan uang recehan. Hanya setahun mengemis, kehidupan empat rekan tersebut menunjukkan perbaikan. Mereka tak lagi menumpang di rumah Cak To. Sudah punya kontrakan sendiri-sendiri. Pada 1996 itu pula, pada usia ke-36, Cak To mengakhiri masa lajang. Dia menyunting seorang gadis di kampungnya. Sejak menikah, kehidupan Cak To terus menunjukkan peningkatan.

Setiap tahun, jumlah anak buah Cak To terus bertambah. Semakin banyak anak buah, semakin banyak pula setoran yang mereka berikan kepada Cak To. Makanya sejak 2000, dia sudah tidak mengemis setiap hari. Sebenarnya, Cak To tak mau mengungkapkan jumlah setoran yang dia dapatkan setiap hari. Setelah didesak, dia akhirnya mau buka mulut. Yaitu, Rp. 200 ribu hingga Rp. 300 ribu per hari, yang berarti Rp. 6 juta hingga Rp. 9 juta per bulan.

Menurut Cak To, dia tidak memasang target untuk anak buahnya. Dia hanya minta setoran sukarela. Ada yang setor setiap hari, seminggu sekali, atau sebulan sekali. “Ya, Alhamdulillah, anak buahnya saya masih loyal kepada saya,” ucapnya.

Dari penghasilan itu, Cak To bahkan mampu memberikan sebagian nafkah kepada masjid dan mushalla di mana dia singgah. Dia juga tercatat sebagai donatur tetap masjid di Gresik.
“Amal itu kan ibadah. Mumpung kita masih hidup, banyaklah beramal,” katanya.

Sekarang, dengan hidup yang sudah tergolong enak itu, Cak To mengaku tinggal mengejar satu hal saja. “Saya ingin naik haji,” ungkapnya. Bila segalanya lancar, Cak To akan mewujudkan itu pada waktunya nanti.


MENYIBAK TABIR MISTIS MAKAM ULAMA BUGIS


MENYIBAK TABIR MISTIS
MAKAM ULAMA BUGIS

Kebanyakan orang menyebut makam “Syekh Yusuf Tuanta Salamaka” sebagai ko’bang. Namun, beda bagi warga yang bermukim disekitar situs makam. Menurut mereka, jika berada di Ko’bang berarti sedang mengunjungi Lakiung, dimana kuburn Syekh Yusuf dan para raja-raja howa bersemayam.

Sejatinya, penyebutan Ko’bang, adalah untuk mengartikan bentuk kubah makam di sana, yang terlanjur dilapazkan sebagai Ko’bang lidah orang Makassar, Bugis serta suku-suku Sulawesi Selatan.

Juru kunci makam, Haji Muhammad Yusuf Daeng Liong, menjelaskan, Ko’bang itu berpangkal kata dari Kubah, namun kekhasan lidah suku Makassar dan sekitarnya terlanjur menyebut Ko’bang. Sampai sekarang penamaan itu melekat serta mengisi perbendarahaan kata suku Makassar. “Karena lidah kita tidak mampu menyebutnya,” jelasnya.

Di atas tanah itu, juga di sebut-sebut sebagai Karamaka atau Keramat, sebagai tempat yang dikeramatkan seperti pada kuburannya yang berada di Cope Town, Afrika Selatan. “Buka jam 07-15” begitulah sebuah maklumat yang dipajang di sebelah klumat yang dipajang di sebelah kiri pada dinding pintu utama makam Syekh Yusuf. Dengan ukuran 50 centimeter persegi ini hamper saja tidak Nampak karena dilumuri cat warna putih.

Pada jam-jam itulah para peziarah berbondong-bondong masuk. Tidak tanggung-tanggung, mereka dating secara missal bersama keluarga, kerabat atau tetangga, dengan mobil pribadi atau menyewa angkutan kota atau angkutan antar daerah.

Menurut warga setempat yang rata-rata penjual bunga, warga “orang atas” (untuk menyebut masyarakat dari daerah Kabupaten Gowa, Takalar, Jeneponto, bantaeng, Bulukumba) sering berkunjung disini dan beberapa warga dari kabupaten Bone, Maros, palopo, dan daerah lainnya Sulsel. Warga kota Makassar yang jarang berziarah.

Letak kompleks makam kharismatik Syekh Yusuf atau Ko’bang ini berada ditengah kepadatan pemukiman warga Makassar dan Gowa. Tepatnya di jalan Syekh Yusuf, sekitar 500 meter dari gerbang perbatasan kabupaten Gowa-Kota Makassar. Sulawesi Selatan. Jalan ini pula sebagai pertanda perbatasan dua daerah ini.

Kompleks situs berada dalam wilayah administrasi Kabupaten Makassar, namu dua pemerintahan ini sepakat jika makam Syekh Yusuf sebagai bagian dari wilayah Kabupaten Gowa tepatnya di Kelurahan Katangka, Kecamatan Somba Opu.

Sedangkan pemukiman yang berada di samping kiri, kanan, belakang makam masuk wilayah Kota Makassar. Kompleks ini terapit oleh dua perumahan besar, Permata Hijau Indah berada disebelah timur dan Griya Fajar Mas dibelakang kompleks atau bagian utara.



Empat Kubah

 Selain Ko’bang, di dalam kompleks juga berdiri masjid, perpustakaan dan kuburan raja Gowa, para kerabat dari pembesar kerajaan Gowa yang sudah tidak dikenal atau tidak memiliki nama dan sebagai pekuburan umum sehingga terdapat ratusan kuburan warga. Mesjid dengan nama Syekh Yusuf ini dibangun pada tahun 1955.

Arsitektur bangunan ini sarat dengan symbol Islam, terutama penjelmaan bentuk kubah mesjid. Baruga pintu utama situs makam yang ada sekarang ini, tidak jauh dari bentuk aslinya setelah mengalami dua kali pemugaran. Namun jika Anda memperhatikan tekstur Baruga yang tingginya sekitar 6,5 meter ini, sangat dipengaruhi oleh bangunan keratin jawa.

Pemugaran pertama dilakukan pada masa H. Ibrahim Daeng Pabe, juru kunci yang berasal dari generasi ke-8 keturunan Syeikh Yusuf, seabad kematian beliau. Di sini bangunan kubah dibobol untuk dibuatkan jendela, sebelah timur dan barat yang mengatur suhu udara makam.

Sedangkan pada masa Muhammad Yunus Daeng Liong, juru kunci sekarang ini. Pemugaran dilakukan oleh Syahrul Yasin Limpo, sewaktu menjabat Bupati Gowa, pada tanggal 16 April 1998. Pemugaran dilakukan pada pagar, pemberian atap koridor yang akan menghubungkan beberapa tempat dan perpustakaan.

Di bilangan Lakiung ini, terdapat beberapa Ko’bang yang dijadikan obyek wisata oleh pemerintah setempat : makam Raja-raja Gowa di kompleks Mesjid Katangka, makam Arung Palakka, dan makam di kompleks Raja Sultan Hasanuddin.

Di kompleks ini terdapat empat kubah dan makam Syekh Yusuf yang paling besar. Namun, kata Daeng Liong, tidak ada keistimewaan dari besar kecilnya sebuah kubah makam. Ukurannya tergantung berapa jenazah yang disemayamkan didalamnya.

Makam Syekh Yusuf memiliki ukuran Sembilan meter persegi. Diisi oleh kuburan Syekh Yusuf beserta Isteri, Raja ke-19 Gowa Sultan Abd. Djalil, dan beberapa petinggi kerajaan Gowa dan kerabatnya yang berjumlah 11 kuburan.

Sedangkan tiga kubah lainnya, lebih kecil. Ko’bang tersebut merupakan pengikut beliau dari Afrika Selatan yang ukurannya sekitar lima meter persegi dan masing-masing terisi dua buah makam. Namun bentuk Kubah tersebut merupakan penjelmaan dari kebesaran orang yang disemayamkan didalamnya. Syekh Yusuf berasal dari keturunan raja Gowa, konon pemberian nama itu berasal dari Raja Gowa Sultan Alauddin.

Jika Anda memperhatikan atap makam Syekh Yusuf, terdapat guci yang berwarna abu-abu. Keberadaan guci ini sebagai symbol kebesaran Tuanta Salamaka. Guci inilah pertanda sebagai bangsawan besar. “Ibarat sebuah cincin, guci itu adalah permatanya,” ungkap orang yang diberi kedaulatan memegang kunci makam itu.

Tetapi symbol kebesaran dari guci yang menghiasi kubah sekarang ini merupakan imitasi. Guci aslinya telah digasak pada tahun 1967. “Guci itu dicuri ditahun 1967”. Bersamaan beberapa arca-arca peninggalan situs candi di Jawa juga hilang,” sambung penjaga makam yang telah mengabdi selama 40 tahun ini.

Sorban, Tasbih

Jika melihat letak antara Kompleks Makam Syekh Yusuf, makam raja-raja Gowa dalam kompleks Mesjid tua Katangka dan Makam Raja Sultan Hasanuddin dan pembesar lainnya, jaraknya tidak terlalu jauh posisi letaknya juga diduga tidak lepas dari keadaan geografis jaman kerajaan Gowa melawan penjajah VOC. Sebagai bekas-bekas Istana Tamalate dan benteng pertahanan Kalegowa.

Menurut Liong, kompleks makam Raja Sultan Hasanuddin merupakan bekas istana Tamalate, sedangkan kerangka jenazah Syekh Yusuf Tuanta Salamaka dikebumikan di tanah bekas benteng Kalegowa.

Semasa hidupnya, charisma Syekh Yusuf begitu besar, terutama pada masyarakat yang pernah disinggahinya; Banten, Madura, Palembang, Srilanka, dan Afrika Selatan. Setelah kematiannya, muncul pengklaiman bahwa makam-makam beliau juga terdapat dibeberapa tempat yang hingga kini masih tetap diziarahi.



Makam Syeks Yusuf Tuanta Salamaka ini merupakan satu dari enam versi makamnya yang dianggap ada. Di Indonesia terdapat di Banten, Madura dan Palembang. Sedangkan diluar negeri berada di Afrika Selatan dan Srilanka.

Menurut Liong, lima tahun kematian Syekh Yusuf di kebumikan di Cope Town, Afrika Selatan, barulah pihak Belanda mengizinkan pihak kerajaan Gowa membawa jazad Syekh Yusuf. Itu pun setelah menyelesaikan beberapa persyaratan; membayar upeti. “Karena sudah lima tahun, jadi yang dibawa ke sini adalah kerangkanya,” ungkapnya.



Atas perintah raja Gowa ke 19, Sultan Abdul Jalil, kerangka mayat Syekh Yusuf diambil paksa dengan 300 kapal perang kerajaan Makassar (Kerajaan Gowa-Tallo) dan menyita waktu sampai tiga bulan sampai di kampung halamannya, Gowa. Sedangkan ditempat lain, kata H.Liong hanya sorban dan tasbih Tuanta Salamaka.

Sumber : Tabloid Fenomenal edisi 74/2013