Tampilkan postingan dengan label Jemi Harianto. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jemi Harianto. Tampilkan semua postingan

Rabu, 06 Februari 2013

Tujuh Hari Meninggal Dunia dan Hidup lagi


Tujuh Hari Meninggal Dunia dan Hidup lagi
Jasad Dukun Penganut Ilmu Hitam Dimakamkan hidup-hidup

Oleh : Jemy Haryanto

Tak lama wanita itu pun jatuh sakit. Tubuhnya mengurus tinggal tulang. Namun siapa sangka tubuh yang setiap malamnya berubah segar dan bergentayangan kemana-mana itu ternyata sudah meninggal dunia selama tujuh hari.

*****
Kisah nyata dan menyeramkan ini menimpa salah satu seorang istri pegawai yang berprofesi sebagai dukun penganut ilmu hitam. Sebagai iktibar, salah seorang yang mengaku familinya menceritakan sekelumit kisahnya.

Menikahi Sukamto, memang sudah lama diinginkan oleh Mumun. Meski sebelumnya cintanya pernah ditolak mentah-mentah alias pupus, namun janda kembang yang sudah dua tahun bercerai dengan suaminya itu, tetap bersikukuh mendapatkannya.

Padahal sudah menjadi rahasia umum, bahwa Sukamto dikenal sebagai seorang duda beranak dua. Namun itu tak menjadi alas an, karena ada hal yang lain yang membuat dirinya tertarik pada lelaki itu. Selain memiliki wajah yang tampan, pekerjaannya pun terbilang mapan. Karena, dia bekerja sebagai pegawai negeri di salah satu instansi pemerintah yang ada di daerah itu, dan memiliki banyak warisan yang ditinggalkan almarhum orang tuanya. Jadi, karena faktor itulah yang sebenarnya membuat Mumun tergila-gila pada Sukamto yang umurnya terpaut lebih muda darinya.

Sebagai seorang janda yang sudah berumur, apalagi telah melakukan kawin cerai sebanyak dua kali dan tak bisa memberikan keturunan. Mumun pun menyadari bukan perkara yang mudah menggaet hati Sukamto yang notabenenya merupakan lelaki dari keluarga baik-baik. Sehingga untuk mendekati dan mengutarakan isi hatinya secara langsung tentu saja tak akan pernah dilakukannya pada lelaki lain sebelumnya. Terkecuali menundukannya dengan kekuatan ilmu hitam.

Mumun memang termasuk wanita yang terkenal pantang menyerah. Setiap dia menginginkan sesuatu, harus segera terwujud meski dengan menempuh jalan pintas. Hal itu pula yang pernah dilakukannya hingga dirinya dapat menikahi dua orang laki-laki yang pernah menjadi suaminya dulu. Mereka dipelet dengan ilmu gendam penunduk hati lewat jasa ibunya yang memang seorang dukun besar berilmu hitam.

Tak hanya pelet, ibunya pun terkenal sebagai spesialis santet, bahkan sudah berhasil menghilangkan beberapa nyawa manusia. Setelah ibunya meninggal dunia dengan kondisi yang tak wajar, kemudian Mumun-lah yang saat itu menjadi penerusnya. Karena itulah tak ada laki-laki yang berani mendekati Mumun, termasuk Sukamto. Selain menjadi penganut ilmu hitam mewarisi ilmu sang ibu, Mumun terkenal sebagai wanita materialistis. Dia mendekati dan menikahi laki-laki hanya untuk menguras hartanya saja, setelah itu dibuangnya begitu saja seperti sampah.

Suami dan Anak Dimantrai
Tiba pada suatu hari, ketika wanita berkulit kuning langsat itu tak mampu lagi membendung hasratnya kepada Sukamto. Dia pun segera merealisasikan keinginannya dengan mengirim gendam kepada Sukamto. Tak hanya sekali, melainkan berkali-kali. Hasilnya, Sukamto pun bertekuk lutut dan kemudian jatuh ke dalam pelukan Mumun. Padahal sebelumnya, lelaki berkumis tebal itu sangat takut kepada Mumun karena profesinya itu.

Tunduknya Sukamto dan kedua anaknya ke bawah ketiak Mumun merupakan suatu kemenangan bagi wanita itu yang memang sudah sekian lama menantikannya. Sehingga nantinya semua harta kekayaan Sukamto akan segera jatuh ke tangan Mumun. Namun hal itu belumlah final, karena untuk dapat mencapai tujuannya itu, Mumun harus memaksa Sukamto menikahinya.

“Kau harus menikahiku mas, agar hubungan kita ini tak menjadi bahan gunjingan orang-orang,” kelit Mumun dengan nada suara kasar.

“Kamu tenang saja Mun, secepatnya aku akan menikahimu,” ucap Sukamto polos.

Karena terus-terusan didesak, akhirnya Sukamto pun menikahi wanita tersebut. Tanpa perayaan maupun pesta. Hanya digelar dengan sangat sederhana, sehingga tak banyak orang tahu kalau mereka itu telah menjadi pasangan suami istri yang sah.

Setahun setelah menikah, mereka pun pindah ke luar kota. Itu berkaitan dengan dipindahtugaskannya Sukamto dalam waktu yang cukup lama. Sehingga dirinya harus membawa istri dan kedua anaknya itu.

Di daerah baru itu, Mumun cepat sekali dikenal. Dikarenakan profesinya sebagai seorang dukun. Tak sedikit orang yang berdatangan meminta bantuan mulai dari penyembuhan penyakit, pelet sampai hal-hal yang berkaitan dengan pembunuhan, apalagi kalau bukan santet.

Bayangkan saja, dalam beberapa bulan, Mumun sudah membunuh dua orang pengusaha kayu atas permintaan lawan bisnis pengusaha tersebut. Atas tindakan itu pula banyak orang yang takut dan menaruh kebencian pada Mumun. Seiring dirinya diserang oleh dukun di daerah baru tersebut, namun selalu dapat ditanganinya.

Namun itu bukanlah akhir karena yang terpenting adalah kekayaan milik Sukamto yang terpenting adalah kekayaan milik Sukamto yang secepatnya harus menjadi hak miliknya sepenuhnya. Kemudian menceraikan dan meninggalkan Sukamto beserta anak-anaknya dijejal diberi makanan dan minuman yang telah diberi mantra-mantra, supaya mereka tetap tunduk di bawah ketiaknya sehingga dengan mudah Mumun memerintahnya. Hasilnya memang luar biasa. Terlihat jelas perubahan itu pada Sukamto. Dia tak lagi seperti dulu, tegas terhadap anak-anak dan berwibawa, melainkan lebih banyak melamun dan tampak seperti orang linglung.

Suatu malam, ketika mereka hendak beranjak tidur. Di atas pembaringan Mumun bercakap-cakap dengan Sukamto. Percakapan itu tak lain adalah berkisar tentang harta kekayaan milik Sukamto.

“Kapan harta kekayaanmu itu dialihkan atas namaku?” tanpa segan Mumun mengucapkannya.

“Iya Mun, kapan saja kamu mau, aku siap saja,” jawab Sukamto singkat.

“Bagaimana kalau minggu depan. Kau izin dulu di kantor, kemudian kita pulang untuk mengurusnya di hadapan notaries,” pinta Mumun.

“Baiklah, nanti aku izin di kantor,” ucap Sukamto sembari merebahkan tubuhnya kemudian tertidur.

Setelah mendapat izin dari kantor, Sukamto bersama istri dan kedua anaknya pulang ke kota asalnya untuk mengurus apa yang dibicarakan malam itu. Mumun pun benar-benar puas dan bisa tertawa lepas.  Karena kini, semua harta kekayaan milik Sukamto telah masuk ke dalam genggaman tangannya. Tak ada yang tersisa sedikit pun untuk Sukamto dan kedua anaknya itu sebagai bekalnya kelak di masa depan. Selanjutnya tinggal menunggu waktu yang tepat untuk meninggalkan Sukamto dan anak-anaknya.

Namun saat dirinya hendak meninggalkan mereka, mendadak Mumun jatuh sakit. Bukan sakit biasa, melainkan penyakit gaib yang disebabkan serangan para dukun yang selama ini menaruh kebencian dan sakit hati, terutama keluarga orang-orang yang telah dibunuh Mumun menggunakan santet. Mereka membayar para dukun untuk membalas dendam.

Mungkin selama itu dirinya terlalu terlena akan harta yang dirampasnya secara halus dari Sukamto, sehingga membuat dirinya lengah dan tak khayal serangan yang bertubi-tubi itu pun akhirnya dapat menembus pertahanannya. Mumun pun tersungkur dan mengeluarkan darah segar dari mulutnya.

Apa yang terjadi pada Mumun tentu saja sangat mengejutkan Sukamto, dan berkali-kali dirinya mengajak istrinya berobat ke rumah sakit. Namun Mumun selalu menolaknya.

“Kau jangan ikut campur. Kau tak tahu menahu tentang masalah ini. Jadi sebaiknya kau diam saja dan tidur,” Mumun marah sembari melangkah keluar kamar menuju kamar khusus, tempat dimana dirinya melakukan ritual.

Di dalam ruangan itu, dirinya berusaha sekuat tenaga menghalau serangan-serangan tanpa henti membaca mantra-mantra. Namun tetap saja dari mulutnya mengeluarkan darah segar. Karena tak mampu lagi menahan sakit, tubuh yang sudah bersimbah darah itu jatuh tersungkur, kemudian pingsan tak sadarkan diri.

“Ibu kenapa yah?” tanya salah satu anaknya dengan wajah pucat.

“Tidak apa-apa, ibumu sedang menyembuhkan orang,” jawab Sukamto berbohong, dan sang anak pun tak bertanya lagi.

“Kalian tak usah khawatir, ibumu baik-baik saja. Sekarang sebaiknya kalian tidur,” pinta Sukamto, kemudian beranjak mengantar kedua anaknya itu ke kamarnya.

Tanpa terasa sudah hamper satu bulan Mumun terbaring sakit. Tubuhnya terkulai lemas tanpa daya.

Bahkan semakin hari, kondisi tubuh Mumun semakin menyusut alias kurus. Wajahnya timpus dan pucat, sementara kedua matanya menatap kosong ke arah langit-langit kamar.

Namun selama dirinya sakit, Sukamto dan kedua anaknya tak pernah mengurusnya. Tentu saja bukan kemauan mereka untuk tidak peduli, melainkan karena permintaan langsung dari Mumun. Sehingga mereka hanya dapat melihat dan mengamati keadaan Mumun dari luar kamar khusus itu.

Beberapa hari kemudian, tepatnya tengah malam, Mumun memanggil Sukamto dengan berteriak-teriak. Itu dilakukannya, setelah dirinya melihat kedatangan para jin suruhan para dukun yang kemudian berdiri mengelilinginya dan siap menghantamnya. Anehnya, makhluk-makhluk itu menghilang bersamaan dengan teriakan Mumun memanggil Sukamto.

“Ada apa Mun?” tanya Sukamto.

“Aku mau besok kau panggil Mak Yong untuk datang ke sini, karena aku sudah tak sanggup lagi menahannya,” pinta Mumun.

“Siapa itu Mak Yong dan di mana tinggalnya?” Sukamto bertanya.

Mumun terdiam sesaat, sembari menarik nafas panjang, kemudian melemparkan kembali pandangannya pada langit-langit kamar.

“Mak Yong itu adalah kakak angkatku, sekaligus guruku. Dialah yang selama ini menyempurnakan ilmuku. Kau bias cari dia di daerah pedalaman dan apabila kau telah bertemu dengannya, sampaikanlah kalau aku sakit parah,” ucap Mumun.

Jadi Mayat Hidup
Sukamto pun pergi menjemput Mak Yong, dan beberapa hari kemudian dirinya kembali dan berhasil membawa wanita serta wanita tua yang terkenal sebagai dukun besar penganut ilmu hitam. Wanita yang rambutnya telah memutih itu pun terkejut bukan main ketika melihat kondisi Mumun.

Tanpa mengulur waktu, dia pun segera melakukan ritual penyembuhan dan pengusiran roh yang dikirim oleh para dukun tandingan Mumun, yang telah merasuk ke dalam tubuhnya.

Namun belum lama dirinya bersila dan mengucapkan mantra-mantra, tiba-tiba alat meditasi untuk memanggil para roh nenek moyangnya, berupa tengkorak kepala manusia yang sudah disiram dengan darah babi putih terpelanting dan pecah. Tak hanya itu, tubuh Mak Yong pun terpental dan menghantam dinding kamar yang kemudian muntah darah.

Mak Yong yang tadinya benar-benar diharapkan mampu memberikan penyembuhan pada Mumun, ternyata tak mampu berbuat banyak. Dia pun mengalami hal yang sama. Karena telah mengalami luka dalam yang parah, mak Yong segera pamit pulang untuk melakukan ritual penyembuhan terhadap dirinya sendiri.

Namun sebelum pergi, wanita itu sempat berpesan supaya Mumun tak menceraikan Sukamto. Hal itu lantaran di dalam tubuh Mumun tertanam barang-barang bertuah, seperti susuk, besi kuning dan lain-lain.

“Sebelum ajalmu tiba, benda-benda bertuah, juga ilmu hitam yang ada dalam dirimu harus segera dibuang. Jika tidak jasadmu akan dikendalikan oleh roh-roh yang ada di dalamnya, dan jasadmu tak akan diterima bumi. Makanya sebelum itu terjadi, beritahukan suamimu, supaya dirinya dapat mencarikan siapa yang dapat membuangnya. Karena untuk saat ini tenagaku sudah terkuras habis,” jelasnya.

Beberapa minggu setelah kepulangan Mak Yong, sakit Mumun bertambah parah. Itu dapat dilihat dari kondisi tubuhnya yang semakin mengurus, tinggal kulit membungkus tulang.

Kondisi tersebut tentu saja membuat dirinya tak sanggup lagi. Namun pesan itu tak tersampaikan kepada Sukamto. Sehingga sampailah pada suatu hari, ketika warga sekitar heboh. Lantaran setiap malam mereka sering melihat Mumun berjalan-jalan. Padahal mereka mengetahui kalau Mumun sedang sakit parah. Sehingga sangat tidak mungkin dirinya bisa ngeluyur keluar rumah, apalagi tengah malam.

Berita tentang keanehan ini itu pun menyebar luas. Bahkan telah menjadi buah bibir masyarakat sekitar hamper setiap harinya. Meskipun begitu, Sukamto tak percaya, karena dirinya sendiri lebih tahu kalau istrinya benar-benar sakit parah dan sedang terbaring di atas tempat tidur.

Namun semakin hari Sukamto merasa gunjang-gunjing itu semakin menyudutkan dirinya sekeluarga, juga mendorong rasa keingintahuannya muncul untuk melakukan pengintaian demi suatu pembuktian.

Sukamto pun memilih malam yang tepat untuk mengintai sang istri, yaitu tepat pada malam kelahirannya. Entah atas dasar apa dirinya harus membuktikan omongan-omongan warga itu.

Waktu yang ditunggu akhirnya datang juga. Tepat tengah malam Sukamto memberanikan diri mengintai sang istri. Betapa terkejutnya dia karena ketika sang istri yang selama itu diketahuinya terbaring lemas tak berdaya, tiba-tiba saja terlihat segar bugar dan mampu berdiri, kemudian melangkah meninggalkan kamar.

Sebuah pemandangan yang menyeramkan dan membuat bulu kuduk Sukamto merinding. Karena Mumun lebih menyerupai tengkorak hidup yang sedang berjalan. Meskipun takut, namun dirinya memberanikan diri untuk mengikutinya. Sayangnya, karena sang istri berjalan sangat cepat, dia pun menghilang dalam gelap malam. tak ada yang dapat dirinya lakukan selain menunggu kepulangannya, dan sebelum adzan subuh Mumun pun kembali ke rumah dan langsung merebahkan tubuhnya di atas pembaringan di kamar khusus itu.

“Aneh, kenapa pada siang hari istriku terkulai lemas tanpa daya?” Sukamto bertanya dalam hatinya, kemudian melangkah menuju kamarnya. Setelah melihat itu, Sukamto pun segera sadar bahwa apa yang selama ini didengarnya mengenai keanehan pada istrinya ternyata benar. Bahkan lebih dari itu, tujuh hari berselang terjadi perubahan aneh pada tubuh Mumun. Di sekitar tubuhnya banyak dikerumuni lalat. Badannya mengeluarkan bau busuk menyengat. Dan didorong rasa keingintahuannya yang besar, Sukamto pun memberanikan diri masuk ke kamar khusus itu dan menemukan tubuh Mumun terbujur kaku. Lebih mengejutkan lagi ketika dirinya menyentuh dada dan leher Mumun, yang ternyata sudah tak ada lagi detak jantung dan denyut nadi, bahkan sudah tak bernafas lagi. Namun anehnya kedua matanya sesekali bergerak kedap-kedip.

“Kau takut melihat keadaanku sekarang?” Tanya Mumun dengan suara parau dan dalam. “Ti.. ti.. tidak Mun, aku hanya khawatir dengan kondisimu,” jawab Sukamto ketakutan.

“Sebaiknya kau tinggalkan aku sendiri,” pinta Mumun.

Tanpa menunggu lama, Sukamto segera meninggalkannya, dan seperti biasa pada malam harinya Mumun kembali melakukan hal-hal yang aneh. Karena merasa malu dengan ulah Mumun, Sukamto memutuskan untuk memanggil Kyai. Ternyata, kehadiran Kyai di rumah itu benar-benar tak diinginkan Mumun. Dia marah dan menatap wajah Sukamto yang duduk di sebelahnya dengan kedua mata melotot tiada berkedip. Sementara Kyai hanya menggeleng-geleng kepalanya melihat kondisi Mumun.

“Beginilah keadaan istriku pak Kyai. Apa sebenarnya yang terjadi padanya,” tanya Sukamto.

Pak Kyai tak menjawab melainkan mengajak Sukamto keluar dari kamar. “Ada apa pak Kyai?” tanya Sukamto.

Kyai itu diam sejenak. Kemudian menarik nafas panjang. Kedua matanya menatap wajah Sukamto yang memang terlihat penasaran. Tak lama Kyai itu berucap,” Kamto, sebenarnya istrimu sudah meninggal dunia tujuh hari lalu.”

Mendengar itu Sukamto langsung tersandar pada sofa. Dia seakan tak percaya, bagaimana orang yang telah meninggal dunia tapi jasadnya hidup layaknya orang hidup.

“Bbbbbbagaimana bias Pak Kyai?” Sukamto tergagap-gagap.

“Selama hidup, istrimu telah mempelajari ilmu hitam, bahkan telah bersekutu dengan syetan. Tak hanya itu didalam tubuhnya masih tertanam benda-benda bertuah yang seharusnya dibuang sebelum dirinya meninggal dunia,” jelas pak Kyai.

Sukamto tak ingin bertanya lagi. Dia hanya diam sembari menundukkan kepala. Sehingga dirinya tak sadar kalau sedari tadi sedang diperhatikan oleh Pak Kyai. Ya pak Kyai merasakan ada hal yang aneh pada diri Sukamto. Dia merasakan kalau Sukamto pun sedang dalam pengaruh pelet.

“Setelah mengurus istrimu, aku akan mengurusmu,” ucap Kyai.

Mereka pun segera bergegas masuk ke dalam kamar Mumun dan menemukan Mumun sedang terbaring membelakangi mereka. Aroma busuk, ditambah lagi sebuah pemandangan yang mengerikan, dimana tubuh bagian belakang Mumun tampak berlubang-lubang dan berulat. Dari lubang itu tak henti-hentinya mengeluarkan air berwarna kuning seperti nanah yang baunya sangat busuk menyengat.

“Astaghfirullah Aladziim…,” Sukamto berucap.

“Mau apa kau?” tanya Mumun sembari membalikkan tubuhnya. Namun Kyai tersebut tak menghiraukannya, melainkan segera menekan keningnya sambil melantunkan ayat-ayat suci.

Mumun menjerit kesakitan memperdengarkan suaranya yang aparu, sengong lagi dalam. Sekali lagi Kyai tak mengiraukannya. Dia tetap saja berusaha mengeluarkan makhluk-makhluk halus itu dari dalam tubuh Mumun. Wanita it uterus saja berteriak kesakitan. Tak lama Kyai menghentikan usahanya itu, kemudian segera mengatur nafasnya.

“Kita tak bisa meneruskannya. Karena yang kita hadapi bukan istrimu, tapi syetan yang telah melakukan perjanjian yang memang tuntutannya seperti itu. Tak ada jalan lain kecuali segera mengebumikannya mala mini juga. Tidak di tempat pemakaman umum, melainkan di pulau di seberang tempat tinggal kita. Hal itu agar istrimu tak bergentayangan menganggu warga sekitar,” terang Kyai tersebut.

“Malam ini juga kamu harus memanggil tukang memandikan jenazah wanita,” tambahnya.

Sukamto pun segera mengikuti anjuran Kyai. Tak lama dia pun kembali membawa lima orang wanita yang nantinya akan memandikan Mumun. Siapa yang takut memandikan mayat dalam keadaan hidup, begitu pula dengan mereka yang sebenarnya terpaksa melakukannya karena perintah Kyai. Setelah prosesi pemandian selesai, dilanjutkan dengan pengkafanan yang kainnya memang sudah disiapkan oleh para wanita itu.

Tampak kedua mata Mumun berkedap-kedip, namun dirinya tak bias berontak karena kedua tangan dan kakinya telah diikat. Setelah dishalatkan, mayat Mumun pun segera dibawa ke sebuah pulau tanpa penghuni, di seberang kampong itu tanpa peti mayat dan langsung dikebumikan.

Mayat Mumun memang telah dimakamkan. Namun kabar mengenai kematian Mumun yang aneh itu sampai pula ke telinga warga. Menurut mereka, hamper setiap malam para warga melihat Mumun di pinggir pulau. Akhirnya karena malu, Sukamto dan kedua anaknya pun pindah dari wilayah itu. Namun sebelumnya, dirinya sempat menemui Pak Kyai untuk membuang guna-guna yang ada dalam dirinya dan anak-anaknya, sehingga mereka pun terlepas dari pengaruh ilmu hitam tersebut.

Sumber : Tabloid Horor, Edisi 006/Tahun 02/2013

Tujuh Tahun Bersemayam Siluman Ular di Tubuhku


Tujuh Tahun Bersemayam
Siluman Ular di Tubuhku

Oleh : Jemy Haryanto

Kisah nyata yang memilukan ini dialami seorang wanita, sebut saja Normah. Tujuh tahun lamanya dia dalam pengaruh ilmu hitam atau pelet. Meskipun sudah puluhan orang pintar didatangi, namun tak satupun yang berhasil membuang santet tersebut. Berikut kisahnya.

*****
Kisah ini bermula saat aku dan keluargaku pindah ke Kabupaten Ketapang. Peristiwa ini terjadi dua puluh lima tahun lalu. Sekitar dua minggu tinggal di sana, aku berkenalan dengan Nining, tetanggaku, yang kemudian menjadi saudara angkatku.

Suatu ketika, Nining mengajakku bergabung dalam sebuah organisasi di Masjid di lingkungan kami. Ajakan ini tak mampu kutolak. Malam Rabu itu, aku resmi menjadi anggota organisasi tersebut. Aku pun berkenalan dengan sesame teman yang bergabung di organisasi ini.

Sudah menjadi tradisi bagi anak-anak yang bergabung di sini. Jika ada anak perempuan yang baru menjadi anggota, maka tak jarang anak laki-laki berusaha merebut hatinya. Termasuk aku. Baru saja menjadi anggota, malam itu aku diantar oleh banyak anak laki-laki. Jadilah aku layaknya kembang desa. Tiap pulang dari masjid, anak laki-laki banyak yang mencoba mencari perhatianku dengan mengantarku pulang ke rumah. Namun, tak seditkitpun aku menggubris mereka.

Di antara sekian banyak anak laki-laki yang mencoba mengambil hatiku, ada seorang pemuda yang sebut saja dia bernama Arman. Ternyata, diam-diam Arman memendam rasa cinta kepadaku. Arman memang anak orang terpandang ditempat tinggalku. Ayahnya seorang mantan pejabat di salah satu instansi pemerintah. Tapi yang disayangkan, ibu Arman yang sudah bertitel haji diisukan kerap berdukun, bahkan menguasai ilmu hitam, ibu Arman yang akrab disapa Bu Marni ini kebetulan teman pengajian mamaku.

Setidaknya ada empat kali Arman melayangkan surat cintanya kepadaku. Aku pun kaget. Dia yang sepatutnya menjadi abang bagiku, karena usianya jauh lebih tua, ternyata memiliki maksud lain. Aku pun menolaknya mentah-mentah. Bukan saja karena aku tak menyukainya, tetapi usiaku pun masih terbilang bau kencur. Ya, waktu itu aku baru lima belas tahun.

Ternyata ngebetnya Arman padaku diketahui oleh ibunya. Suatu hari, sang ibu mengirimkan makanan berupa gulai ikan ke rumahku. Mulanya, tak ada perasaan curiga sedikitpun dari kami sekeluarga. Kami juga tidak menaruh curiga ketika Ibu Arman berulang kali mengirimkan hantaran makanan ke rumahku.

Anehnya, seminggu setelah hantaran makanan keluarga Arman yang terakhir, aku justru menjadi teringat dan selalu membayangkan pemuda yang semula kubenci itu. Entah bagaimana awalnya, perasaanku selalu saja ingin bertemu dengannya.

Seminggu kemudian, Arman menyatakan perasaannya lagi kepadaku melalui sepucuk surat. Kali ini, aku tak kuasa menolaknya. Sejak saat itu, Arman sering menghubungiku. Bahkan hampir tiap malam dia menelponku. Untuk menerima telepon dari Arman, aku harus sembunyi-sembunyi. Aku pun terpaksa menunggu ibu dan ayah tidur agar dapat menerima setiap panggilan telpon darinya. Karena cintaku pada Arman, belajar ku pun akhirnya mulai terganggu. Kedua orangtuaku tidak mengetahui apa yang sedang menimpaku. Saat kelulusan, prestasiku benar-benar jatuh.

Kena Pelet
Ibuku curiga. Dia berusaha mencari tahu penyebabnya. Apalagi ibu sangat berharap aku bisa diterima di sekolah favorit di kota ini. Aku pun menceritakan perasaanku, ibu sangat terkejut, dan menentang keras.

Aku seperti dipingit, tidak boleh keluar rumah. Sementara itu, lambat laun Arman dan ibunya tahu dengan sikap kedua orang tuaku. Karena kenyataan ini, ibunya Arman nampaknya menaruh dendam kesumat.

Suatu hari, melalui perantara seorang temannya, Arman menyampaikan pesan yang berisi memutuskan hubungan antara kami berdua. Mendengar keputusannya yang tiba-tiba, aku terkejut bukan kepalang. Hatiku benar-benar hancur. Aneh, memang! Padahal, hubungan kami saat itu hanya seperti cinta monyet. Tapi kenapa saat itu aku seperti tengah kehilangan orang yang sangat berarti dalam hidupku. Aku selalu teringat Arman. Parahnya lagi, aku mulai terbiasa meninggalkan sholat. Aku juga mulai kehilangan gairah hidup.

Semua keluargaku, termasuk Nining, kakak angkatku, merasa heran dengan keadaanku yang jauh berubah. Karena curiga, ayah dan ibu membawaku ke orang pintar. Menurut paranormal tersebut, aku terkena pelet. Setelah minum air putih yang diberikannya keadaanku berangsur-angsur membaik. Aku pun dapat melupakan Arman.

Tanpa disangka, pada saat perayaan ulang tahunku. Arman muncul sebagai tamu tak diundang. Dia memberikan kue ulang tahun untukku. Begitu juga dengan ibunya. Dia memberi hadiah berupa bahan kain dan satu gelang perak. Karena takut terjadi sesuatu, semua pemberian itu tidak kusentuh sedikitpun. Kue pemberian Arman, ibuku berikan kepada orang lain.

Sedangkan bahan kain untuk membuat baju serta gelang tersebut, dibakar oleh ibu dan ayahku.

Setahun kemudian, aku mulai akrab dengan Yayan, seorang siswa di sekolahku. Perasaan cinta remaja pun tumbuh secara alamiah. Mungkin karena itu, aku pun semakin bersemangat dan termotivasi belajar. Sama sekali tak kuduga, rupanya hubunganku dengan Yayan tercium oleh ibunya Arman.

Wanita yang akrab disapa Bu Marni ini agaknya kembali membuat ulah dengan dibantu para dukunnya. Efeknya, aku pun sering jatuh pingsang di sekolah. Tak terhitung lagi betapa seringnya aku mengalami hal ini. Aku bahkan pernah dibawa pihak sekolah ke salah satu rumah sakit pihak sekolah ke salah satu rumah sakit di kota itu untuk diperiksa kondisi kesehatanku. Hasil pemeriksaan dokter menyatakan aku tidak terkena penyakit apa-apa.

Karena kejadian ini, ibu kembali mengajakku ke tempat Pak Iskandar paranormal yang dulu menyembuhkan penyakitku. Orang pintar itu mengatakan, aku kembali terkena pelet. Menurut dia, pelet itu berawal dari makanan, pakaian, juga benda-benda lainnya yang aku terima dari si pengirim pelet. Syukur, Pak Iskandar kembali dapat menyembuhkanku.

Setahun kemudian, aku pun berpisah dengan Yayan, sebab dia melanjutkan kuliah di Jogja. Aku sendiri diterima di sebuah Universitas Negeri di Pontianak yang masih dekat dengan kotaku. Menginjak semester dua, aku mulai kerasukan lagi. Berawal, pada suatu malam, aku seperti melihat sosok kuntilanak yang sedang berjalan di depan kamarku. Esok paginya, aku menemukan kotoran manusia persis di sebelah kamarku. Nampaknya, ada yang sengaja mengirimkannya.

Jam dua siang, aku kembali kerasukan. Seketika itu, pikiranku tertuju pada sosok Arman. Anehnya, menurut cerita keluarga, saat tak sadarkan diri, aku mengeluarkan suara layaknya tawa kuntilanak. Beberapa hari selanjutnya, aku pun bertingkah seperti layaknya seekor ular. Memang, dalam pandanganku, aku melihat seekor berwarna hijau dan panjang.

Sejak saat itu, hari-hariku ditemani kerasukan makhluk halus. Aku sempat divonis salah satu anggota keluargaku menderita sakit syaraf. Sampai suatu hari setelah Idul Fitri, saat bersilaturahmi ke rumah nenekku, aku kembali diganggu makhluk-makhluk gaib tersebut. Untunglah nenekku punya pegangan ilmu gaib. Saat keluargaku turun dari mobil, aku justru tidak bisa keluar dari mobil apalagi berjalan. Sepertinya, makhluk-makhluk gaib itu tahu kalau aku akan singgah di rumah orang yang berilmu.

Ayah terpaksa menggendongku. Anehnya, tatkala memasuki rumah Nenek, menurut cerita keluargaku, mendadak saja aku tertawa cekikikan mirip kuntilanak. Nenek yang sepertinya paham dengan keadaanku, berusaha melakukan komunikasi dengan makhluk yang bersemayam dalam tubuhku. Beginilah ceritanya yang dituturkan ibu padaku :

“Kenapa kamu begitu?” tanya nenek.

Aku pun meronta-ronta seperti sedang kesakitan. Nenek pun melanjutkan pertanyaannya. “Siapa yang melakukan perbuatan terkutuk ini?”

Sang makhluk gaib pun menjawab singkat, “Bu Marni!”

“Darimana asalmu?” tanya nenek.

Dengan tegas, makhluk itu menjawab, “Aku datang dari Ketapang!”

“Apa maksudmu?” tanya nenekku lagi sambil matanya melotot.

“Aku akan menghancurkan hidupnya! Aku dendam, makanya jadi perempuan jangan sombong!” jelas sang makhluk, jujur.”

“Dia tidak mau menerima cinta anakmu?” nenek pun kembali mengorek keterangan darinya.

“Lalu kau ini siapa?” tanya nenek pula.

“Aku makhluk halus, suruhan Bu Marni!” jawabku dengan lantang.

Mendengar dialog nenek dengan makhluk yang merasuki tubuhku, ibu, ayah dan keluarga benar-benar terkejut. Ibu menangis. Pantaslah, apa yang ibu dan ayah curiga selama ini, bahwa Bu Marni-lah biang keladinya.

Nenek dengan paksa mengeluarkan makhluk tersebut dengan sebilah keris keramat miliknya. Makhluk halus di dalam tubuhku pun menjerit keras. Sejurus kemudian, mereka pun pergi dari jasadku walau hanya untuk beberapa lama saja.

Sialnya, di tengah perjalanan pulang dari rumah nenek, aku kerasukan lagi. Setelah menelpon nenek, beliau menyarankan agar aku dibawa ke tempat Bu Endang, seorang guru ngaji di daerah itu. Bu Endang berusaha mengeluarkan makhluk-makhluk itu lagi. Ketika ditanya oleh Bu Endang, lagi-lagi jawabnya sama, yakni Bu Marni.

Pengobatan
Setelah diobati oleh Bu Endang, akupun pingsan sampai keesokan harinya. Bu Endang memberiku cincin untuk pegangan. Karena masih dalam suasana lebaran, keesokan harinya aku kembali diajak bersilaturahmi ke tempat keluarga ibu.

Siang hari yang terik itu, tepatnya pas azan dzuhur, aku kerasukan lagi. Aku kembali dobati oleh pintar di sekitar tempat tinggal saudara ibuku itu. Aku disuruh mandi kembang besoknya, serta menyediakan benang tujuh warna dan kembang tujuh rupa. Benang tersebut kemudian dirajah sang dukun perempuan itu, untuk diletakkan di pinggangku.

“Benang tersebut tidak boleh dibuka atau dilepaskan sebelum kau menikah,” suruh sang nenek.

Dia juga mengingatkan, jika keluarga bu Marni memberikan makanan atau apapun, maka jangan sekali-kali diterima.

Setelah diobati nenek, aku memang sembuh. Selepas liburan panjang, aku pun kembali ke kota tempatku kuliah. Ringkasan cerita, menjelang semester empat, ada seorang laki-laki yang suka padaku. Namanya sebut saja dengan nama Maman.

Tatkala Maman menyatakan perasaannya kepadaku, beberapa waktu kemudian, aku mulai kerasukan lagi. Bahkan, saat Maman mengunjungiku dirumah Tanteku, tempatku tinggal di kota itu, entah syetan apa yang merasukiku, tiba-tiba aku mengusir Maman.

Sampai akhirnya aku kembali diobati oleh orang pintar. Kali ini, yang mengobatiku adalah Bu Komala, seorang ibu dari teman kuliahku yang kebetulan biasa mengobati orang-orang kerasukan. Bu Komala menyuruh keluargaku membuka tali benang yang ada di pinggangku, berikut cincin yang diberikan Bu Endang tempo hari. Alasannya, benda-benda tersebut justru mengikat makhluk-makhluk halus sehingga tetap berada di tubuhku.

Malangnya, setelah kedua benda bertuah itu dilepaskan dari tubuhku, justru penyakitku semakin parah. Aku malah kerasukan lagi selama lebih dari satu minggu. Selama itu pula, ada Sembilan orang pintar yang mencoba mengobatiku dengan berbagai macam cara yang tidak masuk akal. Salah satunya menyuruhku merangkak seperti binatang.

Sampai akhirnya, tanteku menemukan orang pintar di sebuah desa, yang jauh dari kota. Orang tersebut menyuruh ibuku mengambil kopi pahit, bawang putih dan daun kelor untuk dimandikan di sekujur tubuhku. Pada saat mengobatiku, orang tua ini mendapat serangan bertubi-tubi dari makhluk jahat yang bersemayam di tubuhku.

Atas saran orang tua ini, ibu dan ayah diperintahkan untuk berdzikir semalam suntuk membantu pengobatanku. Katanya, kalau mendengar bisikan atau sesuatu yang aneh jangan dihiraukan agar pengobatanku berhasil.

Diceritakan, sekitar dua pukul dini hari, ibu dan ayah mendengar suara letupan diatas atap rumah. Namun mereka tetap berdzikir. Seiring dengan suara letupan tadi, orang tua yang mengobatiku juga mendapat hantaman sehingga dadanya mendadak sakit.

Besoknya, orang tua tersebut mencari benang tujuh warna. Dia juga menyiapkan bunga tujuh rupa dan daun jengkol. Semua digunakan untuk memandikanku. Syukur Alhamdulillah, setelah pengobatan ini aku dapat kembali menjalankan aktivitasku sehari-hari.

Sekitar lima bulan kemudian, aku berkenalan dengan seorang calon dokter. Erik namanya. Begitu gembiranya aku tatkala dia berniat melamarku. Namun, saat Erik mau melamarku, maka begitu banyak halangan yang menghadang hingga orangtuaku tidak mengijinkan hubuganku dengan Erik
.
Karena kecewa aku histeris hingga aku jatuh pingsan. Hal ini membuat semua dokter yang merawatku terkejut. Mereka sangat tidak menyangka dengan tekanan darah yang sangat rendah itu aku masih bisa bertahan hidup, bahkan kemudian sehat kembali.

Kejadian aneh terus saja menimpaku. Saat aku menjadi panitia ospek di kampus, aku kembali kerasukan. Aku dibawa pulang ke rumah oleh teman-temanku. Di rumah, selama tiga hari berturut-turut aku terus kerasukan. Keluargaku kembali memanggil orang pintar yang berada di pedalaman yang pernah mengobatiku beberapa waktu lalu. Namun, kali ini tak berhasil membuatku sembuh. Karena itulah aku kemudian diobati oleh ustadz namun juga tak kunjung sembuh.

Di Pontianak, aku juga sempat diobati oleh Pak Nando, aku dimandikan dengan bunga tujuh rupa selama tiga hari berturut-turut. Setela ritual pun digelar. Pak Nando mencoba mengeluarkan makhluk jahat yang bersemayam di tubuhku. Makhluk yang telah mendarah daging tersebut yang pertama berupa siluman ular. Ibu dan ayah turut menyaksikan proses penarikan makhluk itu.

Tiga hari kemudian, aku kembali diobati Pak Nando. Malam terakhir, setelah mandi, orang tuaku diperintahkan untuk menjagaku agar aku tidak disetubuhi oleh makhluk halus.

Di malam terakhir ini, antara sadar dengan tidak, tiba-tiba pandanganku gelap. Sepertinya ada yang mau menindihku.

Astagfirullah! Aku melihat makhluk yang sangat menakutkan. Tubuhnya hitam berbulu, dan dia berusaha menindihku. Aku pun menjerit. “Jangan!” Teriakanku ini membuat cemas ayah dan ibu.

Mereka segera membacakan ayat Qursyi berulang-ulang untuk melindungiku. Hingga akupun terjaga, dan tidak tidur sampai pagi. Esok paginya kami datang ke tempat Pak Nando. Ritual pengusiran makhluk halus pun digelar. Sang makhluk mengerikan itu mencoba melawan Pak Nando. Namun sebelum ritual dimulai, makhluk halus itu mengancam akan membunuhku.

Mendengar ancaman tersebut, Pak Nando pun menyangkal, “Makhluk bodoh! Sebentar lagi majikanmu akan jatuh miskin dan melarat akibat perbuatannya sendiri. Dan kau tidak akan diberi makan lagi olehnya. Dan santet yang ada di tubuh anak ini akan kukembalikan padanya.”

Akhirnya, Pak Nando berhasil mengeluarkan dua makhluk tersebut. Alhamdulillah, aku pun kembali pulih. Aku dapat mengikuti ritual mandi kembang selama tiga hari. Hari keempat, aku kembali datang ke tempat Pak Nando untuk mencabut pangaruh santet.

“Bu Marni menggunakan media foto anak ini dan sebuah boneka kecil,” jelas Pak Nando kepadaku dan kedua orang tuaku.

Dan kini, saat menuturkan kisah ini. Alhamdulillah, aku telah menjalani hidup berumah tangga. Dengan demikian, tepat tujuh tahun aku dalam nestapa akibat kekuatan Santet. Semoga bermanfaat.

Sumber : Tabloid Horor edisi 006/Tahun 2/2013

Bertarung Melawan Jin Penunggu Harta Karun


Bertarung Melawan Jin Penunggu Harta Karun

Oleh : Jemy Haryanto

Kisah mistik ini dituturkan langsung oleh pelaku. Dimana demi mengangkat setumpuk batangan emas, dirinya bertarung habis-habisan dengan sesosok jin penunggu harta karun itu. Namun, setelah berhasil mengalahkannya yang terjadi malah membuat dirinya sangat kecewa.

*****

Malam itu, sekitar pukul 22.00 WIB, tepatnya ketika aku sedang melakukan rutinitasku berdzikir, di kamar kosong di rumahku, mendadak isteriku membuyarkan konsentrasiku. Istriku memberitahu kalau di luar ada seorang tamu yang ingin bertemu denganku. Aku pun terpaksa keluar. Dan di ruang tamu itu kulihat Pak Soleh yang telah duduk di atas sofa sambil membuka-buka buku yang terletak di atas meja. Setelah basa-basi sebentar, ia kemudian membicarakan maksud dan tujuannya menemui diriku. Aku menyimaknya baik-baik.

“Kurang lebihnya begitulah kesimpulannya, mas. Karena Pak Indra yang memberi modal, berapa pun hasilnya nanti, dia siap membagi sama rata, “Pak Soleh menutup penuturannya.

Aku diam sejenak, kemudian berucap. “Begini Pak, yang saya pikirkan bukan masalah pembagiannya. Saya hanya heran saja, atas dasar apa bu Lena begitu percaya dan yakin kalau di rumahnya ada timbunan harta peninggalan almarhum? Apakah suaminya dulu itu orang kaya?” tukasku, ragu.

Sahabatku itu tersenyum mendengar penuturanku. “Soal itu saya juga tidak tahu. Tapi yang jelas, Bu Lena yakin seratus persen kalau harta itu memang ada,” katanya.

Kami memang sudah terbiasa ngobrol dibarengi humor, terkadang menyindir satu sama lain, tetapi topik persoalan tetap berlanjut, seperti halnya malam itu. Sambil menyalahkan sebatang rokok.

Pak Soleh kembali bertutur, “menurut bu Lena, awal mulanya ia bermimpi. Suaminya yang almarhum, mendatanginya dan mengatakan kalau dia sendiri yang menaruh emas tersebut di bawah lantai ruang tamu. Tetapi dia berpesan kalau ‘tanaman emas’ itu baru bisa diangkat setelah genap waktunya, dan hanya akan menjadi kenyataan kalau yang mengangkatnya adalah seseorang yang berhati bersih. Artinya, tidak bisa diangkat oleh sembarang orang.”

“Berapa banyak jumlahnya?” tanyaku yang mulai serius.

“Kalau tidak salah, setelah beberapa kali bu Lena mendatangkan orang pintar ke rumahnya, rata-rata mengatakan ada sekitar 32 batang emas. Itu menurut mereka. Sedangkan menurut hemat saya, sekiranya mas berkenan, mungkin nanti bisa diperiksa ulang. Selanjutnya saya serahkan sepenuhnya sama mas. Begitu pesan bu lena,” ucap Pak Soleh.

Aku mengangguk kecil setelah mendengar cerita yang bernada menggiurkan itu. Sebagai seorang yang dikenal memiliki kemampuan mengangkat harta terpendam dengan kekuatan supranatural, tentu saja aku harus menerima tawaran menarik itu.

Tiga hari kemudian, pak Soleh memperkenalkan aku kepada bu Lena. Setelah berkenalan dan akrab, wanita di ambang usia senja itu mulai menceritakan ulang soal mimpi-mimpinya itu.

“Kenapa saya begitu yakin bahwa benda itu memang ada, karena mimpi itu terus berulang-ulang datang dalam tidur saya,” kata bu Lena.

Mendengar penjelasan dari bu Lena, aku tak ingin membuang waktu banyak. Malam itu juga aku melaksanakan penerawangan, menembus dunia lain melalui ketajaman mata batinku. Dan hasilnya cukup meyakinkan. Apa yang kulihat tak jauh beda dengan apa yang diceritakan bu Lena. Di bawah lantai ruang tamu rumah wanita yang telah lama hidup menjanda itu memang kelihatan tumpukan emas batangan. Setelah merasa yakin, maka kupastikan langsung hari untuk melakukan ritual pengangkatan.

Tepatnya Rabu malam, semua bahan-bahan untuk ritual sudah disiapkan. Antara lain, tujuh macam buah-buahan, kembang tujuh rupa, tujuh batang cerutu, sepiring nasi putih, sebungkus rokok kretek Gudang Garam Merah, kopi manis dan kopi pahit, teh manis dan teh pahit, segelas air putih, dan sebotol minyak khusus yang biasa dipergunakan untuk melaksanakan upacara ritual semacam ini. Minyak tersebut biasa juga disebut “Minyak Jin” Harga minyak itu bisa sampai jutaan rupiah. Sebab, tanpa menggunakan minyak seperti itu, rasanya sangat tipis kemungkinannya akan berhasil dengan baik dan lancar.

Sejumlah orang telah berkumpul di ruang tengah, berdzikir membaca Surat Al-Ikhlas secukupnya. Pengertian secukupnya di sini ialah baru boleh berhenti setelah ada petunjuk dariku, yang biasanya akan kusampaikan melalui kode, dan aku harus langsung memberitahukannya kepada mereka yang berdzikir.

Di kamar khusus yang telah kupadamkan lampunya, hanya ada aku dan dua orang rekanku. Aku terus berinteraksi dan sangat melelahkan. Berdasarkan pendeteksian, jin yang menguasai lantakan emas itu sangat kuat.

Setelah diadakan dialog, jin itu tidak mau menyerahkan begitu saja apa yang kami minta. Dia tetap bertahan sesuai perintah sang majikan, yaitu sebelum genap hitungan enam tahun sejak benda tersebut ditanam oleh almarhum suami bu Lena, dia tidak akan menyerahkan kepada siapa pun, kendati kami melaksanakan hajat ini atas permohonan isterinya sendiri.

Cukup lama kami bertarung dengan Jin penunggu harta itu. Hampir dua jam lamanya. Salah seorang rekanku terus mengeluarkan jurus-jurus ampuhnya untuk mengalahkan Jin itu. Si Jin tetap bertahan. Dari langit-langit kamar kudengar jelas seperti benda berat saling berjatuhan menimpa kepalaku. Padahal aku tahu, itu hanya pendengaranku saja. Tidak nyata.

Kecuali sosok Jin yang memperlihatkan penampakannya secara jelas. Dia berbadan tinggi besar, hampir mencapai sepuluh meter, berambut gondrong. Mungkin. Sepasang kupingnya sebesar telinga gajah. Matanya sebesar lampu sepeda motor, sedangkan bagian dada, tangan dan kakinya ditumbuhi bulu-bulu lebat. Sangat menyeramkan!

Aku bersyukur, karena tak lama kemudian Jin itupun menyerah, mengaku kalah, dan berjanji akan menyerahkan semua benda tersebut kepada kami. Ternyata benar. Setelah lampu kunyalahkan, batangan emas tersebut sudah tersusun rapi di atas hamparan sajadah. Berikut dua buah kalung emas. Yang satu sepertinya untuk laki-laki. Satunya lagi untuk wanita.

Dari dalam bambu pendek yang terpaksa kupecahkan, terdapat pula gulungan kertas. Isinya mengatakan bahwa kalung emas wanita diperuntukkan khusus untuk putri bungsu almarhum. Sementara kalung laki-laki untuk bu Lena sendiri.

Benda-benda tersebut kemudian kuperlihatkan kepada semua yang hadir di situ. Kulihat mereka tersenyum puas menyaksikan keberhasilan kerja kami. Terutama bu lena. Mereka nyaris tak berkedip memelototi benda-benda berharga tersebut. Heran, gembira, tetapi terkesan tak percaya pada penglihatan mereka sendiri.

“Betul-betul aneh, tapi nyata. Tapi saya masih tidak percaya benda yang ada di dalam tanah bisa di angkat ke atas, tapi lantai tidak ada yang pecah satupun. Benar-benar tidak masuk logika,” kata bu Lena.

“Jadi sekarang gimana?” tanyaku.

“Sekarang saya percaya seratus persen. Soalnya saya melihat sendiri, dan di rumah sendiri,” ucap bu Lena lagi.

“Kalung-kalung ini boleh langsung kalian pakai,” ucapku.

“Kalau yang lainnya sebaiknya disimpan saja di tempat yang menurut ibu cukup aman. Kalau ibu mau jual, nanti saja kalau sudah waktunya pas, seperti yang tertulis pada surat wasiat yang tertulis pada surat wasiat yang ditulis almarhum. Di sini disebutkan, apabila dimanfaatkan sebelum genap waktunya enam tahun, taruhannya adalah nyawa!”

“Batas waktu itu kapan, mas?” tanya bu Lena lagi.

“Kalau tidak salah tahun depan. Tanggal dan bulan ada tertera di surat itu!” jawabku.

Akan tetapi, karena yang disebut manusia selalu saja merasa kekurangan dan tak pernah mensyukuri nikmat Tuhan, juga memiliki sifat tergesa-gesa. Sebelum sampai waktunya bu Lena bermaksud menjual tiga batang emas itu. Alasannya, selain terhimpit oleh kebutuhan hidup yang semakin meningkat, juga untuk mengembalikan uang minyak dagangannya yang belum ia setor penuh.

Karena semua barang berharga itu adalah milik almarhum suaminya, aku dan rekanku merestui. Kebetulan pula pada waktu itu kami sedang butuh uang untuk keperluan serupa. Segera aku melaju ke salah satu toko emas kenalanku di Pontianak.

Namun hasilnya sangat mengecewakan sekali. Sungguh! Emas batangan tersebut berubah menjadi tembaga. Aku jadi penasaran. Kubawa ke toko lainya. Namun hasilnya sama.

“Ini tembaga pak. Sama sekali tidak ada kadar emasnya. Hanya ini berwarna kuning, tapi bukan emas,” kata si pemilik toko setelah dua tiga kali mengetes kemurnian emas tesebut.

Celaka tiga belas, pikirku. Setelah delapan juta terbang dari dompet, kemudian mati-matian bertarung melawan Jin penunggunya, hasilnya hanya tembaga. Walaupun masih ada harapan akan sempurna dengan sendirinya apabila tiba waktunya kelak, atau melalui bantuan orang pintar yang memiliki ilmu khusus untuk “menyempurnakan” tembaga itu kepada wujud aslinya. Namun itu baru sebatas harapan. Bisa jadi kenyataan bisa tidak.

Namun semuanya kuserahkan kepada Yang maha Kuasa. Yang pasti, dari kasus ini aku mendapat pelajaran berharap bahwa kita sebagai manusia hendaknya bisa bersabar dalam menanti sesuatu hal. Ya, kalau saja kami menjual batangan emas tersebut sesuai dengan waktu yang ditetapkan, mungkin emas itu tidak akan berubah menjadi tembaga.

Sumber : Majalah Victory Edisi 68/2013

Kamis, 24 Januari 2013

Dihadang Kuntilanak dan diculik setan zombie


Dihadang Kuntilanak dan
diculik setan zombie
Oleh : Jemy Harianto

Di keremangan malam, kulihat wajah perempuan itu pucat sekali. Kedua matanya bolong. Dan dari kedua lubang matanya, memancar sinar merah. Rambut awut-awutan.
****
Kisah menyeramkan ini terjadi dan dituturkan langsung oleh pelaku yang tinggal di Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat. Dimana selama seminggu dirinya tak sadarkan diri setelah tubuhnya ditemukan di atas kuburan. Pada hari malam Jumat Kliwon, enam tahun lalu, aku mengalami suatu kejadian itu. Dan sampai sekarang kejadian itu masih membekas jelas di ingatanku. Mungki ini akan menjadi sebuah pengalaman mistis sepanjang hidupku.

Sebelumnya, aku tidak percaya sama sekali tentang cerita berbau mistik, hantu dan sejenisnya. Namun hal itu berubah setelah aku sendiri mengalami sebuah peristiwa sangat menyeramkan dan mengerikan. Dari pengalaman ini pula menjadi hidayah bagiku untuk kembali ke jalan Tuhan. Sejak peristiwa itu aku kembali rajin menjalankan sholat. Padahal sebelumnya aku termasuk pemuda berandal. Karena pengalaman itu pula setiap malam aku menjadi rajin membaca kitab suci Al Quran.

Sebagai pemuda yang masih lajang, setiap malam, aku suka menonton hiburan musik, yang ditanggap orang pada sebuah pesta atau hajatan. Baik itu di kampungku ataupun di kampung-kampung tetangga. Selain sekedar mencari hiburan, siapa tahu ada gadis yang mau denganku untuk kujadikan pacar. Biasanya kami selalu pergi berombongan dengan mengenderai sepeda motor.

Ceritanya, malam itu terpaksa aku pulang sendiri dari menonton acara musik di kampung seberang. Jarak kampungku dengan kampong seberang kurang lebih 3 km. jalan penghubung satu-satunya dari kampungku ke kampong seberang harus melalui perkebunan sawit. Semua teman-temanku malam itu sudah pulang duluan. Sebenarnya salahku sendiri, karena sebelumnya kami sudah sepakat, jam setengah dua belas malam harus sudah berkumpul di satu tempat yang sudah disepakati untuk pulang bersama-sama. Karena keasyikan menonton acara itu, hingga aku lupa pada kesepakatan itu. Mungkin, karena ditunggu-tunggu sampai pukul dua belas aku belum muncul juga, akhirnya teman-temanku memutuskan untuk pulang duluan. Semua teman-temanku mengira, aku sudah pulang terlebih dahulu.

Sialnya, malam itu aku tidak membawa kendaraan sendiri. Saat berangkat aku dibonceng sepeda motor temanku. Dengan perasaan jengkel, kuputuskan pulang sendirian dengan berjalan kaki waktu jarak yang akan kutempuh cukup lumayan jauh untuk ukuran jalan kaki. Perasaan takut tak jadi masalah bagiku.

Dari kecil aku tak pernah kenal dengan yang namanya takut. Aplagi dengan hantu, aku sama sekali tidak mempercayai keberadaannya.

Suara jengkrik mengiringi langkahku menyusuri jalanan yang sunyi. Sesekali suara burung hantu terdengar di kejauhan. Pohon-pohon karet berdiri membisu berjajar di kiri-kanan jalan. Untung saat itu bulan purnama, hingga keadaan jalan tidak begitu gelap.

Untuk mengusir kesunyian, sengaja aku bersiul-siul menyanyikan lagu kegemaranku. Anehnya, begitu sampai di tengah-tengah kebun kelapa sawit, entah mengapa tiba-tiba saja badanku merinding. Kulihat jam di tanganku menunjukkan pukul satu malam.

Bertemu Kuntilanak

Tiba-tiba sebatang cabang kayu yang cukup besar jatuh tepat di hadapanku. Suaranya mengejutkanku hingga jantungku hampir copot. Karena menghalangi jalan, kucoba untuk menyingkirkan cabang kayu itu ke samping. Belum lagi cabang kayu itu berhasil kusingkirkan, tiba-tiba terdengar suara tawa cekikikan. Suara itu nyaring sekali.

Hati kecilku berkata, “Jangan-jangan ini kuntilanak!”

Kuperhatikan sekelilingku tetapi tidak ada apa-apa. Kembali suara tawa cekikikan itu terdengar. Kembali kuperhatikan sekelilingku. Tapi tetap aku tidak melihat apa-apa. Hanya pepohonan sawit yang berdiri mematung tertimpa cahaya bulan. Lagi-lagi suara tawa cekikikan itu terdengar. Kali ini malah lebih keras dan berulang-ulang.

“Benar ini pasti Kuntilanak!” kataku dalam hati.

Karena suara tawa it uterus saja terdengar, bukannya takut malah timbul rasa jengkelku. Dengan penuh emosi, aku berteriak menantang.

“Heiii… Jangan ganggu aku. Kalau berani jangan sembunyi-sembunyi, tunjukkan wujudmu. Kau piker aku takut, dasar setan. Keluar kau!” teriakku malam itu.

Begitu aku selesai berteriak, suara tawa itu pun berhenti. Karena dari kecil aku dikenal sebagai anak yang pemberani menghadapi keadaan seperti ini, tidak ada sedikit pun rasa takut di benakku. Malah timbul rasa penasaranku. Seperti apa sih wujud Kuntilanak itu. Kutunggu beberapa saat, tapi suara tawa itu tidak terdengar lagi. Dengan perasaan jengkel kembali aku bermaksud melangkahkan kakiku. Tapi belum sempat kakiku melangkah, tiba-tiba bahuku ada yang menepuk dari belakang, diiringi sapaan suara perempuan.

Dengan terkejut, buru-buru kuputar badanku menghadap ke belakang. Seorang perempuan dengan wajah tertunduk berdiri tepat di belakangku. Entah darimana datangnya. Aku mundur beberapa langkah ke belakang, sambil terus memperhatikan perempuan itu. Kulihat baju putih panjangnya menutupi kaki dan tangannya. Saat itu aku juga mencium aroma bunga kantil. Belum sempat aku bertanya pada perempuan itu, tiba-tiba dengan perlahan-lahan perempuan itu menengadahkan mukanya. Di keremangan malam, kulihat wajah perempuan itu pucat sekali. Kedua matanya bolong. Dan dari kedua lubang matanya memancar sinar merah. Rambutnya awut-awutan.

Spontan rasa takut menyergapku. Baru kali ini aku merasakan ketakutan. Jantungku berdebar kencang manakala secara tiba-tiba perempuan itu tertawa cekikikan sambil memperlihatkan taringnya. Lalu kedua tangannya diacungkan padaku, seolah ingin mencekikku. Kembali aku dibuat terkejut. Ternyata jari-jari tangannya tinggal tulang semua.

“Kun… Kun… Kuntilanak!” teriakku dengan tergagap. Tanpa pikir panjang lagi kuambil langkah seribu. Melihat aku lari, Kuntilanak itupun ikut  berlari mengejarku. Sekilas dapat kulihat tubuhnya melayang-layang terbang, dengan suara cekikikannya nyaring mengerikan. Dengan sekuat tenaga kupercepat lariku. Tapi Kuntilanak itu terus saja mengejarku dengan disertai suara tawanya yang menakutkan. Sementara rasa takut yang kurasakan, semakin menjadi-jadi. Baru kali ini aku merasakan takut yang teramat sangat.

Diculik Setan Zombie

Di saat genting itu, tiba-tiba ada cahaya lampu dari arah depanku. Begitu ada cahaya lampu, suara tawa Kuntilanak itupun hilang. Dengan terengah-engah kuhentikan lariku. Kulihat ke belakang ternyata benar Kuntilanak itu sudah menghilang. Mungkin karena takut dengan cahaya lampu itu, pikirku. Sambil mengatur nafas, kutunggu cahaya lampu yang kukira lampu sepeda motor itu mendekat. Kupikir mungkin salah seorang temanku yang ingin menjemputku. Tapi semakin dekat cahaya lampu itu ke arahku, ternyata bukan suara sepeda motor yang terdengar. Justru bau kemenyan dan bunga kantil yang menusuk hidung. Kembali rasa takut mulai menjalaniku.

Begitu cahaya lampu itu tiba di depanku, aku pun nyaris pingsan dibuatnya. Astaga! Ternyata cahaya itu adalah rombongan hantu pengusung keranda mayat. Mereka berjalan tanpa menginjak tanah. Badanku seolah tak berdarah lagi. Jantungku berdegup kencang. Keberanian yang dulu kubangga-banggakan hilang sudah. Dengan amat jelas kulihat satu orang tanpa kepala dan leher berlumuran darah, membawa lampu berupa bulatan cahaya yang sangat terang.
Empat orang pengusung keranda mayat, mukanya hancur semua. Dengan badan dipenuhi bercak-bercak darah di sana-sini. Sementara orang-orang yang mengiringi di belakang, tubuhnya juga tidak ada yang utuh. Mataku melotot tidak bias dikedipkan. Sungguh sebuah pemandangan yang sangat mengerikan.

Tiba-tiba, rombongan pengusung keranda mayat itu berhenti saat lewat di depanku. Lalu secara serentak makhluk-makhluk mengerikan itu memalingkan wajahnya dan menatap ke arahku.

Rasa takut yang kurasakan semakin menjadi-jadi. Nafasku memburu karena menahan takut. Wajah-wajah makhluk itu sangat mengerikan. Mereka menatapku tajam. Lalu salah seorang datang mendekatiku. Wajah berlumuran darah mengerikan. Salah satu matanya menggantung keluar hamper copot. Isi perutnya terburai keluar. Jalannya seperti robot, kumpulan makhluk jelek itu mendekatiku.

Ingin rasanya aku lari, tapi kedua kakiku tidak dapat digerakkan. Lalu dengan cepat tangan makhluk itu mencengkram bahuku. Kucoba meronta melepaskan cengkeramannya. Tapi tidak berhasil. Tenaga makhluk itu sangat kuat sekali. Tubuhku diangkatnya dengan mudah. Lalu dengan cepat tubuhku dilemparkan melayang menuju keranda. Dengan tiba-tiba pula, penutup keranda itu terbuka sendiri. Lalu denga telak tubuhku jatuh ke dalam keranda. Dengan cepat penutup keranda itupun menutup kembali. Aku sudah di dalam keranda, meronta-ronta kesana kemari. Dengan sekuat tenaga kucoba membuka penutup keranda itu. Tapi penutup itu seakan terbuat dari beton dan sulit untuk mengangkatnya.

Aku coba berteriak meminta pertolongan. Tapi tak ada satu katapun yang bisa keluar dari mulutku. Bagai tikus terkena perangkap, aku terus saja meronta-ronta kesana-kemari. Sambil terus berusaha membuka penutup keranda, tapi usahaku sia-sia. Pada saat bersamaan, makhluk-makhluk itu tertawa mengerikan. Kemudian mereka mulai lagi berjalan dengan membawaku, yang terus meronta-ronta. Karena dicekam rasa takut yang teramat sangat, ditambah tenagaku yang semakin lemah, akhirnya aku pun jatuh pingsan. Setelah itu aku tak ingat apa-apa lagi.

Sayup-sayup kudengar suara orang membaca ayat-ayat suci. Sesekali diiringi suara orang memanggil-manggil namaku. Dengan perlahan-lahan kucoba membuka mataku. Kulihat disamping kananku ada pak Ustadz yang tengah khusuk membaca ayat suci. Sementara disamping kiriku, kulihat ibuku yang tengah memandangiku dengan kedua matanya yang sembab, menandakan kalau ibuku habis menangis. Begitu melihat aku membuka mata, langsung ibuku memelukku dan mencium pipiku sambil terus menangis.

“Alhamdulilllah, kau sudah sadarkan anakku. Terima Kasih ya Tuhan,” ratap ibuku berkali-kali.

Ayahku yang duduk di samping ibuku, segera menenangkan ibuku yang terus menangis sambil memelukku. Semantara aku hanya diam. Aku bingung, apa sebenarnya yang telah terjadi denganku. Pak Ustadz yang sedari tadi duduk di sampingku membaca Kalam Illahi, dengan senyumnya yang teduh menyuruhku meminum segelas air putih yang dipegangnya.

“Sudah satu minggu kamu pingsan! Kamu ditemukan tergeletak di tengah kuburan,” kata pak Ustadz menjelaskan.

Mendengar kata kuburan, aku teringat kembali pada kejadian yang menimpaku. Dengan perasaan yang masih diliputi rasa takut, kuceritakan semua kejadian yang kualami dari awal hingga akhir. Semua orang yang hadir di ruangan itu bergidik ngeri mendengarkan ceritaku.

Sejak kejadian itu hingga sekarang, aku kian rajin mendekatkan diri pada Tuhan.

Kukerjakan lagi sholat, setelah sekian lama kutinggalkan. Kubuka lagi kitab suci, setelah sekian lama tidak pernah kubaca. Walaupun kejadian itu masih membuatku trauma pada kesunyian, namun aku kian menyadari bahwa memang ada dimensi kehidupan lain yang diciptakan Allah di samping kehidupan manusia yang nyata ini. Aku berharap atas kejadian yang telah menimpaku ini bisa menjadi hikmah dan pembelajaran bagi kita semua.


Sumber : Majalah Victory Edisi 67/2013