Sabtu, 27 Oktober 2012

Gadis Berjilbab Rela Jadi Pemulung



Ming Ming Sari Nuryanti
Demi Bayar Kuliah
Gadis Berjilbab Rela Jadi Pemulung

Dulu saya berangkat ke kampus dari rumah di Rumpin, Bogor,” kata mahasiswi Universitas Pamulang Jurusan Akuntansi. Dalam jarak tak kurang 10 km yang menghabiskan waktu hingga 3 jam itulah ia kerap sambil bekerja, memulung bekas gelas atau botol air mineral maupun kemasan bekas susu formula. Pekerjaan yang dilakoninya sejak tahun 2004, saat ia duduk di bangku kelas satu SMA Negeri 1 Rumpin, Bogor.

Dua bulan belakangan gadis yang bernama Ming Ming Sari Nuryanti yang akrab dipanggil Muna ini tinggal bersama teman-teman kampusnya di sekretariat UKM Muslim yang terletak di belakang kawasan kampus Umpam. Orang tua, terutama ayahnya, Syaepuddin (45) akhirnya mengijinkan Muna tinggal bersama teman-teman karena efektivitas waktu.

Sampai saat ini, aktivitas memulung Muna memang masih berjalan meski tidak seaktif biasanya karena ia harus kuliah dan mengerjakan tugas-tugas kuliah. Semenjak tinggal di UKM Muslim beberapa temannya bahkan membantu dengan mengumpulkan gelas dan botol bekas air mineral selepas ada kegiatan kampus.




Sebelumnya, Muna telah menjalani aktivitas memulung sejak kelas satu SMA, tahun 2004. Ayahnya bekerja di tempat bowling di kawasan Ancol sebagai pemungut bola dan membawa perlengkapan pengunjung.

Lepas SMP, Muna sadar bahwa keluarganya sedang dalam taraf “paceklik”, pengunjung bowling sepi hingga penghasilan sang Ayah menipis. Saat itulah, salah seorang teman ayahnya mengatakan bahwa gelas dan botol air mineral bekas dapat menghasilkan uang.

Maka mulailah Muna sekeluarga memulung untuk kemudian dijual ke pengepul.

“Awalnya minder pas pertama kali mau terjun buat mulung, shock gitu lah. Seiring dengan perjalanan waktu akhirnya ada kesadaran bahwa islam tidak mengajarkan kita untuk minder dan menangisi nasib, kita harus sabar dan tawadhu, dijalani dengan senang hati semangat semuanya dilakukan dengan niat karena Allah,” kata gadis yang sudah aktif di Rohis sejak SMA ini.

Bukan hal yang mudah bagi anak SMA untuk menjalani profesi sebagai pemulung. Di saat ABG lain sedang berlomba menampilkan sisi lain menarik dari diri mereka. “Pernah ketemu teman satu sekolah pas lagi mulung. Tadinya saya mau menyapa duluan tapi dia langsung kabur, mungkin shock melihat temannya dalam kondisi ini. Mungkin dia belum pernah ketemu sama temannya yang dalam keadaan memulung,” kata Muna yang selalu berusaha untuk berbaik sangka pada orang lain.

Lambat laun, guru-guru di sekolah pun tahu kondisi Muna karena ia sering telat bayar uang sekolah. “Sering dapat kebijakan dari sekolah karena saya bilang kalau saya dapat uang itu ya terbatas, paling 3 bulan sekali karena dapat uang itu dari memulung,” ungkap sulung dari tujuh bersaudara.

Meski dalam keterbatasan, bukan alasan bagi Muna dan juga keluarganya untuk mengorbankan pendidikan. Terbukti, ia dan adik-adiknya tak ada yang tidak bersekolah. Adik-adiknya, Lisa Sab Nuryanti saat ini sedang menunggu pengumuman hasil tes masuk masuk di UIN.

Melati Sab Putri saat ini duduk di kelas 2 SMAN 1 Rumpin, Kenny Puja Nurwati kelas 1 SMP Informatika, Rohani Nurfitri kelas 6 SDN Kertajaya VI, Romadhon Syawaluddin kelas 5 SDN kertajaya VI, dan Mia Syaprianti kelas 2 SDN.

Diliput Media

Bukan hal yang mudah pula bagi Muna menyicip bangku kuliah. Lulus SMA, sambil menunggu waktu masuk perguruan tinggi, ia sempat bekerja di Temprint di kawasan Palmerah selama dua bulan. Saat memilih universitas, diantara sekian banyak pilihan, ia memilh Umpam dengan pertimbangan biaya sebasar Rp. 900.000 dan dapat dicicil perbulan Rp. 150.000.
Padahal jarak yang harus ia tempuh bukan jarak yang dekat. Sebelum tinggal di UKM Muslim, ia malah terbiasa berjalan kaki atau menumpang truk untuk pulang dari Pamulang ke Bogor. “Dulu makan juga cuma sekali, di rumah aja, tapi porsinya jadi dobel,” kenangnya, tertawa. Saat ini, ia boleh sedikit berlega hati karena bias memasak dan tinggal dekat dengan kampus. “Tiap minggu saya pulang ke Rumpin” katanya.

Di sela-sela kesibukannya kuliah, Muna masih sempat mengumpulkan gelas dan botol aqua bekas hingga kini. “Alhamdulillah saya nggak merasa bosan dengan pekerjaan ini,” kata gadis kelahiran 28 April 1990 ini.

Meski begitu, ia tak menampik jika lahan sekarang semakin sempit akibat jumlah pemulung yang bertambah dan ruang geraknya yang berkurang. Saat ini untuk mengumpulkan satu karung botol dan gelas air mineral bekas ia memerlukan waktu berhari-hari, padahal perkilogram botol mineral bekas hanya seharga Rp. 5000 dan gelas air mineral Rp. 10.000.

Tidak sedikit yang mencibir atas profesi yang dilakoni gadis yang mengidolahkan Rasulullah ini. Bahkan komentar bernada negative kerap didapatnya dari tetangga di Rumpin, tak jarang ia menjumpai raut muka tak bersahabat dari orang-orang yang dikenalnya.

Meski begitu, Muna mengaku tak pernah drop semangat dengan semuanya itu. “Alhamdulillah nggak sempet drop semangat karena pendapat-pendapat yang nggak enak. Karena kan kalau yang namanya komentar negative begitu lebih baik tidak dipedulikan. Kan yang memberi rezki itu Allah, bukan mereka,” tukas Muna ringan.

Keprihatinan yang dialami keluarga Muna baru diketahui ketika kawan-kawannya berkunjung ke rumahnya. Semenjak itu, ia semakin mendapat perhatian dari pengurus UKM Muslim dan kawan-kawannya dengan memberinya bantuan yang memang jumlahnya belum cukup signifikan.
Ust. Harist, salah seorang Pembina Muslim merekomendasikan Muna untuk mendapat bantuan beasiswa melalui DPU DT. Alhamdulillah, setelah mengikuti seleksi akhirnya Muna lolos menjadi anggota program Bea Mahakarya DPU DT.

Dalam program Bea Mahakarya ini selain mendapat bantuan finansial ia juga memperoleh serangkaian pendidikan dan pelatihan yang dapat menjadi bekal bagi dirinya kedepan. Muna terlihat semakin optimis mengejar cita-citanya.

Selain itu pula atas usaha dan dukungan kawan-kawannya ia dapat diliput dibeberapa media cetak dan elektronik yang mudah-mudahan dapat dijadikan pintu keluar bagi keprihatinan yang ia alami sekeluarga selama ini.
Cita-citanya adalah menjadi seorang pendakwah yang sekaligus akuntan, ini sesuai dengan hobinya yang senang menasehati dalam beberapa kebenaran (watawassaubilhaq). Apa targetnya dalam waktu dekat? “Menikah sebeluum S1,” tutupnya mantap. Semoga bermanfaat dan mebuat kita berfikir lebih sebagai inspirasi kita.

Sumber : Tabloid FENOMENAL Edisi 61 (21-27 Oktober 2012)

Selasa, 11 September 2012

Suamika Dihantui Arwah Lelaki Bawah Kolong Rumah Bangkit

Suamiku Dihantui Arwah Lelaki Bawah Kolong Rumah Bangkit

Oleh Jemy Haryanto

Sebut saja namauku Rumi. Saat ini aku tinggal bersama suamiku, Irfan. Namun meski sudah menikah selama dua tahun, kami belum dikarunia anak seorang pun. Aku tidak tahu apakah aku atau mas Irfan yang tidak bisa memberikan anak. Mengingat kami tak pernah mengkonsultasikan hal tersebut pada dokter.

Meski demikian, selama itu rumah tangga kami baik-baik saja. Dalam arti bukan tidak pernah bertengkar, sering, namun tidak sampai salah satu dari kami mengucap kata cerai. Dan itu hal lumrah dalam rumah tangga. Mas Irfan juga bukanlah orang kaya. Dia hanya bekerja sebagai buruh di sebuah pabrik perkayuan di tempat tinggalku. Karena itu selama dua tahun kami masih hidup menumpang pada mertua, yang tak lain adalah orang tuaku.

Tibalah pada suatu hari, dimana mas Irfan memanggilku untuk mengajakku diskusi usai makan malam. “Ada apa mas?” tanyaku sembari duduk di samping mas Irfan yang sudah terlebih dulu duduk di atas tempat tidur malam itu.

Mas Irfan tersenyum. Kemudian tanpa kusadari, dia mengambil tanganku dan menggengamnya dengan erat. “Aku berencana membeli tanah dan ingin membangu rumah Rum. Mengingat sudah lama kita tinggal di sini. Dan aku merasa beban,” ucap mas Irfan padaku. Aku terdiam sesaat, sambil menggengam erat tangan suamiku.

“Tapi… apa mas sudah punya uang? Mengingat harga tanah tidak murah seperti kita bayangkan. Belum lagi material untuk membangun rumah,” sambilku tatap wajah mas Irfan. Mas Irfan menarik nafas panjang. Sesekali dia menundukkan wajahnya yang oval itu.

“Tidak sekarang Rum. Tapi nanti. Tugas kita sekarang adalah hidup berhemat. Karena kita akan mulai menabung. Aku akan sisihkan uang gajiku untuk kamu simpan. Aku juga akan mencari informasi, siapa tahu ada tanah yang dijual murah,” jelas mas Irfan. Dan akupun tersenyum mendengar itu. Karena aku sangat menyetujuinya. Yah meskipun nanti kami makan dengan berlauk kecap dan garam.

Mulai dari itu kami mulai menabung. Berat memang aku rasa, karena harus menahan diri dari keinginan-keinginan. Selain itu menu makan yang biasanya lengkap, harus kami kurangi. Dalam hal ini, tak hanya mas Irfan yang berjuang, tapi aku juga turut membantu mencari uang dengan membuat kue yang kemudian kutitipkan ke warung-warung. Dari hasil berjualan itu, tak banyak uang yang kusisihkan.

Sampai pada akhirnya tiba. Uang yang kami kumpulkan berdua banyak. Namun kami belum tahu apakah uang tersebut sudah cukup untuk membeli tanah. Saat kami mencari tanah yang akan dijual murah. Salah seorang teman mas Irfan menginformasikan jika ada tanah di sebelah Barat kota dijual dengan harga sangat murah. Tak khayal mas Irfan pun terpikat dan segera meninjau tanah tersebut. Dirasa cocok, lokasi dan harganya, tanpa menunggu lama, mas Irfan langsung menemui si pemilik dan membayarnya. Dan tanah itupun sudah menjadi hak kami sepenuhnya.

Jujur aku senang saat itu, karena mas Irfan sudah berhasil membeli sebidang tanah. Tidak luas memang, tapi cukup lapang untuk membuat sebuah rumah dan sekedar halaman. Kemudian secara bertahap demi tahap pula, mas Irfan membeli material bahan bangunan untuk persiapan mendirikan rumah. Cukup lama kami mengumpulkan bahan-bahan itu. Setiap bulan mas Irfan mengorbankan semua gajinya untuk membelinya. Jadi setiap bulan kami membelinya dengan mencicil.

Ketika sudah berkumpul mulailah mas Irfan pembangunan rumah tersebut. Itu juga tahap demi tahap. Butuh waktu lima tahun untuk mewujudkan rumah kami selesai dan layak huni. Namun saat kami tempati, rumah tersebut belum sepenuhnya selesai. Baru pada tahap asal bias ditempati.

TERPERANJAT

Meskipun demikian, kami berdua bahagia bisa menempati rumah milik kami sendiri. Tidak ngontrak, ataupun tinggal bersama orang tua lagi. Walau sederhana tapi rumah milik sendiri, bebas, mau apa saja, terserah. Kami membuat rumah tersebut dengan dua kamar, yaitu depan dan belakang. Sementara kami tidur di kamar depan yang bersisian dengan ruang tamu.

Satu minggu, dua minggu tak ada kejanggalan yang kami rasakan. Semuanya berjalan normal. Namun masuk pada minggu ketiga, hal aneh mulai mendera kami. Itu terjadi pada mas Irfan. Ceritanya malam itu, usai berbincang, kami langsung menuju peraduan. Aku sengaja mengajal mas Irfan tidur lebih awal, karena dirinya terlihat lelah usai bekerja. Namun baru saja aku hendak memejamkan mata, mendadak mas Irfan beranjak dari tempat tidurnya.

Aku yang saat itu berbaring di samping lantas kaget. “Ada apa mas,” tanyaku ingin tahu. “Aku melihat orang berdiri di ruang tamu,” jawab mas Irfan sembari berjalan untuk memeriksanya. Saat itu kondisi ruang tamu memang dapat terlihat jelas, karena belum ada pintu pada kamar kami. Akupun segera mengikuti mas Irfan pada punggungnya. Namun sesampainya di ruang tamu, kami tak menemukan seorang pun. Tapi kami merasa bulu kuduk kami berdua merinding. Setelah mengecek semua ruangan, kami kembali ke kamar tidur.

“Aneh!” gumam mas Irfan. “Apa mas yakin melihat orang tadi?” tanyaku. “Jelas aku melihatnya. Dia berdiri di ruang tamu. Tapi mustahil secepat itu menghilang,” jawab mas Irfan. Setelah itu kamimemutuskan kembali untuk tidur.

Pada malam ketiga, hal aneh kembali terjadi. Dalam keadaan antara tidur dan terjaga, mas Irfan merasa didatangi oleh seseorang dengan penampilan compang-camping. Rambutnya gondrong, pakaiannya lusuh, ada luka di dada kiri dengan darah meleleh membasahi bajunya. Tak hanya itu, wajah lelaki itu sangat menyeramkan. Itu aku tahu, saat mas Irfan terbangun dengan dipenuhi oleh keringat. Dan aku terbangun juga karena dia sempat berteriak. Kemudian dirinya menceritakannya padaku.

“Mungkin hanya mimpi saja mas,” aku menenangkan suamiku. “Tidak Rum, tapi aku merasa itu nyata. Lelaki itu mendekatiku, kemudian mencekik leherku. Dia sepertinya marah padaku,” suamiku dengan pendapatnya. Aku menghela nafas. Karena jujur, apa yang dikatakan mas Irfan itu, sebenarnya aku juga bisa merasakannya. Memang kondisi pada rumah kami akhir-akhir itu mulai tidak nyaman. “Yah udah mas, sebaiknya kita tidur saja,” aku mencoba menenangkan mas Irfan.

Namun keanehan itu belum berhenti sampai di situ. Malam berikutnya, mas Irfan juga mengalami hal serupa. Antara tidur dan jaga, lelaki itu datang lagi menemuinya. Kali itu dia berwujud lelaki. Tak lama kemudian lelaki itu berubah menjadi sesosok mahluk yang menyeramkan.

MENCIUM AROMA BUSUK

Dari arah ruang tamu, sosok itu melompat ke atas ranjang, dan menindih suamiku. Membuat mas Irfan tak dapat bergerak dan bernafas. Sosok itu menatap dirinya dengan tajam, kemudian menghilang entah kemana. Dan pada saat itulah mas Irfan terbangun dengan nafas tersengal-sengal. Aku yang melihatnya, terang mulai khawatir dengan kondisi mas Irfan. Akupun menyarankan mas Irfan untuk mengobati rumah dengan memanggil seorang dukun. Karena aku beranggapan itu adalah penunggu lokasi itu dan kami tidak meminta izin sebelumnya saat mendirikan rumah. Namun mas Irfan menolak. Dia memang sangat tidak percaya dengan hal-hal berbau paranormal. Dan aku hanya bias menelan air ludah waktu itu. Namun, seketika pikirannya berubah pada suatu hari. Dimana dirinya mengalami hal aneh lagi.

Malam itu, sesampai dirinya di rumah usai bekerja, tiba-tiba dirinya mencium bau tidak sedap di sekitar ruangan dalam rumah. Bau itu seperti bau bangkai. Aromanya sangat menyengat ketika dirinya masuk ke dalam tidur. Dia pikir itu berasal dari bangkai binatang di luar rumah. Tak menunggu lama, diapun segera keluar untuk memeriksa bangkai apakah itu. Namun setelah lama memeriksanya, dirinya tak menemukan hewan yang mati. Bahkan ketika dirinya berada di luar, bau bangkai itu tak tercium. Bau bangkai itu hanya berputar di dalam rumah. Anehnya, aku yang sedari tadi berada di rumah sama sekali tidak mencium bau busuk itu. Akhirnya kami pun membiarkan bau busuk itu.

Malam harinya, saat mas Irfan hendak buang air, tiba-tiba bau busuk itu muncul lagi. Bau tak sedap yang entah datangnya darimana itu seperti mengikuti kemana mas Irfan pergi. Usai buang air, dirinya kaget, karena mendadak seorang laki-laki berdiri di muka kamar. Suamiku melihat lelaki itu sangat kotor, bahkan banyak lalat besar mengerumuninya. Mas Irfan kemudian tahu, jika bau busuk itu berasal dari tubuh lelaki itu. Namun mas Irfan belum melihat wajahnya, karena lelaki itu berdiri membelakanginya.

Dan ketika lelaki itu balik badan, alangkah terkejutnya mas rfan setelah melihat wajah lelaki itu, rusak seperti mayat yang sudah 3 minggu. Tak khayal mas Irfan langsung jatuh pingsan. Aku yang menemukan mas Irfan tergeletak di lantai pada esok paginya kaget bukan main. Dan setelah memberikannya segelas air putih, dan diapun sudah tampak tenang, aku meminta kepada mas Irfan menjelaskan apa sebenarnya yang terjadi. Diapun segera menceritakan.

Bukan main takutnya aku saat itu. Akupun tak segan-segan meminta mas Irfan memanggil seorang paranormal lagi. Tanpa ragu, dia langsung setuju. Esok harinya kami segera membawa Pak Muhsin ke rumah, untuk menerawang apa sebenarnya yang terjadi di rumah kami. Namun sebelumnya, pada malam hari mas Irfan didatangi lelaki misterius itu lagi. Dia datang dalam mimpinya mas Irfan.

Dalam mimpi itu lelaki itu berkali-kali berucap dan meminta tolong agar dirinya ditempatkan di tempat yang layak. Terang hal itu membuat mas Irfan bingung. Dia tidak dapat memecahkan teka-teki itu, apa yang dimaksud lelaki itu. Pak Muhsin langsung melakukan penerawangan. Tak lama lelaki setengah baya itu terkejut. “Apa sebenarnya yang terjadi pak?” tanyaku penasaran. Pak Muhsin diam sesaat, kemudian menjelaskan kalau di bawah kamar tidur kami ada sebuah makam tua. Aku dan mas Irfan terkejut bukan. “Makam?” tanyaku kaget. Pak Muhsin mengangguk pelan.

“Iya, makam bu,” jawab pak Muhsin. Kemudian aku dan mas Irfan saling pandang.

“Makam seorang lelaki yang mati akibat dibunuh pada zaman penjajahan dulu. Kerangka itu minta dipindahkan ke makam yang layak,” jelas Pak Muksin.

“Pantas saja tanah ini dulu dijual sangat murah. Ternyata pemiliknya menyembunyikan sesuatu,” celetukku. Terlihat mas Irfan menarik nafas panjang.
“Jadi apa yang harus kita lakukan sekarang, Pak?” Tanya mas Irfan pada Pak Muksin.

“Besok kita gali kuburannya, dan kita pindahkan ke pemakaman umum. Agar rohnya tidak gentayangan lagi,” ucap Pak Muksin.

Esok harinya mas Irfan meminta tolong beberapa tetangga kanan kiri untuk menggali lantai kamarnya. Betul, ketika lantai kamar digali, terdapat tulang kerangka yang masih lengkap. Tulang lalu diangkat, kemudian dimasukkan ke dalam keranda, demi member penghormatan pada kerangka itu.

Kami juga menyelenggarakan selamatan. Saat kerangka diberangkatkan ke makam umum, juga dilakukan upacara sebagaimana upacara melepas jenazah menuju makam. Kerangka itu dengan penghormatan layak kemudian dimakamkan di pemakaman umum. Tidak lupa mas Irfan juga menggelar acara tahlilan mendoakan semoga arwah sang pejuang mendapat yang layak di sisi-Nya.

Setelah semua upacara selesai, lantai kamar kami juga sudah dibetulkan. Namun hal aneh terjadi kembali. Dalam posisi antara tidur dan terjaga, mas Irfan didatangi lelaki itu. Penampilannya masih sama persis seperti kemarin. Bedanya wajahnya kelihatan lebih cerah.

Dia mengucapkan terimakasih, karena sudah menguburkan kerangkanya dalam kelayakan. Setelah itu, mas Irfan tak lagi mengalami keanehan lagi, dan semuapun berjalan normal.

Kamis, 05 Juli 2012

LEGENDA SONBAI


NASKAH DAUR ULANG BERTEMA PAHLAWAN UNTUK MENYAMBUT 17 AGUSTUS DAN HARI PAHLAWAN 10 NOVEMBER


LEGENDA SONBAI
Diceritakan kembali oleh : La Dawan Piazza


Nama Sonbai tidak asing lagi bagi rakyat Nusa Tenggara Timur, khususnya orang Timor. Hal itu karena tokoh ini sangat gigih mengusir penjajah di tanah Timor sehingga namanya bersemayam di hati orang NTT. Nama julukan yang diberikan Belanda kepada Sonbai yaitu Sonnebait, Sonnabai dan Sonbai.
Nama julukan tersebut diberikan untuk memudahkan pihak Belanda (Sesuai dengan ucapan yang semestinya ditulis Sonba’i).
Berbagai Sumber Mengatakan bahwa Sonbai berasal dari orang Melayu dari Semenanjung Malaka. Nama Sonbai mulai tersohor saat memimpin perang Bipola sekitar tahun 1756 Masehi


Nama Sonbai terdiri dari beberapa versi antara lain :
1.    Nama Sonbai karena sonafnya terletak di bukit dan Sonaf Nai Bei sehingga ia di sebut Sonbai. Pada waktu itu ia datang dari Belu Selatan dan menggawini putri bungsu Nai Fait Sutai Kune dan menggantikan Kune sebagai raja. Ia memerintahkan rakyat membangun istana bertiang delapan. Setela istana itu selesai di bentuk seperti sebuah perahu layar oleh karena di sebut Sonaf bai yang kemudian di sebut Sonbai. Dan raja yang tinggal di istana tersebut di sebut sonbai.

2.    Nama Sonbai diberikan oleh Nai Fait Sutai Kune. Sonbai yang datang bersama-sama Fai Belak dan Ifu Belak menghadiri salah satu undangan perjamuan yang diadakan tuan tanah Nai Kune. Nai Laban mendapatkan giliran pertama mencicipi makanan sesudah dihidangkan menu makanan yang terbuat dari sone (salah satu jenis padi-padian yang langka). Pilihan tersebut merupakan alasan bagi Kune untuk memberi nama Sonbai kepada tamunya. Bai adalah sebutan tambahan yang dirangkaikan pada kata sone menjadi Sonebai yang kemudian dalam pengucapan Atoni Meto menjadi Sonbai.

3.    Nama Sonbai menurut berdasarkan tafsiran yang dibuat AC. Kryuef yang dikutip Schulke Nordholt. Sone dijelaskan sebagai tindakan menempatka diri sendiri di bawah kekuasaan seseorang. Sdengkan bait merupakan tindak suatu sekelompok orang yang menempatkan diri mereka sendiri di bawah pimpinan orang yang berkuasa. Hal ini dipraktekkan sekelompok masyarakat Dawan (Atoni Meto) yang lebih menyukai gaya kepemimpinan pendatang baru daripada Nai Kune.

4.    Nama Sonbai menurut tafsiran Bastian 1885 yang dikutip Andres Tefa Sawu (2004). Nama Sonbai yang membenarkan apa yang dikatakan terhadap Sonbai sebagai putra langit atau putra matahari. Suku kata pertama dikatakan berasal dari Jerman die Sonne yang berarti Matahari. Dalam bahasa Dawan kata Sonne berubah menjadi Son apabila mendapatkan kata sifat yang menerangkan bendanya. Hal ini terkait dengan putrid Nai Kune bahwa seluruh tubuh Sonbai bercahaya seperti matahari seseudah mandi (Midlekooo 1982). Berdasarkan tafsiran tersebut mengapa juga Sonbai disapa dengan nama Neno Anan (putra siang/putra langit).

5.    Nama Sonbai diduga berasal dari Sombayya (Schulte Nordholt 1971). Somba berarti menyembah. Sombayya sendiri merupakan sebuah pangkat sosial politik yang dikenakan atau digunakan oleh para pemimpin termasuk para pemimpin dari Kerajaan Gowa Sulawesi Selatan. Dalam tradisi Kerajaan Gowa yang di sebut oleh M.D Sagimun (1975) dan A. Daeng Patunru (1969): Ketika pelantikan raja Gowa ucapan pelantikan berbunyi: Inai-inai ajjunjungi Salokoa ampassappikik sudang, ambarai cindea, ia karaeng Gowa Sonbai karaengnu tu Gowa