Selasa, 12 Oktober 2010

Mujahidin Duduki Pangkalan Udara AS di Kunar, Para Tentara Salibis Lari Menggunakan Helikopter

Oleh Hanin Mazaya pada Selasa 12 Oktober 2010, 07:49 AM

KUNAR (Arrahmah.com) - Senin (11/10/10), terdapat laporan dari provinsi Kunar,bahwa pangkalan udara terbesar AS yang berlokasi di provinsi tersebut dan merupakan lokasi paling strategis, telah ditinggalkan oleh tentara salibis AS pada malam hari, ratusan tentara menggunakan helikopter untuk meninggalkan basis tersebut.
Menurut laporan, tentara salibis tersebut harus meninggalkan basis militer mereka karena mendapat serangan besar-besaran dan terus-menerus dari Mujahidin Imarah Islam Afghanistan selama satu tahun terakhir yang akhirnya memaksa tentara salibis meninggalkan basis militer tersebut.

Selama periode satu tahun, semua persediaan logistik, senjata dan perlengkapan tentara lainnya diangkut menggunakan helikopter ke basis tersebut, karena Mujahidin mengepung dari berbagai arah.

Mujahidin kini mengontrol penuh basis militer AS di distrik Ghashi Kandow yang memiliki 12 pos pemeriksaan, 47 pos keamanan, ruang dapur, lapangan terbang mini dan sebuah bengkel besar.

Beberapa hari lalu, mujahidin menembak jatuh sebuah helikopter yang membunuh dan melukai seluruh tentara yang berada di dalamnya, namun militer AS sangat pengecut, berusaha menyembunyikan semua berita ini dari media mainstream. Bangkai helikopter masih berada di dalam basis hingga saat ini.

Mujahidin merampas sejumlah truk logistik, sepeda motor, peluncur roket, generator, dan sejumlah besar pasokan makanan. Allahu Akbar! (haninmazaya/arrahmah.com)
Raih amal shalih, sebarkan informasi ini...


Sumber : http://www.arrahmah.com

CERITA KONYOL DARI JAKARTA 3

Pada kesookan harinya aku datang ke Warteg lagi memesan Nasi campur ikan bawal yang diasini!
“!Dahar Teh !!..Dahar..Teh !! (Makan Teh !! Makan Teh!!”, pesanku
“Eh, udah bisa ngomong sunda atuih Wan!”, canda si Teteh
“Nggak, cuma belajar sama teman?”, jawabku
“Pesan apa wan?”,
“Ini apa?” sambil menunjuk potongan daging yg berbentuk kubus kenyal-kenyal
“Itu namanya kikil, Wan?”
“Lalu ikang keringna satu ya, Teh?”, kataku okkots
“Apa, Wan ikang kering yang mana”, sambar suami Teteh sambil ngikutin logatku
“Ikan asin kali namanya?”, lanjut suami Teteh
“Iya terserah deh”,
Tapi yang membuat heran kok orang-orang pada pandangin aku makan yah, ternyata dia ngeliatinaku makan asin habis sama tulang-tulangnya dan kaget dengan kebiasaanku minta lima butir cabe rawit yg dicampur langsung di makanan saya karena menurut kebiasaan orang Bugis dan Makassar kalau makan Ikan Kering (Ikan Asin) yang digoreng pasti akan dilahap habis sampai tulang-tulang kepalanya karena rasanya Gurih dan Renyah kayak makan kerupuk, dan aku juga baru tahu bahwa kikil yg aku makan tadi ternyata terbuat dari kulit sapi yg dipotong model dadu, beda dengan kikil di Makassar yg terbuat dari lemak/daging di tulang kaki sapid an aku hamper saja muntah gara-gara makan kulit sapi karena nggak terbiasa
Karena makanan favorit orang Bugis-Makassar adalah Ikan Asin, Ikan Teri (Bece-Bece), Alame (Udang/Ebi kecil yg dikeringkan), Ronto’ (Udang basah dari danau, tanpa dimasak cukup dicuci dengan air lalu dicampur dengan cabe dan garam lalu ditiriskan jeruk purut kemudian ditutupi daun jarak pagar agar tidak basi),
Tradisi orang Bugis Makassar apapun makanannya kayaknya seperti tidak ada rasanya kalau tidak ada cabe dan garam yg ditumbuk halus, yg kebiasaan membuat orang Sunda ngeri melihatnya. Karena memang orang Jawa dan Sunda tidak suka makanan yang pedas-pedas karena kalau mereka buat sambal pasti dicampur dengan gula pasir sedangkan orang Sulawesi “Gula dalam Sambal “No Way”

CERITA KONYOL DARI JAKARTA 2

Cerita ini sewaktu aku sudah bekerja disalah satu Perusahaan kontraktor di Jakarta Barat tetapi kemudian aku dikirim ke bagian Gudang yang ada di Kecamatan Cikande, Kab. Serang, Banten. Hari itu hari pertama aku masuk kerja dan kebetulan aku lapar dan aku diajak ke Warteg depan yg pemiliknya orang Sunda dari Sukabumi, maka terlebih dahulu memperkenalkan diri sebelum makan lalu aku pesan mie!
“Mbaaak!! Mie siramnya satu!”, kataku dengan suara lantang sebagaimana ciri khas orang Makassar
“Apa, wan! Mie Siram!”, Tanya si Teteh sambil kebingungan
“Iya! Kok disiram sih! Mie Rebus kali?”, Tanya si Teteh lagi
“Okey terserah! Mau di siram mau di rebus sama saja tapi kalau mau cepat lebih baik disiram aja,. Kelamaan kalau direbus!’, tanyaku nggak sabaran karena sudah lapar
Si Teteh pun ngeledekin aku “Kamu aneh-aneh aja, Wan kok Mienya disiram sih?”.
“Emang, begitu kebiasaan orang Makassar biasanya mie instant disiram pakai air panas dari termos kalau nggak ada sayur mentahnya!”, kata saya menjelaskan.
Sehabis makan makan aku pesan minuman.
“Tetehh!! (Diganti teteh karena bukan orang Jawa) Pesan Joshua-nya satu gelas?’, pesan saya
“Joshua? Apaan tuh, wan?’, Tanya teteh
“Extra Joss Pakai Susu!”, jawabku
“Emang di Makassar namanya seperti itu?’, Tanya si Teteh
“Nggak, Itu istilah saja di iklannya Extra Joss!”, jawabku singkat