Kamis, 25 November 2010

Surat buat MNC TV

Assalamu Alaikum Wr. Wb.

Halo, MNC TV saya adalah salah satu penggemar siaran MNC TV termasuk sinetron cerita Anak (Cerita Rakyat)dan Dongeng yang disiarkan oleh MNC TV.

Perkenalkan nama saya Muhammad Ridwan dan saya adalah penulis pemula tentang cerita rakyat Sulsel dan dongeng hasil karya saya dan beberapa karya saya sudah dikirim ke Penerbit Adi Cita Karya Nusa Yogyakarta untuk dijadikan sebuah buku Cerita Bergambar.

Yang ingin saya tanyakan apakah Naskah Cerita Rakyat dan Dongeng yang pernah saya kirim ke penerbit Buku Anak boleh saya kirim ke MNC TV untuk di jadikan sebuah sinetron anak ?
Agar tidak merugikan penerbit sebaiknya MNC TV berkoordinasi dulu dengan PT. Adi Cipta Karya Nusa, apakah naskah yg pernah aku kirim sebulan yang lalu layak terbit atau tidak!

Adapun naskah cerita hasil karya saya yg pernah aku kirim ke Penerbit Adicita Karyanusa adalah :
1. ASAL MULA POHON CENDANA (Adaptasi)
2. ASAL MULA MUNCULNYA KEONG RACUN (Adaptasi)
3. ASAL MULA DAUN CAWANGI (KEMANGI) karyaku
4. ASAL MULA DANAU TEMPE DAN DANAU SIDENRENG (karyaku)
5. LASINRANG BAKKA LOLONA SAWITTO (Karyaku)
6. KEONG RACUN DAN TOKEK BELANG PART 1, Terkena Kutukan

Bisa dilihat sinopsisnya di blog pribadiku http://daone-kampungmayamacdhawanks.blogspot.com/search/label/Dongengku

Adapun cerita lainnya yang belum sempat saya kirim ke Penerbit, karena alur ceritanya masih direvisi
1. KEONG RACUN DAN TOKEK BELANG PART 2, Shinta Jojo Terbebas dari Kutukan
2. KEONG RACUN DAN TOKEK BELANG PART 3, Mak Erot dan Sandy Sang Preman Cilik
3. KEONG RACUN DAN TOKEK BELANG PART 4, Mpok Nori dan Ponari Titisan Dewa Petir
4. ASAL MULA NAMA KOTA PINRANG
5. ASAL MULA NAMA KOTA MAKASSAR
6. ASAL MULA NAMA SIDENRENG RAPPANG
7. ASAl MULA BULU PALETEANG (BULU = GUNUNG)
8. ASAL MULA KOTA BONE
9. ASAL MULA TARI PAKARENA
10. NENEK PAKANDE (Cerita mitos di Sulsel tentang adanya manusia berbulu mirip manusia purba yg memangsa manusia, Nenek Pakande ini sepasang suami istri dan mereka tidak bisa dikalahkan jika mereka berdua, untuk membunuhnya mereka harus dipisahkan.

Oya, saya juga tertarik untuk menulis sebuah skenario film, kalau tidak memberatkan bolehkah saya meminta contoh Skenario Film (Kategori Cerita Anak, Horor, Komedi) yang pernah disiarkan oleh MNC TV ? Kirim dong ke alamatku buat referensi aku dalam membuat sebuah Skenario Film dari karya-karyaku atau dari karya orang lain yang belum pernah dibuatkan film, soalnya aku buta banget dalam membuat sebuah skenario mungkin dengan kiriman dari MNC TV bisa membuat saya bersemangat untuk menulis sebuah skenario film dan Insya Allah kelak jika naskah saya sudah jadi akan rutin saya kirim ke MNC TV

Sekian dan saya ucapkan Terima Kasih banyak atas tanggapan dari Tim Creative MN TV buat email saya ini.

Hormat
Pengirim Naskah :

Muhammad Ridwan (Dawan)
Jl. Kemuning Lr.1 (Belakang pembuat lemari)
Kec. Watang Sawitto, Kel. Watang Sawitto
Kab. Pinrang, Sulsel 91211

Alamat Surat Menyurat
Jl. La Mangaribi (Rumah Alm. H. Landu mantan Imam Desa), RT.001/ RW.001 Desa Carawali, Kec. Watang Pulu, Kabupaten Sidrap 91661
Handphone : 085241378783

Facebook : Mehmet Ridvan Baleboglu (ladawanplaza@yahoo.co.id)

Kontak Via Email :
ladawanpiazza1@gmail.com

Senin, 22 November 2010

Keong Racun dan Tokek Belang Part 2


SERI CERITA DONGENG
(EDISI REVISI)

DUA :
KEONG RACUN DAN TOKEK BELANG
Part 2. Shinta Jojo Terbebas dari kutukan
Karya : La Dawan Piazza

     Lima tahun kemudian setelah Shinta Jojo dikutuk menjadi Keong Racun tampaknya suasana di rumah orang tuanya, sudah tenang dan suasananya kembali normal seperti semula. Tapi Sartiyem Ibunda Shinta dan Jojo masih belum melupakan kepergian kedua anak gadisnya yang tidak diketahui rimbanya.
     Tidak jauh dari desa Shinta dan Jojo yang terletak di lereng dua buah gunung yang mengapit. Di puncak gunung sebelah kanan dari desa Shinta Jojo terdapat sebuah desa kecil, Tegal Sari nama desa tersebut dan dihuni 20 KK. Di desa tersebut hidup sebuah keluarga kecil yang bahagia bernama Tarjo dan Ngatini bersama putranya yang bernama Teguh. Pekerjaan sehari-hari Teguh adalah pencari Tokek Belang untuk dijual, karena konon kabarnya tokek jenis ini dapat menyembukan penyakit HIV/AIDS.
     Suatu hari si Teguh hendak ke desa Cangkringan yang berada di kaki bukit untuk mencari tokek. Ia pun mengutarakan niatnya kepada kedua orang tuanya, Tarjo dan Ngatini.
     “Ibu, Teguh besok pagi hendak ke desa seberang di bawah kaki bukit sana?” tanya Teguh pada ibunya Ngatini.
     “Ada maksud apa? Kamu mau ke desa seberang, Nak!” tanya ibunya.
     “Saya hendak mencari tokek, Bu! Karena saya dengar desas-desus dari orang kampung, kabarnya di sana tokeknya gede-gede. Mungkin saja harganya mahal jika laku dijual?!” ujar Teguh.
     “Boleh saja, tetapi kamu harus minta izin dulu sama Bapakmu, soalnya perjalanan ke desa sana jauh, Nak! Ibu takut kalau terjadi apa-apa dengan kamu selama di perjalanan,” kata ibunya.
     “Ah, Ibu! Ibu aja lah, yang ngomong sama Bapak! Soalnya Teguh takut ngomong sendiri sama Bapak, habis Bapak galak, sih?” kata Teguh merajuk sama ibunya.
     “Iya deh, nanti malam Ibu ngomong sama Bapakmu, kalau Bapak udah pulang dari ladang. Itupun kalau Bapakmu ngijinin kamu pergi!” seru Ngatini.
     “Asyiiik!” ujar Teguh kegirangan.
     Pada malam harinya Ngatini hendak menghampiri Tarjo suaminya yang lagi istirahat di depan TV sambil meminum secangkir kopi tubruk. Dengan tampang sangar, sesekali  ia menyeruput kopi hingga menyentuh kumisnya yang melintang mirip ikan lele serta menambah kesan sangar di wajahnya. Dan perlahan-lahan Ngatini mendekat dan duduk di samping suaminya menikmati acara kesayangannya Ketoprak Humor.
     Tarjo pun menoleh ke arah Ngatini seraya memanggilnya.
     “Eh… Ibu, mari sini temanin Bapak nonton, dong!” sapa Tarjo.
     “Iya Pak, tapi sebenarnya ada yang mau ibu ngomongin sama Bapak,” kata Ngatini.
     “Silahkan, Ibu mau ngomong apa sama Bapak!”
     “Begini Pak, besok pagi anakmu si Teguh hendak ke desa Cangkringan? Dia kepengen minta izin sama Bapak.”
     “Ada tujuan apa, Anak itu hendak ke sana?” tanya Tarjo dengan tampang sangar.
     “Dia hendak mencari tokek, Pak! Katanya di sana tokeknya gede.”
     “Saya dengar-dengar juga dari warga, bahwa harga tokek sekarang ini melambung tinggi. Tapi kenapa bukan dia sendiri yang minta izin sama Bapak.”
     “Dia takut Bapak nggak ngijinin, kalau dia yang ngomongin.”
     “Bapak ijinin, kok! Bu, tolong panggilin Anak itu!”
     Maka bangkitlah Ngatini dari tempat duduknya dan hendak memanggil anaknya Teguh di kamarnya.
     TOK … TOK … TOK …! (Bunyi pintu digedor).
     “Teguh! ... Teguh! Buka pintu!” sahut ibunya.
 “Bentar, Bu!” jawab Teguh.
(Saat pintu dibuka) “Ada apa, Bu?” tanya Teguh.
“Tuh… dipanggil Bapakmu di ruang depan,” kata ibunya.
Teguh lalu melangkahkan kakinya menuju ruang depan hendak bertemu ayahnya.
     “Nak, katanya besok kamu mau ke desa Cangkringan mencari tokek, ya?” tanya Tarjo pada anaknya.
     “Iya, Pak!” jawab Teguh singkat.
“Saya izinkan kamu pergi kesana asalkan kamu berhati-hati aja selama perjalanan,” kata bapaknya.
“Iya, Pak! Saya akan selalu ingat pesan Bapak,” pungkasnya.
     Keesokan paginya, Teguh lekas bangun pagi lalu segera mandi dan berkemas-kemas hendak berangkat ke desa Cangkringan. Setelah berdandan rapi, ia pamit kepada kedua orang tuanya.
     “Pak, saya berangkat dulu, ya!” kata Teguh pada bapaknya sembari menjabat dan mencium tangan bapaknya.
     “Hati-hati saja di jalan ya, Nak!” seru bapaknya.
     “Bu, Teguh pamit dulu ya!” kata Teguh pada ibunya sambil mencium tangan ibunya.
     “Nak! Kamu hati-hati aja di kampung orang, dan ini ada bekal sudah Ibu siapin,” kata ibunya seraya memberi bekal makanan.
     Akhirnya Teguh berangkat ke desa seberang dengan melewati lereng-lereng bukit terjal dan disekelilingnya terdapat pohon-pohon besar yang berakar besar. Sungguh indah suasana perjalanan itu karena melewati hutan rimba yang hawanya masih sejuk.
     Selama dua jam perjalanan maka tampaklah dari kejauhan desa yang hendak dituju serta di kelilingi pemandangan hamparan sawah sengkedan yang sangat indah. Karena merasa kelelahan,  Teguh memutuskan beristirahat di sebuah gubuk  yang berada di pematang sawah.
     Teguh lalu mengeluarkan bekal makanan yang ia bawa selama perjalanan dan saat lagi asyik menyantap makanan. Tiba-tiba, dari kejauhan sayup-sayup terdengar bunyi tokek dari sebuah pohon beringin. Si Teguh pun menghentikan sejenak makannya lalu menoleh ke arah sumber suara tadi.
     “Kayaknya di pohon itu ada tokek besar,” gumamnya dalam hati.
     Ia segera menghabiskan makanannya dan menghampiri pohon beringin tersebut. Teguh kaget bukan kepalang, ketika melihat tokek gede yang seukuran lengan anak umur 12 tahun. Lalu ia segera membuka tasnya mengambil sarung tangan untuk menangkap tokek itu.
     Dia berhasil menangkapnya dengan terlebih dahulu memanjat pohon besar itu. Dalam hati Teguh merasa senang dengan hasil tangkapannya, yang beratnya kira-kira 8 ons dan harganya bisa menembus ratusan juta rupiah.
     Di desa Pamarayang ini, Teguh mencari-cari tokek sejenis di tempat lain selama dua hari dengan harapan bisa menangkap tokek yang lebih besar lagi. Tapi sayang seribu sayang ia hanya menemukan satu ekor tokek betina saja yang merupakan jelmaan Jojo.
     Rupa-rupanya ia tak menemukan Tokek Udin yang juga dikutuk bersama Tokek Jojo. Soalnya Tokek Udin ngumpet di ujung dahan pohon beringin yang sulit dijangkau dan tak mengeluarkan suara sedikit pun hingga keberadaannya tak terdeteksi oleh Teguh.
     Kemudian ia kembali ke kampungnya dengan membawa tokek itu dengan perasaan riang gembira dan tiba dirumahnya menjelang sore. Ia disambut hangat oleh orang tuanya.
     “Nak, dapat banyak tokeknya?” tanya ibunya.
     “Dapat Mak, cuma satu ekor saja yang ukurannya besar,” jawabnya.
     Teguh kemudian masuk ke dalam kamarnya dan menyimpan tokek itu ke dalam kandang khusus.
     “Asyik ini, kalau tokek ini aku jual pasti aku punya banyak uang,” kata Teguh bicara sendiri.
     Lalu tiba-tiba tampak wajah tokek itu sedih dan menangis, lalu ia ngomong, “Jangan jual aku Bang, biarlah aku di kandang ini saja asalkan kamu tidak jual aku!”
     Alangkah kagetnya Teguh mendengar tokek itu bisa bicara pada dirinya layaknya manusia.
     “Kamu kok, bisa ngomong ya?!” ujar Teguh.
     “Sebenarnya aku ini adalah manusia yang dikutuk karena telah melanggar sumpah Mbah Marijan,” kata Tokek Jojo.
     “Siapakah itu Mbah Marijan?”
     “Dia adalah mahluk astral penunggu gua keramat di dalam hutan sana.”
     “Oh... gimana caranya kamu bisa sampai ke sana?”
“Ceritanya panjang deh, yang jelas aku dan saudaraku berteduh ke gua tersebut saat lagi di hutan dan menemukan sosok beliau di dalam gua, dekat sebuah kolam air yang mengeluarkan cahaya berkilauan,” kata Tokek itu.
“Tapi yang penting jangan jual aku deh Bang, engkau dapat membebaskan kutukan ini asalkan kau pelihara aku dan aku bersedia menjadi istrimu jika Anda dapat membantuku terlepas dari kutukan ini,” lanjutnya.
“Hai, kamu ini seorang putri ya, siapa nama kamu?” tanya Teguh.
     “Namaku Jojo,” jawab Tokek Jojo.
     Maka dirawatlah baik-baik tokek itu oleh Teguh. Ia memberi makan udang kering agar sehat selama seminggu. Teguh pun termenung sejenak mendengar kata-kata Tokek Jojo yang mengatakan “Aku bersedia menjadi istrimu jika Anda dapat membantuku terlepas dari kutukan ini”
     Suatu hari, Teguh pun bertanya sama tokek itu lagi “Gimana caranya ya, agar saya dapat membantu kamu lepas dari kutukan ini?”
     “Coba kau kecup keningku,” jawab Tokek Jojo.
Lalu Teguh pun mencium kepala tokek itu tepat dikening, dan ajaibnya tiba-tiba tokek itu berubah menjadi seorang gadis yang suaangat cantik.
     “Alamaaak cantik amat!” kata Teguh kagum.
     “Terima kasih, telah membantuku membebaskan kutukan ini! Sesuai janjiku kamu boleh mempersunting aku!” kata Jojo.
Dan singkat cerita mereka berdua melangsungkan pernikahan yang cukup meriah dengan terlebih dahulu mendapat restu dari kedua orang tua Teguh. Jojo dan Teguh pun hidup bahagia serta dikarunia seorang anak laki-laki sakti yang diberi nama Sandy.

***********
     Di tempat  lain, tepatnya di desa Harendong yang terletak di puncak gunung sebelah kiri  dari desa Cangkringan asal Shinta Jojo. Hiduplah sepasang suami istri yang sudah tua dan memiliki seorang cucu yang ditinggal mati orang tuanya. Suami istri itu bernama Kakek Danu dan istrinya Mpok Atiek beserta cucunya bernama Okky.
     Kakek Danu sehari-harinya bekerja sebagai peternak bebek yang memiliki ribuan ekor bebek. Ia dibantu cucunya mencari pakan bebek, berupa dedak yang di campur dengan Keong Racun yang dicincang.
     Suatu hari ia disuruh kakeknya mencari Keong Racun di desa Cangkringan yang berada di kaki bukit dan banyak terdapat Keong Racun di sana. Karena desa Cangkringan masih memiliki hamparan sawah yang sangat luas sedangkan kampung Okky yang terletak di puncak gunung tidak ada sawah.
     Okky lalu berangkat menuju ke desa Cangkringan, asal Shinta dan Jojo. Ia menuruni perbukitan yang terjal. Sesampai di sana ia beristirahat di pematang sawah, tempat Teguh istirahat saat sedang mencari Tokek kemarin.
     Di tengah jalan Okky berpapasan dengan Teguh, mereka berdua hanya menunduk dan tersenyum seraya bertanya.
     “Numpang tanya, Bang?” tanya Okky pada Teguh.
     “Boleh,” ujar Teguh singkat.
     “Di desa ini, tempat mana yang banyak Keong Racunnya, Bang?” lanjut Okky bertanya.
     “Aku nggak tahu, soalnya aku juga orang baru di sini. Tapi mungkin di dekat pematang sawah sana banyak Keong Racunnya,” kata Teguh menunjuk ke arah tempat duduknya tadi. “Cari keong buat apa ya, Bang?” Teguh balik bertanya.
     “Ini Bang, buat pakan ternak bebek kakekku,” jawab Okky.
     “Ooooh….!”
     “Eh..ngomong-ngomong abang lagi bawa apaan, tuh?”
     “Ini Bang, barusan tadi aku menangkap tokek gede. Kalau barang ini dijual harganya pasti mahal banget, nih!” jawab Teguh sambil memperlihatkan hasil tangkapannya pada Okky.
     “Woow gede amat ya! Tapi makasih udah bantuin!” seru Okky.
     “Sama-sama!” balasnya.
     Mereka berdua kemudian berpisah. Teguh kembali ke kampungnya sedangkan si Okky baru tiba di desa Pamarayang. Okky lalu menuju dekat pematang sawah mencari-cari Keong Racun di antara semak belukar dan batang padi.
     Ternyata ia menemukan banyak keong di sana. Okky lalu mengeluarkan keranjang yang ia bawa dari tadi. Ia memungut keong itu satu persatu dan memasukkan ke dalam keranjangnya hingga penuh.
     Tanpa sadar ia menemukan keong yang ukurannya agak besar dan mengeluarkan warna berkilauan dicangkangnya, yang dia masukkan dalam keranjang. Ia tidak menyangka bahwa keong yang agak besar itu adalah jelmaan Shinta.
     Hari itu Okky merasa puas dengan hasil tangkapannya dan menjelang sore ia pun kembali ke kampungnya di atas bukit.
     Keesokan paginya Okky bermaksud memberi pakan bebeknya dengan mencincang satu persatu keong itu dari cangkangnya. Saat tiba giliran keong yang besar mau dicincang dan dalam keadaan golok sedang diayunkan hendak menebas keong itu.
     Tiba-tiba, keong itu menangis dan meminta belas kasihan “Toloong… Toloong… Toloong… jangan cincang aku, ampuni aku Bang,” kata Keong Racun.
     Okky kaget bukan kepalang mendengar keong itu bisa ngomong. Ia pun merasa iba lalu meletakkan goloknya.
     “Kok, kamu bisa ngomong, ya?” tanya Okky.
     “Aku ini sebenarnya seorang putri yang dikutuk jadi Keong Racun. Jadi jangan bunuh aku lah, Bang!” jawab keong Shinta.
     “Kenapa kamu bisa dikutuk?”
     “Aku ini melanggar sumpah Mbah Marijan, penunggu gua keramat bersama saudara kembar saya, Jojo!”
     “Apaaa!! Jangan-jangan, keong-keong yang sudah aku cincang ini diantaranya ada saudara kamu,” sesal Okky.
     “Tidak! Kamu tidak membunuh saudaraku, karena keong-keong itu cuma keong biasa sedangkan Jojo saudaraku itu dikutuk jadi seekor Tokek Belang ditempat kau temukan aku,” kata keong Shinta.
     “Tapi kalau boleh tahu siapakah nama kamu?” tanya Okky.
     “Nama saya Shinta, Bang!” jawabnya. “Kalau nama Abang?” lanjutnya.
     “Panggil saja aku, Okky!” seru Okky.
     Dalam benak Okky terlintas dalam pikirannya dengan seorang pemuda yang ia temui di jalan 5 tahun lalu dan membawa seekor tokek besar saat baru sampai di desa Cangkringan. Tetapi lamunannya tiba-tiba buyar saat keong itu bertanya sambil menangis :
     “Kenapa kamu diam saja, Bang! Apakah kau menemukan saudaraku? Huuu… Huuu…  Huuu…!!!”
     “Ah, tidak ada apa-apa, kok! Aku tak ketemu saudaramu itu,” kata Okky merahasiakan karena ia belum yakin bahwa Tokek yang ditangkap pemuda tersebut adalah saudara Keong Racun.
     Okky kemudian memelihara keong itu dengan telaten. Hari demi hari ia beri makan dan keong itu dia simpan di rawa-rawa di belakang rumahnya.
     “Kamu tinggal di sini aja, ya! Kalau kamu butuh makan, nanti saya beri sisa makanan keluargaku,” kata Okky.
     “Iya, Bang! Makasih telah memerhatikan aku,” ujar keong itu.
     Suatu hari ia kembali menengok keongnya dan Okky pun menemukan keongnya sedang bersedih dengan mengeluarkan lendir yang sangat banyak pertanda dia sedang menangis.
     “Kenapa kamu menangis, Shinta?” tanya Okky.
     “Aku bersedih karena sudah 5 tahun aku tidak bertemu dengan kedua orang tuaku,” jawab Keong itu.
     “Memangnya orang tuamu tinggal di mana?”
     “Di desa Pamarayang tempat kamu temukan aku.”
     “Apakah saya bisa membantu kamu kembali kepada orang tuamu?” tanya Okky menawarkan bantuan.
     “Mana mungkinlah, Bang Okky! Ia pasti tidak mengenali diriku lagi. Karena aku masih berwujud seekor Keong Racun. Apalagi mereka tidak mampu mendengarkan suaraku, hanya kamulah satu-satunya orang yang bisa mendengar suaraku.”
     “Gimana caranya agar saya bisa bantu kamu membebaskan kutukan ini?”     
     “Kamu harus mengecup keningku baru kutukan ini bisa terlepas. Itupun baru berhasil jika kamu memang manusia pilihan yang bisa membebaskan kutukanku. Karena tidak sembarang manusia yang bisa melepas kutukan Mbah Marijan!” seru si Keong.
     Lalu Okky mencium kepala Keong Racun itu dan menyentuh kedua antenanya. Dan tiba-tiba keajaiban terjadi kemudian…
     ”BUZZZZH!!” 
     Dalam sekejap keong itu berubah wujud menjadi seorang putri yang sangat cantik jelita. Shinta akhirnya terbebas dari kutukannya selama lima tahun.
     “Terima Kasih, Bang Okky! Telah menolong aku menjadi manusia kembali seutuhnya,” ujar Shinta. ”Dan karena kamu telah menolong aku kamu berhak untuk menjadikan aku sebagai istrimu!” lanjutnya.
     Okky kemudian menyampaikan niatnya kepada kedua kakek neneknya untuk mempersunting Shinta yang telah menjadi manusia menjadi istrinya. Mendengar niat cucunya, Kakek  Danu dan Nenek Mpok Atiek sempat kaget, kenapa tiba-tiba ada seorang gadis cantik berada di rumahnya. Setelah Okky menjelaskan bahwa gadis tersebut adalah Keong Racun yang telah berubah menjadi manusia. Baru kemudian ia merestui hubungan cucunya dengan Shinta.
     Setelah mendapat restu, kemudian Shinta dan Okky bersama kedua kakek neneknya berangkat ke desa Shinta untuk mempertemukan orang tua Shinta Paijo dan Sartiyem yang selama lima tahun tidak ketemu sekaligus ingin melamar Shinta.
     Saat tiba di kampungnya, Shinta segera ke rumahnya untuk bertemu orang tuanya. Kondisi rumahnya dalam keadaan sunyi, setelah ia bertanya kepada tetangganya ke mana kedua orang tuanya pergi. Tetangga itu mengatakan Bapak Ibunya sedang berada ke sawah menggarap sawah tetangga.
     Desas-desus tentang kemunculan kembali Shinta setelah 5 tahun menghilang menyebar ke penjuru desa. Seorang warga lalu memanggil kedua orang tua Shinta ke sawah dan dengan tergopoh-gopoh ia berteriak.
     “Paijo… Paijo… anakmu Shinta sudah kembali!!” teriak warga itu.
     “Apa! Anakku Shinta sudah kembali, sekarang ada di mana mereka,” teriak ibunya histeris lalu berlari menghampiri orang tersebut.
     “Benar, nih! Anakku Shinta sudah kembali ke desa ini,” kata Paijo ragu.
     “Benar, nih Paijo! Anakmu Shinta sekarang ada di rumah bersama 3 orang,” ujar orang tadi.
     Dengan bergegas mereka menghentikan aktivitasnya menggarap sawah lalu dengan berlari-lari kecil Paijo, Sartiyem dan orang tadi menuju rumah Paijo hendak ketemu Shinta. Sesampainya di rumah serentak sartiyem teriak, “Shintaaa… ! Kamu sudah kembali, Nak! Jojo mana, nih!” kata ibunya setelah mengetahui Jojo tidak bersama Shinta.
     “Ibuuu…. ! Aku tak bersama Jojo, aku tak tahu dia berada di mana setelah aku berpisah,” ujar Shinta sambil memeluk ibunya.
     “Kamu bersama dengan siapa?” tanya bapaknya.
     “Ini Pak, namanya Okky yang telah menyelamatkanku saat aku dikutuk bersama Jojo,” pungkas Shinta.
     “Dikutuk? Emang siapa yang kutuk kamu, Nak!” kata Bapaknya.
     “Mbah Marijan, penunggu gua keramat yang ada di hutan sana, Pak! Shinta dikutuk jadi Keong Racun sedangkan Jojo dikutuk jadi Tokek Belang”
     “Memangnya kamu telah berbuat apa, Nak!” kata ibunya memotong pembicaraan.
     “Ceritanya panjang, Mak! Nanti Shinta ceritakan di dalam rumah saja,” ujar Shinta. “Kalau dua orang ini, kakek neneknya si Okky, Mak! Namanya Kakek Danu dan Mpok Atiek,” lanjutnya.
     Orang tua Shinta kemudian mempersilahkan tamunya masuk ke dalam rumah. Shinta pun menceritakan kejadiannya selama 5 tahun menghilang kepada kedua orang tuanya, hingga ia ditemukan oleh Okky sang pencari Keong Racun.
     Paijo dan Sartiyem sangat sedih mendengar cerita anaknya secara panjang lebar dan sangat menyesali perbuatan tidak terpuji yang telah dilakukan oleh kedua anak kembarnya hingga mendapat kutukan.
     Tapi orang tuanya masih tetap bahagia karena masih diberi kesempatan bertemu kembali dengan Shinta anaknya yang hilang selama lima tahun. Kembalinya si anak hilang membuat keluarga Paijo bahagia, tetapi kebahagiaannya belum sempurna selama anaknya Jojo belum juga kembali ke rumah.
     Tak lupa juga Okky dan keluarganya mengutarakan niatnya untuk melamar Shinta menjadi istrinya. Setelah lamarannya diterima orang tua Shinta. Okky dan Shinta akhirnya menikah dengan pesta yang sangat meriah. Mereka berdua kemudian tinggal dan memulai hidup baru yang bahagia di rumah orang tua Shinta di Desa Cangkringan.
*********
     Bagaimanakah nasib Jojo apakah ia masih sempat bertemu kedua orang tuanya dan bagaimana nasib Nazar dan Udin yang masih menjadi Keong Racun dan Tokek Belang, silahkan ikuti kelanjutan kisahnya.

Cerita ini selesai ditulis di Kota Pinrang, Sulsel tanggal 19 November 2010

Baca kisah  sekengkapnya di sini KEONG RACUN DAN TOKEK BELANG 3

Jumat, 19 November 2010

Keong Racun - Putri Penelope

**

Dasar kau keong racun

Baru kenal sudah ngajak tidur

Dasar kau keong racun

Baru kenal sudah ngajak lembur


Kau rayu diriku

Kau goda diriku

Kau colek diriku


back to ** 1x


Chorus


Heyy kau tak tahu malu

tanpa basa basi kamu ngajak happy happy

Heyy kau tak tahu malu

Tanpa basa basi kau ngajak happy happy


***

Mulut kumat komit

Matanya melotot

Lihat body sexy

Pikiranmu jorok


Mentang-mentang kokay

Aku dianggap jablay

Dasar koboy kucai

Ngajak check-in dan santai


Sorry sorry sorry Jack

Jangan remehkan aku

Sorry sorry sorry Boy

Ku bukan cewek murahan

Dasar kau keong racun

Baru kenal sudah ngajak tidur


Back to Chorus





Lirik Lagu Putri Penelope – Keong Racun dipersembahkan oleh Lirik Lagu Indonesia Terbaru

Sabtu, 13 November 2010

MY NAME IS RENNU



Siapa yan tidak mengenal sosok pria yang satu ini dikota Pinrang karena hamper seluruh orang mengenal dia. Namanya La Rennu, dia orang gila yang paling lama hidup didunia, bayangkan sudah lebih dari 30 tahun dia jadi gila dan hamper sama dengan umur saya saat ini.
Sewaktu saya masih duduk dibangku SD, dia sudah gila dan sering saya jahilin waktu itu, terkadang aku siram pakai air sumur karena dia orang gila yang paling jorok, ia bau pesing karena sering berak dan kencing dicelana.
Kabarnya dulu La Rennu adalah seorang anggota mariner yang perilakunya bejat dan nggak disukai banyak orang. Jika dia menyukai seorang wanita menjadi isterinya, maka harus dia nikahi walaupun wanita itu sudah bersuami. Dia suka mengambil istri orang dan anak gadis perawan yang dia sukai, apalagi masyarakat pada waktu itu sangat takut sama tentara, aplagi La Rennu sering menggunakan kalau keinginannya tidak dikabulkan.
Karena perilakunya itulah banyak orang yang sakit hati termasuk orang-orang yang pernah diambil istri dan anak gadisnya oleh La Rennu. Sehingga ada orang yang tega mengirimkan guna-guna, sehingga ia menjadi menjadi orang gila seumur hidupnya.
Dia sudah gila sejak tahun 1970-an sampai 2009 itu seingat saya dan kata orang-orang tua dulu, tetapi ternyata Allah SWT memang maha adil walaupun La Rennu hidup dan makan dari makanan sisa yang ia pungut dari tempat sampah warga tetapi dia tetap hidup sehat dan kuat berjalan sampai puluhan kilometer tanpa arah dan tujuan.
Dibandingkan dengan orang-orang yang hidup serba berkecukupan dan bergelimang harta dan makan dari makanan yang bersih dari penyakit, tapi toh masih tetap ada yang sakit-sakitan, terkena serangan jantung lah, kena stroke lah, diabetes dsb. Mungkin kita ini sudah terbiasa kali memakan uang anak yatim dan uang hasil korupsi, hingga tubuh kita ini dihinggapi penyakit yang cukup menahun dibandingkan dengan La Rennu yang makan dari makanan sampah rumah tangga serta pemberian orang lain yang merasa iba kepadanya.
Tetapi sekarang ini La Rennu sudah tiada dan berpulang kepada sang khalik, menurut kabar orang-orang dia meninggal karena dibunuh orang kemudian ia dibuang kesungai tetap ada juga yang bilang dia meninggal karena sakit, wajar apalagi dia juga sudah tua.
Emang benar kata orang tua dulu La Rennu itu orangnya putih dan gagah mirip orang china, sebelum dia kena guna-guna dan menjadi gila. Karena kata orang yang memandikan jenazahnya alangkah putihnya paha dan tubuh La Rennu yang jarang terkena paparan sinar matahari, walaupun tangannya dan wajahnya yang mulai keriput itu gosong karena sengatan panas matahari lebih dari 30 tahun lamanya tetapi dia tetap putih bersih.
Selamat Jalan Rennu dan maafkan aku yang pernah menjahilimu……!!!!
*****************
Dari cerita ini, saya tertarik menulis kisahnya karena terinspirasi dengan anak muda – anak muda dari kota Yogyakarta yang menjadikan orang gila menjadi seorang selebritis dalam acara “TONY BLANK SHOW” di facebook yang gokil, tingkahnya yang kocak dan rada-rada kagak nyambung saat diwawancarai.
Videonya sudah ditonton oleh ribuan orang di Youtube dan Facebook dan ia juga kedatangan fansnya dari luar negeri, Mas Tony kedatangan cewek bule bernama Amanda karena ia suka dengan gaya Mas Tony yang sok bias makai bahasa Ingris saat diwawancarai oleh tim kreatif. Mas Tony ini juga senang membaca potongan-potongan Koran di tempat sampah mirip dengan La Rennu yang juga senang membaca.
Video Tony Blank Show klik disini

Jumat, 12 November 2010

LARENNU TAU JANGENG'NA SAWITTO



Ini adalah fotonya La Rennu Tau Jangengna Sawitto alias Orang Gilanya Sawitto, sekarang La Rennu telah meninggal dunia, kabarnya ia dibunuh oleh orang yang tidak suka keberadaannya dan mayatnya dibuang kesungai. Padahal La Rennu tidak pernah menganggu orang lain, cuma orangnya jorok karena sering berak dan kencing di celana tapi ada satu kelebihan La Rennu dia bisa membaca surat kabar dan pandai berbahasa Inggris karena konon orangnya adalah mantan tentara tetapi karena dimasa mudanya dia sering berbuat jahat pada orang lain selama masih aktif jadi tentara sehingga ada orang yang menguna-gunainya sehingga menjadi orang gila seumur hidup.

Adapun musuh bebuyutan La Rennu yaitu Andi Mude, Andi Mude sering memalak La Rennu jika ia memiliki uang dari hasil belas kasihan orang lain, karena Andi Mude ini termasuk jahil karena sering menganggu cewek-cewek SMP dan SMA yang melintas didepannya, kadang Andi Mude ini langsung memeluk perempuan montok yang dilihatnya, jadi bagi cewek-cewek Pinrang hati-hati saja dengan Andi Mude.

DAFTAR ORANG GILA DI PINRANG
Dari tahun 1980-an sampai sekarang

1. AMBO PANCA = Dia sering meminta uang ditengah jalan dan menganggu pengguna jalan karena ia duduk ditengah jalan sambil meminta uang receh, kalau dikasih kacang atau makanan ia marah-marah. Ia meninggal ditabrak BUS PIPOSS dijalan Poros Pinrang-Makassar

2. ANTO BELENG-BELENG = Orangnya idiot dan suka minta uang kalau ada hajatan sering dikerjain ama anak-anak dan orang Dewasa, ia mati di racun orang yang nggak suka ama dia

3. LA GELO = Ia orang gila tetapi suka mencuri radio atau pakaian kemudian ia jual untuk makan

4. LA MUSLIMIN = Ia orang gila yang penampilannya compang-camping dia hanya memakai sarung sobek-sobek dan kelihatan alat kelaminnya, ia tidak suka pakai baju walaupun dikasih ama orang

5. ATONGNGE = Dia kakak kelas aku dulu waktu SD, cita-citanya jadi petinju tapi tidak direstui oleh orang tuanya akhirnya menjadi gila pada saat duduk dibangku SMP, setiap hari ia seolah-olah jadi petinju dipinggir jalan dengan mengambil kuda-kuda gaya petinju. Dan sering minta rokok, kalau dikasih rokok sebatang kadang dia ambil 2 batang. Ia jarang menganggu orang justru dia sering dijahilin orang

6. LA KADA = Dia juga jahil sering mengejar gadis SMP atau SMA untuk dipeluk

7. AHONG = Dia orang China yang rada-rada gila, kadang dia ngomong sendiri dan berjalan cepet-cepet

8. LENDING = Dia tidak gila tetapi bodoh-bodoh, dulu tenaganya sering dipakai oleh warga untuk mengambil air disumur kalau ada perkawinan di Pinrang, dia cukup rajin jika disuruh dan Lending senang jika dijodoh-jodohkan dengan gadis perawan, kalau mau suruh dia ambil air cukup bilang "Lending salamnya itu cewek yang berbaju merah", tetapi dia sangat marah jika dibilangin "LENDING CILAKA" so pasti kamu bakal dikejarnya.

9. LAEMANG BUCCU = Dia pengamen di Pinrang dan sangat marah kalau dibilangin Laemang Buccu karena ada benjolan dihidungnya, dia senang ngamen kalau ada panas matahari katanya rejekinya banyak

10. PAK SAPA = Dia dulu orang jenius dan pintar saking pintarnya otaknya nggak sanggup lagi berpikir hingga dia jadi gila, dia selalu naik sepeda onthel keliling kota Pinrang tahun 1980-an, sepedanya diberi aksesoris bendera merah putih dan ia memakai baju veteran, mirip dengan pejuang kemerdekaan 1945

Jerman: Dukung Perang Demi Kepentingan Ekonomi

Karl-Theodor zu Guttenberg

Menteri Pertahanan Jerman, Karl-Theodor zu Guttenberg mengatakan, serangan militer untuk menjaga kepentingan ekonomi adalah hal yang dibenarkan.

Sebelumnya Mantan Presiden Jerman, Horst Koehler menyebut penempatan tentara negara ini di Afghanistan adalah demi menjaga kepentingan ekonomi Berlin. Karena pernyataan kontroversialnya ini, Koehler terpaksa mengundurkan diri dari jabatannya. Demikian dilaporkan IRNA, Selasa (9/11).

Guttenberg kemarin juga mengelurkan pernyataan serupa yang mendukung sikap Koehler. Pernyataan ini dirilis di Konferensi Keamanan dan Pertahanan Eropa ke sembilan yang digelar di Berlin. Ia mengatakan, jika diperlukan serangan militer untuk menjaga kepentingan ekonomi dibenarkan.

Ia menandaskan, dalam strategi keamanan kita harus tegas menjaga kepentingan ekonomi tanpa rasa malu, meski sejumlah pihak tidak bersedia memposisikan sama kepentingan ekonomi dan keamanan.

Konferensi Keamanan dan Pertahanan Eropa digelar dengan agenda mengkaji struktur keamanan dan pertahanan Eropa serta dihadiri oleh delegasi militer Eropa dan Amerika Serikat serta diplomat dan komandan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO). Konferensi ini digelar setiap tahun. (IRIB/IRNA/MF)

LASINRING PANGA MANU'NA SAWITTO

Sejak kecil aku punya tetangga yang bernama La Sinring, dari dulu sampai sekarang dia hobby mencuri ayam tetangga biasanya ia kurung kemudian dijual ke pasar. Walaupun dari dulu orang tahu bahwa dia sering mencuri ayam, tetapi tidak ada tetangga yang berani menghakiminya karena dia mempunyai suatu penyakit menahun tetapi kalau orang luar yang memergokinya pasti bakal dihakimi.

Karena mereka tidak tahu bahwa La Sinring itu to malasa-lasa alias ia menderita penyakit epilepsi (Penyakit ayan) atau lasa manu-manukeng, makanya tetangga tidak pernah ada yang menghakiminya karena mereka tahu bahwa dia orang yang kurang waras.

Jadi kalau anda merasa kehilangan ayam dari kandangnya, tinggal datang aja kerumah La Sinring terus ngintipin kandang ayamnya siapa tahu ada ayam anda di sana, seperti yang dialami sepupu saya. Dia kehilangan induk ayamnya terus dia curigai La Sinring yang ambil tapi sepupu saya itu santai-santai saja selama seminggu, pas dia denger suara kotekan ayamnya, dari kandang ayamnya La Sinring "Kok......Kok.....Kotek...Kok......Kok......Kotek.....!!!! langsung aja dia masuk ke kandang dan mengambil ayamnya padahal La Sinring ada disitu, La Sinring diam saja. Ya dia kan sering kepergok nyolong ayam tetangga makanya di beri julukan "LASINRING PANGA MANU'NA SAWITTO" yang artinya Pemuda berani dari Sawitto karena berani-beraninya dia nyuri ayam tetangga. Sampai-sampai ada lagu Rap Bugis yang berjudul "MALING AYAM" beredar di You Tube.


Terus ayamnya jengkel terus berkotek...Bok.....Bok......Botaaaak..... Bok...Bok.....Bok......Botaak!!! Terus ayamnya langsung dipotong oleh pemiliknya yang kebetulan kepalanya botak!! Abis ayamnya ngeledek sih

Berikut potongan liriknya :

Iko mato labe diyolo bolaku
Iko mato rempe'i bolaku
Iko mato ronda diyolo bolaku
Iko mato minnau manuku
Mia..mia lebu lebu sangka-sangka mende-mende
Batu...batu sigala-galana yako yeke cappu manuku
Niga malai.....Niga Malai
Lasinring malai gamalai gamalai
Lasinring malai gamalai gamalai

Mau nonton videonya lihat disini....!!!

video

Kamis, 11 November 2010

MAKASSAR 403 TAHUN

MAKASSAR 403 TAHUN
Geliat Peradaban Kota Maritim
Rabu, 10 November 2010 | 04:00 WIB

Tidak banyak kota di Tanah Air yang jantungnya bersentuhan langsung dengan bibir pantai. Sadar akan kentalnya nuansa pesisir, Kota Makassar yang pada 9 November ini berusia 403 tahun terus berbenah memantapkan diri sebagai pusat peradaban bercorak maritim.

Di tengah sulitnya mengikis stigma sebagai pusat demo mahasiswa yang kerap anarki, pembenahan kota setidaknya membawa dinamika bagi 1,5 juta jiwa penduduk setempat. Makassar kian diperhitungkan tidak sekadar sebagai ibu kota Provinsi Sulawesi Selatan, tetapi juga sebagai pusat pelayanan di kawasan timur Indonesia.

Daeng Nu’mang (46), warga Kota Makassar, kini tak lagi harus berutang untuk menyekolahkan dua putranya, Razak (9) dan Rasyid (7). Penghasilan dari menjual kepiting di tepi Jalan Metro Tanjung Bunga, Kota Makassar, mampu melepaskan diri dari jerat tengkulak di Tempat Pelelangan Ikan Rajawali.

Sejak tahun 2006, Nu’mang tinggal di rumah susun sederhana sewa (rusunawa) Mariso di Kelurahan Lette, Kecamatan Mariso. Kala itu, nelayan menjual kepiting kepada pengepul dengan harga Rp 10.000 per kilogram, jauh dari harga pasaran sebesar Rp 18.000 per kg.

Dengan hasil tangkapan rata-rata 7 kg sehari, suami dari Herawati (40) itu hanya mampu membawa pulang Rp 35.000 setelah dipotong biaya operasional. Ia pun terpaksa berutang guna membiayai anak-anaknya di SD Negeri Mariso I. Kondisi ekonominya mulai membaik saat jalan menuju Tanjung Bunga, yang terletak sekitar 100 meter dari rusunawa, diaspal dan diperlebar pada akhir 2007.

Pembenahan akses menuju Tanjung Bunga dan Barombong dilakukan setelah berdirinya pusat perbelanjaan baru Graha Tata Cemerlang. Frekuensi pengguna Jalan Metro Tanjung Bunga meningkat seiring dengan adanya gedung serba guna Celebes Convention Center (CCC) tahun 2008 dan wahana bermain dalam ruangan, Trans Studio, setahun kemudian.

Tujuan wajib

Pertumbuhan megaproyek di kawasan Tanjung Bunga membawa berkah bagi Nu’mang. Bermodal lapak sederhana dari kayu dan papan tripleks, dia dan istrinya menjual kepiting di tepi Jalan Metro Tanjung Bunga. Dalam sehari ia mampu menjual 10 kg kepiting seharga Rp 20.000 per kg. ”Kalau akhir pekan, kepiting yang terjual bisa sampai 15 kg,” tutur Nu’mang yang sejak enam bulan lalu mendapat tambahan pasokan kepiting dari dua rekannya.

Kehadiran sejumlah proyek di pesisir Pantai Losari hingga Tanjung Bunga juga membawa berkah bagi Syarifuddin (38). Selama setahun terakhir, penghasilannya dari persewaan bebek air terus meningkat. Pada hari biasa sekitar 20 pelanggan dari pukul 17.00 sampai pukul 20.00 Wita. Jumlah penyewa berlipat ganda saat hari libur.

Selain menikmati pesona matahari terbenam dan gemerlap cahaya kota pada malam hari, pelanggan juga kepincut dengan sensasi matahari terbit.

Kebijakan Pemerintah Kota Makassar mengeksploitasi kawasan pesisir pantai sejak tahun 2006 telah menggerakkan roda perekonomian daerah sekitarnya. Keberadaan sejumlah pusat perbelanjaan dan hotel membuat Pantai Losari menjadi daerah tujuan ”wajib” para wisatawan.

Wali Kota Makassar Ilham Arief Sirajuddin, mengatakan, penataan wilayah pesisir secara terintegrasi menjadi fokus pengembangan kota. Kebijakan itu diharapkan semakin mengukuhkan Makassar sebagai kota maritim. ”Pengembangan sektor jasa tetap menjadi prioritas karena hal itulah yang selama ini menjadi daya tarik Kota Makassar,” ungkap Ilham.

Kawasan wisata Trans Studio, Pantai Losari, dan Benteng Fort Rotterdam yang lokasinya berdekatan menyedot lebih dari 2 juta wisatawan hingga Oktober 2010.

(ASWIN RIZAL HARAHAP/NASRULLAH NARA)

Sumber dari milis : panyingkul@yahoogroups.com

Amanat Galunggung (Kropak 632); Ajaran Darmasiksa kepada Rahiyang Sanjaya

Amanat Galunggung (Kropak 632); Ajaran Darmasiksa kepada Rahiyang Sanjaya

Tim Wacana Nusantara

8 April 2010

Sebagai koleksi Perpustakaan Nasional Jakarta, naskah ini dikenal sebagai Kropak 632. Naskah yang dulu koleksi Masyarakat Batavia ini memuat ketatanegaraan Sunda zaman dahulu. Judul Amanat Galunggung diberikan oleh Saleh Danasasmita dkk (1987). Padahal kata amanat tak ditulis dalam teks (amanat merupakan kata Arab). Sebelumnya para ahli menyebutnya Naskah Kabuyutan Ciburuy di Bayongbong, Garut, Jawa Barat. Galunggung sendiri merupakan gunung berapi di wilayah Garut.

http://www.wacananusantara.org/images/peninggalan/artikel/Amanat%20Galunggung_1.JPG

Naskah Kabuyutan Ciburuy atau Amanat Galunggung

Naskah ini diperkirakan disusun pada abad ke-15, ditulis pada daun lontar dan nipah, menggunakan bahasa Sunda kuno dan aksara Sunda. Sayang, naskah ini tak bertarikh dan juga tak lengkap. Yang tersedia hanya enam helai daun. Dilihat dari penulisan kata-katanya, dapat ditafsir bahwa naskah ini lebih tua dari Sanghyang Siksakanda ng Karesian (1518 M) dan Carita Parahyangan (1580 M) yang ditulis pada abad ke-16. Dalam Amanat Galungggung ejaannya ditulis: kwalwat, gwareng, anwam, dan hamwa; yang di dalam Carita Parahyangan dieja: kolot, goreng, anom, dan hamo.

Naskah ini menarik perhatian Holle, Brandes, Pleyte, dan Poerbatjaraka. Pleyte menyebut naskah ini sebagai “pseudo-Padjadjaransche Kroniek”. Kemudian para sarjana Indonesia mengatakan bahwa data sejarah yang terkandung dalam bagian awal naskah sesungguhnya hanya merupakan pengantar ke arah fungsi teks sesungguhnya, yakni sebagai pelajaran keagamaan yang disampaikan Rakryan atau Rakeyan Darmasiksa. Pada 1981 tesk ini diterbitkan sebagai stensilan oleh Atja dan Danasasmita. Tahun 1987, Danasasmita dkk mempublikasikannya dalam bentuk buku.

http://www.wacananusantara.org/images/peninggalan/artikel/Amanat%20Galunggung_2.JPG

Karel Frederik Holle, seorang pemerhati sastra dan budaya Sunda asal Belanda, yang juga tertarik akan Naskah Kabuyutan Ciburuy.

Teksnya berisi tentang usaha Darmasiska dan orang-orang yang “membuka” wilayah Galungggung (nya nyusuk na Galungggung). Selebihnya teks ini berisi nasihat perihal budi pekerti yang disampaikan Rakyan Darmasiksa, Raja Kerajaan Sunda, yang duduk di Galunggung, kepada putranya, yakni Ragasuci atau Sang Lumahing Taman. Karena itu, sering pula naskah ini disebut Amanat Prabuguru Darmasiksa. Dari naskah ini diketahui peran kabuyutan, bukan hanya sebagai tempat pemujaan, melainkan dijadikan sebagai salah satu cara penopang integritas terhadap negara, sehingga tempat itu dilindungi dan disakralkan oleh raja.

Prabuguru Darmasiksa

Dalam Carita Parahyangan diceritakan, Darmasiksa (ada juga yang menyebutnya Prabu Sanghyang Wisnu) memerintah selama 150 tahun. Ada pun Naskah Wangsakerta menyebut angka 122 tahun, yakni tahun 1097 – 1219 Saka (1175 – 1297 M). Darmasiksa naik tahta setelah 16 tahun Prabu Jayabaya (1135 – 1159 M), penguasa Kediri-Jenggala tiada. Darmasiksa memiliki kesempatan menyaksikan lahirnya Kerajaan Majapahit (1293 M).

Menurut Pustaka Nusantara II/2, Prabuguru Darmasiksa pernah memberikan peupeujeuh (nasihat) kepada cucunya, yakni Wijaya, pendiri Majapahit, sebagai berikut:

Haywa ta sira kedo athawamerep ngalindih Bhumi Sunda mapan wus kinaliliran ring ki sanak ira dlaha yan ngku wus angemasi. Hetunya nagaramu wu agheng jaya santosa wruh ngawang kottman ri puyut kalisayan mwang jayacatrumu, ngke pinaka mahaprabhu. Ika hana ta daksina sakeng Hyang Tunggal mwang dumadi seratanya.

Ikang sayogyanya rajyaa Jawa rajya Sunda parasparopasarpana atuntunan tangan silih asih pantara ning padulur. Yatanyan tan pratibandeng nyakrawartti rajya sowangsong. Yatanyan siddha hitasukha. Yan rajya Sunda duhkantara. Wilwatika sakopayanya maweh caranya: mangkana juga rajya Sunda ring Wilwatika.

Inti dari nasihatnya adalah menjelaskan tentang larangan untuk tidak menyerang Sunda karena mereka bersaudara. Jika masing-masing memerintah sesuai dengan haknya maka akan mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang sempurna.

Perihal Prabu Darmasiksa memberikan wejangan kepada Sanjaya, Carita Parahyangan (CP) pun membeberkan hal tersebut. Dalam CP—yang sebagian besar isinya menceritakan kepahlawanan Sanjaya, raja Sunda di Pakuan dan Galuh di Jawa Barat dan pendiri Mataram Kuno di Jawa Tengah (sama dengan Pararaton yang menceritakan sepak terjang Ken Angrok)—disebutkan bahwa Patih Galuh menasihati agar Rahiyang Sanjaya mematuhi Sanghyang Darmasiksa.

Naskah ini memulai ceritanya dari alur Kerajaan Saunggalah I (Kuningan) yang diperkirakan telah ada pada awal abad 8 M. Secara politis, Saunggalah merupakan alternatif untuk menyelesaikan pembagian kekuasaan antara keturunan Wretikandayun, yaitu anak-anak Mandi Minyak dengan anak-anak Sempak Waja, Naskah ini menjelaskan sisi dan perkembangan keturunan Wretikandayun di luar Galuh.

Dari naskah Pustaka Pararatwan I Bhumi Jawadwipa, kita tahu bahwa nama Raja Saunggalah I bernama Resiguru Demunawan. Kedudukan sebagai penguasa di wilayah tersebut diberikan oleh ayahnya, yakni Sempak Waja, putra Wretikandayun pendiri Galuh. Resiguru Demunawan merupakan kakak kandung dari kakak kandung Purbasora, yang pernah menjadi raja di Galuh pada 716-732.

Demunawan memiliki keistimewaan dari saudara-saudara lainnya, baik sekandung maupun dari seluruh keturunan Kendan. Sekali pun tidak pernah menguasai Galuh secara fisik, namun ia mampu memperoleh gelar resi guru, sebuah gelar yang tidak sembarangan bisa didapat, sekali pun oleh raja-raja terkenal, tanpa memilik sifat ksatria minandita. Bahkan pasca Tarumanagara, gelar ini hanya diperoleh Resiguru Manikmaya, pendiri Kendan, Resiguru Darmasiksa, dan Resiguru Niskala Wastu Kancana raja di Kawali. Seorang raja bergelar resiguru diyakini telah mampu membuat sebuah ajaran (pandangan hidup) yang dijadikan acuan kehidupan masyarakatnya.

Prabuguru Darmasiksa pertama kali memerintah di Saunggalah I (persisnya di desa Ciherang, Kadugede, Kab. Kuningan), kemudian memindahkan ke Saunggalah 2, (Mangunreja, Tasikmalaya), selanjutnya menjadi raja Di Pakuan Pajajaran. Menurut teks Bujangga Manik (akhir abad ke- 15 atau awal abad ke-16), lokasi lahan tersebut terletak di daerah Tasik Selatan sebelah barat, bahkan kerajaan ini mampu mempertahankan kehadirannya setelah Pajajaran dan Galuh runtuh. Pada abad ke-18 nama kerajaan tersebut masih ada, namun setingkat kabupaten, dengan nama Kabupaten Galunggung, berpusat di Singaparna. Mungkin sebab inilah penduduk Kampung Naga Salawu di Tasik enggan menyebut Singaparna, tetap menyebut Galunggung untuk wilayah Singaparna.

Kemudian Darmasiksa diangkat menjadi Raja Sunda di Pakuan), sedangkan Saunggalah diserahkan kepada putranya, yakni Ragasuci alias Sang Lumahing Taman.

“Kesadaran Sejarah”

Berbeda dengan Carita Parahyangan yang jelas menceritakan perjalanan pemerintahan raja-raja kuno di Jawa Barat, Amanat Galunggung ini membeberkan ajaran moral dan aturan sosial yang harus dipatuhi oleh urang Sunda. Namun, dalam naskah Amanat Galunggung ini terdapat baris-baris kalimat yang menyatakan pentingnya masa lalu sebagai “tunggak” (tonggak) atau “tunggul” untuk masa berikutnya, maka dari itu seyogyanya generasi kini harus tetap menghormati nilai-nilai yang diwarisi generasi sebelumnya. Berikut petikan dan terjemaahannya:

Hana nguni hana mangke
tan hana nguni tan hana mangke
aya ma beuheula aya tu ayeuna
hanteu ma beuheula hanteu tu ayeuna
hana tunggak hana watang
tan hana tunggak tan hana watang
hana ma tunggulna aya tu catangna

(Ada dahulu ada sekarang
bila tidak ada dahulu tidak akan ada sekarang
karena ada masa silam maka ada masa kini
bila tidak ada masa silam tidak akan ada masa kini
ada tonggak tentu ada batang
bila tidak ada tonggak tidak akan ada batang
bila ada tunggulnya tentu ada catangnya)

Bagi masyarakat Sunda Kuno—juga Jawa dan etnis-etnis lain di Indonesia, terutama pada masa klasik (Hindu-Buddha)—“kesadaran sejarah” bukanlah kesadaran seseorang atau pun sekelompok orang terhadap peristiwa-peristiwa masa lalu di mana peristiwa-peristiwa tersebut harus ditentukan kebenarannya (secara ilmiah), melainkan kesadaran generasi mendatang terhadap nilai-nilai yang pernah ditanamkan oleh generasi sebelumnya. Hampir tak pernah ditemukan sebuah kronik sejarah—kecuali Nagarakretagama karya Prapanca—dalam bentuk pustaka di Indonesia yang memang bertujuan untuk mencatat peristiwa-persitiwa penting pada masanya beserta pencantuman tarikh-tarikhnya. Di Jawa Barat sendrir, kecuali Fragmen Carita Parahyangan dan Carita Parahyangan, naskah-naskah Sunda Kuno yang dihasilkan pada abad-abad ke-15 dan ke-16 hampir semua merupakan teks religius, pedoman moral, atau sejenis “sastra-jurnal” seperti Bujangga Manik. Memang dalam naskah-naskah pedoman moral itu dapat diketahui sejumlah aspek kehidupan sosial-ekonomi-budaya yang dapat dijadikan acuan sebagai “informasi sejarah”, namun hampir tak ada catatan-catatan mengenani peristiwa politik yang akan memuaskan para peniliti sejarah, kecuali peneliti filologi dan arkeologi.

Intisari Teks

Halaman 1

Prabu Darmasiksa menjelaskan tentang nama-nama raja leluhurnya. Ia memberikan amanat atau nasihat kepada: anak, cucu, umpi (turunan ke-3), cicip (ke-4), muning (ke-5), anggasantana (ke-6), kulasantana (ke-7), pretisantana (ke-8), wit wekas (ke-9, hilang jejak), sanak saudara, dan semuanya.

Halaman 2

Dijelaskan perlu mempunyai kewaspadaan akan kemungkinan dapat direbutnya kemuliaan (kewibawaan dan kekuasaan) serta kejayaan bangsa sendiri oleh orang asing.

Perilaku negatif yang dilarang: Jangan merasa diri yang paling benar, jaling jujur, paling lurus, Jangan menikah dengan saudara, jangan membunuh yang tidak berdosa, jangan merampas hak orang lain, jangan menyakiti orang yang tidak bersalah, jangan saling mencurigai.

Halaman 3

  1. Harus dijaga kemungkinan orang asing dapat merebut kabuyutan (tanah yang disakralkan).
  2. Siapa saja yang dapat menduduki tanah yang disakralkan (Galunggung), akan beroleh kesaktian, unggul perang, berjaya, bisa mewariskan kekayaan sampai turun temurun.
  3. Bila terjadi perang, pertahankanlah kabuyutan yang disucikan itu.
  4. Cegahlah kabuyutan (tanah yang disucikan) jangan sampai dikuasai orang asing.
  5. Lebih berharga kulit lasun (musang) yang berada di tempat sampah dari pada raja putra yang tidak bisa mempertahankan kabuyutan/tanah airnya.
  6. Jangan memarahi orang yang tidak bersalah, jangan tidak berbakti kepada leluhur yang telah mampu mempertahankan tanahnya (kabuyutannya) pada zamannya.

Halaman 4

  1. Hindarilah sikap tidak mengindahkan aturan, termasuk melanggar pantangan diri sendiri.
  2. Orang yang melanggar aturan, tidak tahu batas, tidak menyadari akan nasihat para leluhurnya, sulit untuk diobati sebab diserang musuh yang “halus”.
  3. Orang yang keras kepala, yaitu orang yang ingin menang sendiri, tidak mau mendengar nasihat ayah-bunda, tidak mengindahkan ajaran moral (patikrama) digambarkan sebagai pucuk alang-alang yang memenuhi tegal.

Halaman 5

  1. Orang yang mendengarkan nasihat leluhurnya akan tenteram hidupnya, berjaya.
  2. Orang yang tetap hati ibaratnya telah sampai di puncak gunung.
  3. Bila kita tidak saling bertengkar dan tidak merasa diri paling lurus dan paling benar, maka manusia di seluruh dunia akan tenteram, ibarat gunung yang tegak abadi, seperti telaga yang bening airnya; seperti kita kembali ke kampung halaman tempat berteduh.
  4. Peliharalah kesempurnaan agama, pegangan hidup kita semua.
  5. Jangan kosong (tidak mengetahui) dan jangan merasa bingung dengan ajaran keutamaan dari leluhur.
  6. Semua yang dinasihatkan ini adalah amanat dari Rakeyan Darmasiksa.

Halaman 6

Sang Raja Purana merasa bangga dengan ayahandanya (Rakeyan Darmasiksa), yang telah membuat ajaran/pegangan hidup yang lengkap dan sempurna. Bila ajaran Darmasiksa ini tetap dipelihara dan dilaksanakan maka akan terjadi:

  1. Raja pun akan tenteram dalam menjalankan tugasnya.
  2. Keluarga/tokoh masyarakat akan lancar mengumpulkan bahan makanan.
  3. Ahli strategi akan unggul perangnya.
  4. Pertanian akan subur.
  5. Panjang umur.
  6. Sang Rama (tokoh masyarakat) bertanggung jawab atas kemakmuran hidup; Sang Resi (cerdik pandai, berilmu), bertanggung jawab atas kesejahteraan; Sang Prabu (birokrat) bertanggung jawab atas kelancaran pemerintahan.

Perilaku yang dilarang, yakni: berebut kedudukan, berebut penghasilan, berebut hadiah.

Perilaku yang dianjurkan: bersama-sama mengerjakan kemuliaan, melalui perbuatan, ucapan, dan itikad yang bijaksana.

Halaman 7

Akan menjadi orang terhormat dan merasa senang bila mampu menegakkan ajaran/agama; akan menjadi orang terhormat bila dapat menghubungkan kasih sayang dengan sesama manusia. Itulah manusia yang mulia.

Dalam ajaran patikrama (etika), yang disebut bertapa itu adalah beramal melalui apa yang kita kerjakan. Buruk amalnya, buruk pula tapanya; amalnya sedang, sedang pula tapanya; sempurna amalnya/kerjanya, sempurna tapanya. Kita menjadi kaya karena kita bekerja, berhasil tapanya. Orang lainlah yang akan menilai pekerjaan/tapa kita.

Perilaku yang dianjurkan: perbuatan, ucapan, dan tekad harus bijaksana. Harus bersifat hakiki, bersungguh-sungguh, memikat hati, suka mengalah, murah senyum, berseri hati dan mantap bicara.

Perilaku yang dilarang: jangan berkata berteriak, menyindir-nyindir, menjelekkan sesama orang dan berbicara mengada-ada.

Halaman 8.

  1. Bila orang lain menyebut kerja kita jelek (bukan jelek fisik), yang harus disesali adalah diri kita sendiri.
  2. Tidak benar, karena takut dicela orang, lalu kita tidak bekerja/bertapa.
  3. Tidak benar pula bila kita berkeja hanya karena ingin dipuji orang.
  4. Orang yang mulia itu adalah yang sempurna amalnya, dia akan kaya karena hasil tapanya itu.
  5. Camkan ujaran para orangtua agar masuk surga di kahiyangan.
  6. Kejujuran dan kebenaran itu ada pada diri sendiri.
  7. Itulah yang disebut dengan “kita menyengaja berbuat baik”.

Perilaku yang dianjurkan: harus cekatan, terampil, tulus hati, rajin dan tekun, tangkas, bersemangat, perwira, teliti, penuh keutamaan, dan berani tampil. Yang dikatakan semua ini itulah yang disebut orang yang berhasil tapanya.

Halaman 9

Perlu diketahui bahwa yang mengisi neraka itu adalah manusia yang suka mengeluh karena malas beramal; banyak yang diinginkannya tetapi tidak tersedia di rumahnya, akhirnya meminta-minta kepada orang lain.

Arwah yang masuk ke neraka itu dalam tiga gelombang, berupa manusia yang pemalas, keras kepala, pander/bodoh, pemenung, pemalu, mudah tersinggung, selalu berdusta, bersungut-sungut, menggerutu, mudah bosan, segan mengalah, ambisius, mudah terpengaruh, mudah percaya padangan omongan orang lain, tidak teguh memegang amanat, sulit hati.

Halaman 10

  1. Orang pemalas tetapi banyak yang diinginkannya selalu akan meminta dikasihani orang lain. Itu sangat tercela.
  2. Orang pemalas seperti air di daun talas, plin-plan namanya. Jadilah dia manusia pengiri melihat keutamaan orang lain.
  3. Amal yang baik seperti ilmu padi makin lama makin merunduk karena penuh bernas.
    Bila setiap orang berilmu padi maka kehidupan masyarakat pun akan seperti itu.
    Janganlah meniru padi yang hampa, tengadah tapi tanpa isi.
  4. Jangan pula meniru padi rebah muda, hasilnya nihil, karena tidak dapat dipetik hasilnya.

Halaman 11

  1. Orang yang berwatak rendah, pasti tidak akan hidup lama.
  2. Sayangilah orang tua, oleh karena itu hati-hatilah dalam memilih istri, memilih hamba, agar hati orangtua tidak tersakiti.
  3. Bertanyalah kepada orang-orang tua tentang agama hukum para leluhur, agar hirup tidak tersesat.
  4. Ada dahulu (masa lampau) maka ada sekarang (masa kini), tidak akan ada masa sekarang kalau tidak ada masa yang terdahulu.
  5. Ada pokok (pohon) ada pula batangnya, tidak akan ada batang kalau tidak ada pokoknya.
  6. Bila ada tunggulnya maka tentu akan ada batang (catang)-nya.
  7. Ada jasa tentu ada anugerahnya. Tidak ada jasa tidak akan ada anugerahnya.
    Perbuatan yang berlebihan akan menjadi sia-sia.

Halaman 12

  1. Perbuatan yang berlebihan akan menjadi sia- sia, dan akhirnya sama saja dengan tidak beramal yang baik.
  2. Orang yang terlalu banyak keinginannya, ingin kaya sekaya-kayanya, tetapi tidak berkarya yang baik, maka keinginannya itu tidak akan tercapai.
  3. Ketidakpastian dan kesemerawutan keadaan dunia ini disebabkan karena salah perilaku dan salah tindak dari para orang terkemuka, penguasa, para cerdik pandai, para orang kaya; semuanya salah bertindak, termasuk para raja di seluruh dunia.
  4. Bila tidak mempunyai rumah/kekayaan yang banyak ya jangan beristri banyak.
  5. Bila tidak mampu berproses menjadi orang suci, ya jangan bertapa.

Halaman 13

  1. Keinginan tidak akan tercapai tanpa berkarya, tidak punya keterampilan, tidak rajin, rendah diri, merasa berbakat buruk. Itulah yang disebut hidup percuma saja.
  2. Tirulah wujudnya air di sungai, terus mengalir dalam alur yang dilaluinya. Itulah yang tidak sia-sia. Pusatkan perhatian kepa cita-cita yang diinginkan. Itulah yang disebut dengan kesempurnaan dan keindahan.
  3. Teguh semangat tidak mempedulikan hal-hal yang akan memengaruhi tujuan kita.
  4. Perhatian harus selalu tertuju/terfokus pada alur yang dituju.
  5. Senang akan keelokan/keindahan.
  6. Kuat pendirian tidak mudah terpengaruh.
  7. Jangan mendengarkan ucapan-ucapan yang buruk.
  8. Konsentrasikan perhatian pada cita-cita yang ingin dicapai.

Kepustakaan

Ayatrohaedi dkk. 1987. Sewaka Darma, Sanghiyang Siksa Kandang Karesian - Amanat Galunggung. Depdikbud.

Danasasmita, Saleh, dkk. 1983-1984. Rintisan Penelusuran Masa Silam Sejarah Jawa Barat. Pemerintah Propinsi Daerah Tk I. Jawa Barat.

Noorduyn J. dan A. Teeuw. 2009. Tiga Pustaka Sunda Kuna. Diterjemahkan oleh Hawe Setiawan. Jakarta: Pustaka Jaya.

Suryalaga, H.R.Hidayat. “Kuningan: Dengan Amanat Sewaka Darma dari Prabuguru Darmasiksa”, makalah yang disampaikan pada Sosialisasi Garapan Dinas Tataruang & Permukiman Prop. Jabar. Di Kab. Kuningan, 17-10-2003, dan pada Simposium Internasional Pernaskahan Nusantara VI (SIPN-VI) oleh MANASSA Cabang Bandung (Jawa Barat), 12-14 Agustus 2002 di Hotel Puri Khatulistiwa - Jatinangor – Sumedang dalam http://www.sundanet.com/?p=244&cpage=1#comment-69411 Dec 2004

www.nalaroza.wordpress.com

http://akibalangantrang.blogspot.com/2008/09/naskah-amanat-galungung.html 19 February 2010, diposkan Jumat, 05 September 2008, diambil 19 February 2010

http://www.wacananusantara.org/2/650/amanat-galunggung-%28kropak-632%29;-ajaran-darmasiksa-kepada-rahiyang-sanjaya